
“Haik, haik, haik, wakarimashita, Otou-sama!” Di ruang keluarga Dewantara, Airi berbicara lewat telepon genggamnya.
“Bagaimana Airi-san?” Tanya Kaiser. Seluruh keluarga itu pun turut menatap Airi.
“Tampaknya tidak salah lagi. Lu Tianfeng, Lu Meilan, dan Lu Xinting telah tewas dalam musibah tragis itu. Pelakunya adalah kedua kultivator yang dikirim untuk membunuhmu, Kaiser.” Jawab Airi dengan tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakannya sendiri.
“Mengapa bisa jadi seperti itu?” Tanya Pak Arkias penasaran.
“Aku juga kurang tahu, Paman.”
“Apakah itu berarti, Kaiser sudah aman?” Kali ini yang bertanya dengan penasaran adalah adik Pak Arkias, Pak Lucias.
Airi tampak ragu menjawabnya.
“Masih ada pembunuh berantai misterius itu. Kita tidak boleh lengah.”
Mendengar ucapan Pak Arkias itu, Pak Lucias dan Bu Nana kembali tak dapat menahan kecemasannya.
“Lantas apa yang harus kita lakukan, Kak?” Tanya Pak Lucias mencari harapan kepada kakaknya itu.
“Entahlah. Apapun itu, kita harus bersiap-siap karena Airi akan segera kembali ke keluarganya, perihal kontraknya denganku di luar dugaan lebih cepat berakhir dengan musibah terbunuhnya Lu Tianfeng tersebut.”
Pak Arkias menjawab pertanyaan adiknya itu, sayangnya dengan jawaban yang semakin membuat hati Pak Lucias gundah.
Pak Lucias memeluk putranya Kaiser erat-erat. “Aku tidak akan sanggup jika terjadi apa-apa padamu, putraku.”
“Tenang saja Ayah, kita akan sanggup melalui semua ini dengan baik. Lagipula pembunuh berantai itu mengincarku hanyalah sekadar spekulasi belaka. Jika dia mau, waktu aku bertemu dengannya di kompleks vila Senior Araka, dia pasti sudah turut membunuhku.”
Pak Lucias tetap memeluk putranya erat-erat dengan penuh kasih. Pak Lucias menangis. Bu Nana yang melihat adegan itu pun turut mengeluarkan air mata serta turut memeluk mereka berdua dengan lembut. Pak Arkias yang melihat hal itu, hanya dapat menunduk prihatin.
“Tenang saja, Paman Lucias. Aku baru saja menerima misi baru dari Otou-sama untuk melindungi Kaiser sampai masalah terhadap pembunuh berantai itu selesai.”
“Dari Tuan Besar Shinomiya Aizen? Tapi mengapa?” Tanya Pak Arkias keheranan.
“Itu aku juga kurang tahu. Di samping itu, Otou-sama juga menyuruhku untuk menjaga Dios.”
__ADS_1
Mendengar hal itu, Pak Arkias terkejut. Tidak hanya Pak Arkias, seluruh anggota keluarga yang lain pun demikian.
Kaiser, Agni, dan Shinomiya Airi kemudian berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Pak Salman seperti biasa. Namun, begitu meninggalkan pintu gerbang rumahnya, rombongan itu tiba-tiba dicegat oleh seorang pemuda.
“Hei, anak muda! Apa yang kamu lakukan?! Bahaya tahu!” Pak Salman marah karena pemuda yang tiba-tiba berdiri di depan mobil yang hendak melaju itu.
Pemuda itu, tidak lain adalah Lu Shou, anak pertama Lu Tianfeng dari istri keduanya.
“Pak Salman, biar aku yang tangani.”
“Tuan Muda, Anda mau ke mana?” Pak Salman hendak mencegat tuan mudanya untuk turun, tetapi setelah melihat aba-aba dari Agni untuk membiarkannya, dia pun patuh.
Kaiser lantas membuka pintu mobil dan keluar. Airi menyusul di belakangnya, sementara Agni lebih memilih untuk mempercayakan penjagaan tuan mudanya itu kepada Airi dan memutuskan untuk tetap di dalam mobil.
“Lu Shou, kamu baik-baik saja?” Tanya Kaiser pada Lu Shou.
Lu Shou dengan mata berkaca-kaca lantas memeluk erat Kaiser seraya menangis terisak-isak.
Kaiser lantas membelai rambut pemuda yang jauh lebih tinggi darinya itu. Kaiser kemudian berucap, “Lampiaskanlah segala emosimu dan jangan tahan lagi.”
Lu Shou pun menunduk. Menyembuyikan kepalanya yang bercucuran air mata di balik pundak Kaiser yang terlihat rapuh seraya meremas bahu Kaiser kuat-kuat.
“Tetapi, walaupun demikian, walaupun dengan ayah yang seperti itu, ketika aku mengetahui dia tewas secara tidak wajar, hatiku terasa sakit. Sangat sakit, Kaiser! Hei, apa yang harus kulakukan untuk meredam rasa sakit di hatiku ini?” Ujar Lu Shou dengan sedikit meninggikan suaranya.
Dia lantas menghempaskan tubuh Kaiser kuat-kuat yang namun tetap digenggamnya erat-erat.
Shinomiya Airi yang sedari tadi melongo karena tidak mengerti ucapan Lu Shou yang diucapkannya dalam bahasa China, terkaget dengan gerakan tiba-tiba Lu Shou.
“Hei.”
Dia kemudian membentaknya dan ingin segera melepaskan Kaiser dari jeratannya yang tampak kesakitan oleh genggaman tersebut. Namun, Kaiser mengangkat sebelah tangannya pertanda larangan untuk Airi turut turun tangan.
“Hei, Kaiser! Kamu benar-benar tidak terlibat dengan semua ini kan?! Jawab aku dengan jujur!”
Lu Shou kali ini membentak dengan suara yang sangat keras yang membuat Airi waspada. Kaiser lantas menatap tajam mata Lu Shou.
__ADS_1
“Aku sendiri tidak tahu.”
“Apa maksudnya semua itu?! Jadi benar kamu terlibat?! Mereka itu orang-orang suruhanmu?!”
Lu Shou mengguncangkan badan Kaiser kuat-kuat sehingga membuat ekspresi Kaiser agak sedikit mual. Agni pun memutuskan untuk turut turun mobil.
“Cukup sampai di situ, Tuan Lu Shou. Anda sudah kelewatan.” Ujar Agni dalam bahasa China yang fasih.
Sekali lagi Kaiser mengangkat sebelah tangannya yang juga melarang Agni untuk turut terlibat.
Dengan tatapan mata yang tetap tajam sambil menatap Lu Shou, Kaiser pun berkata, “Aku tidak tahu, tetapi aku sendiri tidak pernah sama sekali punya niat untuk melakukannya, apalagi sampai melakukan tindakan yang kejam seperti itu.”
Kaiser menunduk. Wajahnya berubah sendu. Diapun melanjutkan, “Hanya saja, di hatiku sempat tersirat perasaan untuk membunuhnya. Tanpa salah apa-apa padanya, dia mengirimkan begitu saja pembunuh bayaran kepadaku. Aku sempat ketakutan tentang musibah apa yang akan menimpa keluargaku karena perbuatannya. Jujur, sewaktu mendengar berita kematiannya, aku merasakan perasaan lega. Dengan begini, keluargaku bisa aman, pikirku.”
“Apa itu?” Lu Shou menatap keheranan atas ucapan Kaiser.
Kaiser pun menepis genggaman Lu Shou seraya berteriak marah, “Lantas salah jika aku berpikir seperti itu?! Aku bahkan sama sekali tidak punya niat untuk melakukannya. Aku hanya memikirkannya di pikiranku untuk menekan perasaan tersiksa di mentalku akibat perbuatannya!”
Kaiser tersungkur menangis. Lu Shou pun menggapai pundak yang rapuh itu. “Kaiser, kamu…?”
“Tidak hanya sekali atau dua kali. Tiap aku membenci seseorang dan memikirkan di hatiku untuk membunuhnya, orang-orang itu benar-benar meninggal. Hei, Lu Shou! Apakah itu benar-benar salahku?” Ujar Kaiser dengan terisak. Air mata bercucuran di pipinya.
“Tuan Muda, mana mungkin itu bisa menjadi salah Anda? Jika memikirkan sesuatu yang jahat adalah juga termasuk kejahatan, maka di dunia ini pasti tidak ada lagi orang yang baik.” Teriak Agni yang tampak tersakiti dengan ucapan sentimentil tuan mudanya itu.
“Mengapa sangat sulit untuk menekan rasa benci terhadap orang-orang yang berbuat jahat pada kita?”
“Tuan Muda, tenanglah!”
Agni pun turut menggapai pundak yang rapuh itu. Lu Shou yang melihat pemandangan itu hanya dapat terdiam. Dia jadi ragu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Ah, maafkan aku. Padahal aku tadinya hendak menghiburmu yang sedih, tetapi malah aku yang sentimental begini.”
Kaiser lantas menatap Lu Shou. Kali ini dengan wajah penuh senyum ala pangerannya.
“Semangatlah, Lu Shou! Akan ada selalu jalan di tengah kesulitan selama kita tidak pernah menyerah untuk mencarinya. Dan ketika kita menemukan jalan itu, kebahagiaan akan menanti kita di ujungnya. Adapun lika-liku jalan yang sulit itu hanya akan menjadi bahan tawaan kita di kala menikmati hari-hari kita yang indah itu di masa depan. Jadi, tetaplah semangat!”
__ADS_1
Ujar Kaiser dengan senyum ala pangerannya.