
“Loki, lepaskan!” Teriak Andika yang ditahan oleh Loki di pintu masuk gedung yang hendak menolong sahabatnya itu.
“Pertama-tama, tenanglah sobat! Jika kamu ke sana sekarang, kamu hanya akan meregang nyawa. Dan itu pasti akan membuat Kaiser bertambah sedih.” Jawab Loki dengan tenang.
“Klotak, klotak, klotak.” Suara beberapa langkah sepatu pun terdengar dari arah belakang.
“Temanmu benar. Tidak ada yang dapat diperbuat oleh orang-orang lemah seperti kalian di situasi ini. Sebaiknya, kalian juga segera mengungsi. Para siswa lain juga telah meninggalkan sekolah ini melalui dua jalur pintu keluar lainnya.” Suara itu rupanya datang dari Fahrul Prabuwija.
Dia datang bersama 2 siswi lainnya.
Mendengar suara yang asing bagi mereka itu, Andika dan Loki serentak menatap Fahrul.
“Kamu sendiri siapa?” Tanya Loki.
Namun, alih-alih dia menjawab pertanyaan Loki, Fahrul hanya nampak terdiam dengan ekspresi rumit di wajahnya.
“Oh, dia Fahrul. Kami teman se-SMP. Kalau tidak salah, dia sekelas dulu dengan Kaiser.” Andika-lah yang menjawab pertanyaan Loki tersebut.
Andika lantas balik bertanya kepada Fahrul.
“Kamu sendiri? Apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa kalian tidak mengungsi?”
Tetapi sekali lagi, Fahrul tidak menjawab pertanyaan itu.
Fahrul sebenarnya sama sekali tidak bermaksud mengabaikan mereka. Mereka bertiga saat ini hanya sedang bertelepati dengan Number 1.
“Number 4, kamu memperingatkan anak-anak itu mengungsi, tetapi justru kamu sendiri, apa yang hendak kamu lakukan?” Tanya Number 1 kepada Fahrul.
“Bukankah itu sudah jelas? Aku ke sini untuk menyelamatkan Tuan Kaiser.”
“Dasar bodoh! Number 8 dan Number 9 saja yang jauh lebih hebat dari kalian tidak saya izinkan untuk menghadapinya. Apalagi kalian! Seorang petarung level F, seorang pendukung level E, dan apalagi kamu sendiri hanyalah tipe pendukung level F.” Mendengar jawaban Fahrul, Number 1 tidak dapat menahan kekesalannya.
“Lantas, bagaimana dengan nasib Tuan Muda? Jika kekuatan orang itu sehebat yang kamu katakan, Tuan Muda dan kawan-kawannya bukanlah tandingannya.” Dina pun turut mengemukakan pendapatnya.
“Setidaknya kami adalah seorang kultivator. Kami lebih dapat menghadapinya ketimbang Tuan Muda yang hanya orang biasa.” Giliran Finka yang kali ini berpendapat.
“Kalian tenang saja. Aku yakin Number 1 telah punya rencana yang lebih baik. Bukan begitu, Number 1?” Dari arah lantai 3 di dekat tangga, seorang siswi ikut dalam obrolan telepati mereka.
“Benar apa yang number 13 katakan. Number 2 telah menuju kemari untuk membantu Tuan Muda. Oleh karena itu, Number 4, Number 5, dan Number 10, ikutlah mundur bersama yang lain.
“Kalau itu Number 2 yang tipe petarung level C, dia pasti lebih dari cukup. Baik, kami akan mundur. Lantas, bagaimana dengan kedua orang yang sering bersama dengan Tuan Muda ini?” Fahrul akhirnya menyetujui untuk mundur. Tetapi, dia masih mengkhawatirkan Andika dan Loki yang juga masih ada di tempat itu.
“Aku yang akan menjaga mereka. Kalian mundur saja.” Number 1 pun menjawab.
__ADS_1
“Baiklah, Number 1.” Seraya mengatakan itu, Fahrul dan kawan-kawan pun menghentikan telepati mereka.
“Dina, Finka, ayo kita juga segera ikut mengungsi!”
“Baik.”
“Baik.”
Dina dan Finka pun menjawab serentak atas komando Fahrul tersebut. Mereka bertiga lalu berbalik arah meninggalkan Andika dan Loki di belakang.
“Hei, kalian…” Melihat Fahrul yang sedari tadi diam di tempat tanpa menjawab pertanyaannya tiba-tiba berbalik arah dan mundur bersama teman-temannya, membuat Andika tak dapat menahan keheranannya.
***
Sementara itu, sang bodyguard wanita, bodyguard pria paruh baya yang lebih muda, Kaiser, serta Wilda, dengan hati-hati mendekati Tirta yang terbaring di tanah. Sejak kehilangan pedang mainannya itu, Tirta nampak telah kehilangan kekuatannya sehingga mereka pun berniat untuk bergegas meringkusnya.
Namun, mereka masih waspada. Jangan sampai, itu semua hanyalah perangkap Tirta saja. Dan ternyata benar adanya. Ketika bodyguard wanita itu mendekat, tangan kanan Tirta seketika dilapisi cakra kuning yang jauh lebih tajam dari sebilah pisau tertajam. Dia pun menghampiri bodyguard wanita itu dan hendak menebasnya.
Untungnya, Kaiser sigap untuk segera mendorong wanita itu bersamanya sehingga terselamatkan dari serangan mematikan itu.
Tirta tertawa bengis. Dia menatap tajam ke arah Kaiser, tampak siap untuk menebasnya, tetapi,
“Wilda, menghindar!” Teriak Kaiser sekuat tenaga.
“Paaaak!”
Namun, sebelum Tirta berhasil mendaratkan serangan ke Wilda, bodyguard pria paruh baya yang lebih tua dengan cepat mendekat dan menghantam perut pembunuh sadis itu.
“Aaaaaakh!” Tirta pun muntah darah.
Tampak tawa mengejek datang dari bodyguard pria paruh baya yang lebih tua itu. Matanya hitam, tetapi mengeluarkan cahaya biru menyala. Rupanya, dia telah dikendalikan oleh kekuatan perasuk milik Number 2.
“Paman?” Tanya Kaiser keheranan.
“Mundurlah Tuan Muda. Serahkan sisanya padaku.” Jawab bodyguard pria itu yang tak lain adalah Number 2.
“Siapa kamu?” Kaiser dengan cepat dapat menyadari bahwa orang yang di hadapannya itu telah menjadi orang lain.
Number 2 pun tersenyum. Dia lantas berkata,
“Tentu saja aku bodyguard Tuan Muda. Justru sedari tadi aku seharusnya melakukan tugasku untuk melindungi Anda. Sekarang mundurlah bersama yang lain agar tak terluka. Anda pasti bisa merasakan kalau aku sekarang sangat kuat dan lebih dari cukup untuk menghadapinya.”
Kaiser lantas menatap mata bodyguard yang telah dirasuki Number 2 itu dalam-dalam.
__ADS_1
“Baiklah, aku paham. Kalau begitu, kamu jangan sampai terluka. Tetapi aku akan tetap stand by dalam jarak aman untuk jaga-jaga seandainya kamu butuh bantuan.
Number 2 hanya tersenyum dan mengangguk atas perkataan Kaiser. Dia lalu segera bergerak maju, menyerang pembunuh sadis di hadapannya itu.
Serangan pukulan dan tendangan bertubi-tubi dari segala penjuru pun dikerahkan oleh Number 2 kepada Tirta yang membuat Tirta tak berdaya.
“Aakk!” Tampak Tirta kehabisan nafas dengan ekspresi sangat kesakitan akibat serangan beruntun tersebut.
“Paaak! Buuuuk! Hiaaaat!” Namun Number 2 sama sekali tidak menaruh rasa kasihan padanya setelah apa yang dilakukannya pada Kaiser tersebut.
Tirta terhempas ke sana dan ke sini dan tampak sebentar lagi akan keok. Tetapi tanpa disadarinya, Number 2 justru membuat posisi mereka semakin dekat dengan posisi pintu masuk gedung di mana Andika dan Loki berada.
“Andika, ayo kita pergi. Dia semakin dekat kemari.” Bisik Loki kepada Andika dengan suara terkecil yang dia bisa.
“Tetapi, bagaimana dengan Kaiser?” Tetapi Andika tetap dalam kebodohannya.
“Kamu ini. Minimal, ayo sembunyi. Bagaimana kalau dia malah menangkap kita dan menjadikan kita sandra untuk membuat Kaiser menyerah.” Ucap Loki seraya menarik tangan Andika untuk bersembunyi di balik dinding.
***
“Hoh?” Desah sang pembunuh berantai joker hitam yang tampak keheranan akan suatu hal.
Rupanya dari kejauhan, sang pembunuh berantai joker hitam itu masih dapat mengawasi jalannya pertarungan di dalam sekolah melalui koneksinya dengan Tirta sambil bertarung melawan Airi.
“Apa-apaan orang itu? Dia dirasuki?” Ujarnya keheranan dengan masih tampak sibuk menghindari tentakel-tentakel cakra Airi sembari menebas-nebas tubuh utamanya ketika ada kesempatan.
“Ah, kalau tak salah…” sang pembunuh berantai joker hitam lantas mengingat kembali kata-kata Tirta beberapa waktu lalu.
...“Aku melihat semuanya di hari itu. Aku tahu bahwa kamu juga orang yang berkemampuan khusus sama sepertiku. Kamu bisa merasuki tubuh orang lain. Itu, tubuh orang yang kamu rasuki kan?”...
“Rupanya dialah yang membuat Tirta salah paham.” Ujarnya dengan seringai jahat di wajahnya.
“Biar sedikit kubantu kau.” Sekali lagi dia berujar dengan ekspresi jahat itu, kali ini disertai dengan jentikan jarinya.
“Apa? Aku tak dapat mempengaruhi aliran cakranya? Mana mungkin levelnya lebih tinggi dariku? Mana mungkin dia kultivator level C yang hanya ada 8 dari seluruh dunia itu?” Ujar sang pembunuh berantai disertai gerakan menghindar dan menebas-nya pada tentakel-tentakel Airi tersebut dengan masih tampak berupaya menjentik-jentikkan jarinya.
Kekuatan sang pembunuh berantai tak memberikan dampaknya pada Number 2. Setidaknya seperti itu sampai hal yang konyol itupun terjadi.
Number 2 dan Tirta semakin bergerak mendekati pintu masuk gedung. Sayangnya, yang jaraknya paling dekat dengan pintu masuk itu adalah justru Number 2.
Kekuatan Andika yang bahkan tak disadari oleh Andika sendiri, teraktifkan pengaruhnya kepada Number 2 yang berada pada jarak efektif kekuatannya tersebut. Kekuatan Number 2 pun tiba-tiba melemah karenanya.
Dalam sekejap, kekuatan pembunuh berantai joker hitam itu pun akhirnya mampu menyerang pikiran Number 2 yang berada di dalam kesadaran bodyguard pria paruh baya itu. Number 2 pun dengan segera terpental keluar dari kesadaran sang bodyguard.
__ADS_1