
Terlihat Jey sedang asyik mengaduk-aduk sup sayur yang sedang dimasaknya. Dia menggunakan tangan kirinya untuk menyendok kuahnya kemudian ditiup-tiupnya lalu menaruhnya sedikit di tangan kanannya setelah agak dingin.
Jey pun mencicipi sup sayur tersebut.
“Hmm. Enak! Ini pas sebagai kuah untuk menghangatkan badan setelah mabuk. Akan segera kuhidangkan buat Tuan Dirga. Tuan Dirga pasti sangat menyukainya.” Ujar Jey dengan senyum cerah di wajahnya.
“Hahahaha.” Sang Kakek pun tertawa melihat tingkah Jey yang agak imut menurutnya itu.
“Ngomong-ngomong Nak Jey, berapa lama kamu mengenal Tuan Dirga? Kalian pasti sangat dekat sampai-sampai dia yang merekomendasikanmu sendiri sebagai pramusaji VIP di bar kesayangannya ini.” Sang Kakek pun bertanya karena penasaran.
“Hmmm.” Jey mengangkat sedikit kepalanya, terlihat sedang berpikir.
“Kami tidak sengaja bertemu 6 bulan lalu dan tanpa sadar kami cepat dekat. Aku bilang padanya, aku sedang mencari pekerjaan dengan gaji yang layak dan dia langsung menawariku pekerjaan ini. Tetapi tampaknya untuk bekerja di sini, harus terdaftar dulu sebagai murid di padepokannya dan tahu dasar ilmu beladiri apapun itu, tetapi untungnya aku bisa. Jadilah aku menerima pekerjaan ini sekaligus terdaftar sebagai murid di padepokannya.”
“Nak Jey memang orang yang sangat supel. Wajar jika Nak Dirga bisa langsung suka dengan Nak Jey dan memberikan pekerjaan itu kepada Nak Jey.” Ujar Sang Kakek seraya tersenyum.
“Yah, tapi entahlah Kek. Agak nggak nyaman untuk bekerja hanya dengan mengenakan selapis CD dan boxer saja. Juga dengan kejadian Linda kemarin. Belum lagi, suasana latihan di padepokan. Aku baru sadar, rupanya pekerjaan ini cukup berbahaya. Yah, sesuai dengan gajinya sih.” Jey pun menjawab dengan senyum canggung di wajahnya.
“Kakek sendiri bagaimana? Apakah sudah lama bekerja sebagai bartender di bar ini?” Jey pun balik bertanya.
“Hmm. Kalau Kakek dulu sejak muda, sudah melayani keluarga Isnandar. Kebetulan Kakek yang merawat Pak Zulkifli Isnandar, ayah Nak Dirga, sejak Beliau masih bayi dulu bersama salah seorang pengasuh lain yang bernama almarhumah Bibi Jenny. Tetapi istri Beliau, Bu Zaky, tampak tidak menyukai Kakek dan meminta Tuan Besar untuk memecat Kakek setelah pernikahan mereka.”
Mungkin karena lelah mengobrol, Sang Kakek pun mengistirahatkan diri di kursi goyang yang tak jauh letaknya dari dapur tempat mereka berada yang jauh tersembunyi di dalam bar tersebut.
“Kalau diingat-ingat, hidup Kakek sangat sulit waktu itu. Usia Kakek saat itu sudah 50-an. Sangat sulit untuk mencari pekerjaan yang bersedia menerima orang yang telah renta. Untung Kakek mahir berbahasa Inggris sehingga Kakek bisa mencari nafkah dengan mengajar bahasa Inggris untuk anak sekolahan.”
Sang Kakek lantas mengambil sapu tangan peraknya di balik kantongnya, kemudian menyeka keringat di dahinya.
“Yah, tapi dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, sangat sulit untuk menjalankan bisnis les bahasa Inggris lagi. Syukurlah, mungkin karena kasihan dan masih mengingat jasa Kakek yang telah membesarkannya, begitu bar ini didirikan sembilan tahun lalu, Nak Zulkifli langsung menawarkan pekerjaan ini pada Kakek.” Ujar Sang Kakek dengan ekspresi penuh nostalgia di wajahnya.
Melihat ekspresi Sang Kakek, Jey pun menyambutnya dengan senyum yang hangat pula.
***
“Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini?!” Gumam Gegi dari balik selimutnya.
Antonio Gegistov yang dulunya populer, walaupun dia terbilang baru di dunia akting, mendadak sepi job dan dijauhi penggemar setelah skandalnya rasisnya bersama dengan Alicia dan Pak Sudarmin. Dia pun menjadi stres karena hal tersebut. Namun, ketimbang karena jobnya yang sepi, dia lebih stres karena para penggemar yang dulunya memujanya, kini balik menghujatnya.
__ADS_1
“Bukankah kalian sayang sama aku? Kalian cinta sama aku? Tetapi mengapa sekarang kalian malah menghina-hina aku di internet sebegininya?!” Gegi pun berteriak marah sambil melemparkan selimutnya.
Diapun berbaring miring sambil memeluk gulingnya dengan tetap memegang handphonenya di tangan kanannya.
“Semua ini salah Alicia! Tetapi mengapa semuanya juga turut menyalahkan aku?!” Ujarnya seraya menatap layar di ponselnya tersebut.
‘Seorang artis berinisial A.G. yang sangat ingin terkenal lantas mencari sensasi dengan berupaya untuk mencoreng nama baik seorang Tuan Muda pewaris perusahaan terkenal, berakhir dengan mempermalukan dirinya sendiri…’
“Traaak!” Gegi pun membanting ponselnya hingga retak berhamburan.
“Kenapa kalian menyalahkan aku?!” Gegi tak dapat menahan amarahnya.
“Hanya karena Alicia berkata seperti itu, bukan berarti apa yang kami ungkapkan adalah kebohongan. Padahal kukira ini adalah peluang yang baik untukku agar bisa meningkatkan popularitasku sekaligus menjatuhkan nama baik Kaiser sialan itu dengan memanfaatkan kesempatan ini, menghujatnya habis-habisan sebagai kriminal.” Gegi berujar dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat berantakan.
Saking pusingnya Gegi, diapun tak henti-hentinya memijat-mijat bagian dahinya. Dia lanjut berujar,
“Kami pun bahkan sudah membicarakan dalam rapat dengan baik-baik agar mengontrol ucapan kami agar semuanya sesuai fakta yang diketahui khalayak saja tanpa menuduh Kaiser secara langsung, tetapi dengan menggunakan kemampuan beraktingku untuk kemudian mengarahkan opini publik agar menyalahkan Kaiser sialan itu.”
Gigi-gigi Gegi bergemerisik. Dia tampak sangat murka.
“Tetapi Si Bodoh Alicia itu malah menyebut nama Kaiser terang-terangan bahkan sampai mengeluarkan pernyataan rasis seperti itu. Jangankan simpati publik, kini aku pun justru dicap sebagai artis yang rasis. Dan lebih sialnya lagi, itu sudah cukup untuk memutarbalikkan suasana di internet dan malah balik menyerangku dengan tuduhan menyebarkan kebohongan. Benar-benar sial!”
“Mengapa walaupun aku sudah menjadi artis terkenal, aku tetap tidak dapat mengalahkan karisma Kaiser sialan itu. Bukankah ini sama saja dengan waktu di SMP dulu? Apa gunanya kerja kerasku selama ini untuk membangun citraku?” Ujar Gegi lirih disertai dengan linangan air mata.
“Tuk tuk.”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Gegi berusaha tidak membuat suara apa-apa agar sang tamu akan mengira tidak ada orang di kamarnya dan segera pergi. Namun di luar dugaan Gegi, ketukan pintu semakin intens dan semakin kencang. Tamu itu ternyata tidak menyerah untuk memaksa Gegi keluar.
“Siapa di luar?! Berisik sekali! Aku sedang tidak ingin diganggu. Pergilah!” Teriak Gegi marah.
Tetapi sayangnya, hal itu tidak menghentikan suara ketukan pintunya, malahan bertambah intens.
“Siapa sih yang datang bertamu? Perasaan Kak Chiki hari ini minta libur.”
Karena kesal, Gegi pun beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuju ke depan pintu, tidak sabar untuk melabrak orang yang telah berbuat tidak sopan itu.
Dan Gegi pun membuka pintu. Tampak matanya terbelalak.
__ADS_1
“Kamu?” Ucap Gegi terkejut.
Orang yang di hadapannya itu lantas tersenyum. Matanya yang merah mengeluarkan cahaya merah.
“Yo, lama tak jumpa, pecundang!” Ujar orang itu.
Rupanya, dia tidak lain adalah Fahrul Prabuwija.
“Kamu, apa yang kamu lakukan di hotel agensiku?”
“Tentu saja bertamu. Aku khawatir dengan teman baikku setelah dibuli habis-habisan di internet. Nah, aku juga sudah izin baik-baik kok sama pihak manajemenmu.”
“Kamu, apa tujuanmu kemari? Bukannya kamu sama saja, pengikut setia Kaiser sialan itu!”
Mata Fahrul mendadak terlihat seram dan Gegi tersentak akan hal itu.
“Kamu belum sadar rupanya posisimu saat ini.” Ujar Fahrul dengan senyum menyeramkan di wajahnya.
Seketika asap merah keluar dari balik telapak tangannya dan menuju ke mata Gegi.
“Aakh!” Gegi lantas tersentak kesakitan seraya meringkukkan badannya dan memegang kelopak matanya yang kesakitan itu.
“Kamu? Apa yang sudah kamu lakukan?”
“Sesama anak sindrom pelangi, bukankah harus saling bahu-membahu? Bukannya malah bertengkar satu sama lain.” Ujar Fahrul tampak mengasihani tingkah bodoh Gegi.
“Ayolah, gabung bersama kami! Dengan Tuan Muda Kaiser menjadi pemimpin kita, dunia ini akan kita kuasai.” Ujar Fahrul dengan senyum bengis di wajahnya.
Mendengar ucapan Fahrul, Gegi pun tersentak. Dia tidak pernah menyangka bahwa rahasia yang dia pikir telah kedua orang tuanya termasuk dirinya sendiri sembunyikan dengan baik, akan terungkap seperti ini. Ya, Gegi, juga adalah seorang anak sindrom pelangi.
Gegi pun menengadahkan kepalanya, menatap wajah Fahrul. Tampak warna mata jingga cerah yang bersinar di kedua bola matanya setelah lensa mata yang dia gunakan untuk menutupinya, terbakar oleh asap panas milik kekuatan Fahrul.
“Kalian?” Ucap Gegi lirih dan Fahrul pun mengulurkan tangannya.
Seakan terhipnotis, Gegi meraih tangan Fahrul tersebut.
Seketika, gumpalan asap hitam terlihat di belakang Fahrul. Dari balik asap hitam tebal itu, muncul seseorang berambut panjang yang seluruh tubuhnya tertutupi oleh kabut hitam.
__ADS_1
“Selamat bergabung sebagai anggota kedua puluh perkumpulan kami, Antonio Gegistov!” Ucap sosok misterius itu dengan suara yang terdengar seperti seorang wanita.