
“Kaiser? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Pak Arkias yang begitu memasuki ruangan hendak menjenguk Airi yang sakit, malah mendapati keponakan satu-satunya itu jatuh pingsan, tak dapat menahan kepanikannya dan berteriak cemas.
“Nak? Nak? Sayang, bagaimana ini?” Bu Nana pun turut menambah kepanikan di ruangan itu sembari memeluk erat putranya sambil menatap ke wajah suaminya dengan ekspresi cemas.
“Aku akan membawa Tuan Muda Kaiser ke ruang kosong di sebelah untuk diperiksa.” Agni kemudian dengan sigap menenangkan kepanikan lantas membawa Kaiser di ruang kosong satu-satunya yang tersisa di lantai itu di kamar 812.
“Lucias, Nana, kalian keluarlah awasi Kaiser. Kebetulan, ada sesuatu yang ingin aku obrolkan berdua dengan Airi.” Melihat adik dan istri adiknya itu kalang kabut perihal sangat cemas, Pak Arkias pun menepuk pundak mereka untuk menenangkan mereka lantaran menyuruh mereka berdua turut pergi mengawasi keadaan putra mereka yang menjadi objek kecemasan mereka itu.
Tinggallah di ruangan itu Airi, Pak Arkias, serta asisten setia Pak Arkias, Pak Astra.
Airi lantas menatap wajah kusut Pak Arkias seraya tersenyum.
“Om, bisa pinjam HP Anda sebentar? Aku perlu segera menghubungi keluargaku di Jepang. HP-ku rusak di pertarungan barusan.” Ujar Airi dengan suara letih perihal kondisinya yang belum terlalu baikan.
Pak Arkias segera menyerahkan HP-nya kepada Airi dan begitu menerima handphone tersebut, Airi serta-merta melakukan panggilan internasional ke Kyoto.
Airi tampak tiga kali mengulangi menekan nomor yang sama kemudian mencoba melakukan panggilan, tetapi setiap kali itu pula raut wajahnya menjadi kecewa begitu justru yang didengarnya adalah suara wanita operator telepon yang menyatakan nomor yang dituju tak dapat dijangkau.
Di percobaan keempatnya, dia akhirnya menekan nomor yang berbeda dan kali ini panggilannya segera tersambung.
“Moshi moshi. Kyoya Nii-sama, mengapa Otou-sama tidak menjawab teleponnya?”
Tetapi setelah mengatakan itu, Airi hanya terdiam lama sebelum akhirnya berucap,
“Haik, haik, wakarimashita Nii-sama.”
Setelah mengucapkan itu, Airi hanya segera menutup telepon itu tanpa mengatakan sepatah katapun perihal panggilan teleponnya, termasuk di saat Pak Arkias menanyakannya.
***
Malam pun tiba. Kaiser telah kembali pulang ke rumah sejak sore tadi setelah beristirahat cukup di rumah sakit. Dia saat ini sedang bersantai di kamarnya sembari menonton siaran televisi DTV.
“Insiden pembantaian untuk kedua kalinya di tahun ini terjadi di pusat kota Jakarta. Kali ini terjadi di SMA Angkasa Jaya di saat sekolah itu tepat akan melaksanakan ujian kenaikan kelasnya bagi siswa kelas 1 dan kelas 2 di hari pertama.
Pelakunya diidentifikasi bernama Tirta Wahyunusa, seorang anak konglomerat pemilik perusahaan yang bergerak di bidang kenotariatan yang berpusat di ibukota Jakarta dan memiliki 12 cabang yang tersebar di 12 provinsi berbeda di seluruh Indonesia yang tetap mempertahankan namanya sejak pertama berdirinya di tahun 2008, Firma F&Y.
__ADS_1
Setelah dilakukan penelusuran oleh tim terkait, diketahui bahwa Tirta juga-lah yang telah mengakhiri hidup kedua orang tuanya sendiri sewaktu mereka berwisata ke Swiss.
Sampai dengan saat ini, korban meninggal dari insiden tragis yang baru saja terjadi pagi itu tercatat sebanyak 37 korban jiwa, sementara 5 orang lainnya luka berat.
Korban yang meninggal terdiri dari 3 orang sekuriti sekolah dan 34 orang merupakan sukarelawan profesional pembantu polisi yang sebelumnya disewa atas permintaan Sudarmono Putrawardhani dalam rangka pengamanan cucunya Alicia Callista Putrawardhani yang sedang dalam masa pembebasan bersyaratnya untuk mengikuti ujian kenaikan kelasnya di sekolah tersebut.[18]
Diduga bahwa Tirta terkait dengan insiden pembunuhan berantai joker hitam yang marak terjadi belakangan di ibukota.”
Kaiser sedang menonton siaran TV itu, tetapi seolah pikirannya ke arah lain, perihal pandangan matanya yang kosong. Ataukah itu sebagai wujud shok-nya yang masih merasa bersalah karena keberadaannya di sekolah telah memancing pembunuh sadis seperti Tirta melakukan pembantaian di sekolahnya tersebut.
“Praaak!”
Kaiser yang sedang asyik bersantai, tiba-tiba dikagetkan oleh suara berisik yang terdengar dari teras lantai dua yang berhubungan langsung dengan kamarnya tersebut.
Kaiser pun dengan waspada mengamati keadaan di terasnya. Akhirnya, didapatinya-lah penyebab suara ribut itu. Seorang wanita bermuka bulat dengan tinggi 148 cm. Dialah Wilda.
“Wilda?” Ujar Kaiser begitu mendapati seorang wanita yang di kepalanya penuh dengan dedaunan serta pakaiannya yang acak-acakan terduduk dengan posisi seperti baru saja terjatuh di teras rumahnya itu.
“Tuan Muda. Hehehehe.” Mendengar namanya dipanggil oleh suara menawan Kaiser, Wilda lantas balik menyapa Kaiser dengan canggung seraya tertawa salah tingkah.
“Apa yang kamu lakukan di rumahku malam-malam begini?” Tanya Kaiser seraya mengulurkan tangannya untuk memapah Wilda berdiri kembali.
Tetapi Wilda tidak sempat memperhatikan uluran tangan itu karena fokus pada pakaiannya yang jadi acak-acakan karena memanjat pohon dan lompat langsung dari pohon itu ke teras di kamar Kaiser, sehingga dia malah berdiri sendiri sembari kedua tangannya menepuk-nepuk kaos dan roknya yang kumal untuk menghilangkan debu dan dedaunan yang menempel.
Wilda menatap Kaiser lantas tersenyum penuh arti.
“Aku ke sini untuk pamit kepada Tuan Muda.” Ujar Wilda dengan nada rendah.
“Apa maksudmu pamit? Kamu mau pergi ke suatu tempat? Kapan kamu akan balik? Kamu akan balik sebelum pelaksaan UAS yang ditunda sampai minggu depan itu kan?” Tanya Kaiser bertubi-tubi atas perkataan Wilda yang sangat mendadak itu.
Wilda menggelengkan kepalanya.
“Tidak Tuan Muda. Aku takkan kembali lagi ke kota ini?”
Kaiser seketika terdiam shok. Dia sejenak tak mampu berkata apa-apa.
“Kenapa? Apa karena kejadian barusan?” Lirih Kaiser sedih.
__ADS_1
Rupanya di pikirannya, Kaiser menganggap bahwa kejadian tadi pagi di sekolah telah membuat Wilda sebegitu shoknya sampai-sampai membuatnya ingin segera pindah sekolah.
Dan jika demikian, ini adalah salahnya yang menjadi penyebab wanita lugu itu menyaksikan kejadian traumatis yang mungkin seumur hidup takkan mampu untuk dilupakannya perihal secara tidak langsung, karena dirinya-lah, Tirta datang ke sekolah dan melakukan pembantaian sadis tersebut.
Sekali lagi Wilda menggelengkan kepalanya.
“Maafkan aku, Wilda. Seandainya kamu tidak pernah mengenalku, kamu tidak akan pernah mengalami hal yang demikian…”
Belum sempat Kaiser menyelesaikan ucapannya, Wilda segera mengarahkan jari telunjuknya secara vertikal ke mulut Kaiser untuk menghentikan pemuda naif itu terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.
“Justru berkat Tuan Muda-lah, aku bisa merasakan dan mengenal banyak hal indah yang sebelumnya bahkan tak bisa kubayangkan. Itu memang benar bahwa kejadian barusan-lah pemicu aku harus pindah. Tapi Tuan Muda salah paham. Bukannya aku takut dengan pembunuh sadis itu, melainkan aku harus segera melarikan diri dari sesuatu.”
“Wuuuuuuh.” Wilda kemudian menarik nafas dalam-dalam kemudian mengembuskannya dalam satu kali embusan.
“Sebagai seorang kelinci percobaan, aku senantiasa dikurung dalam jeruji besi di dalam kolong yang gelap. Aku hanya bisa keluar dari tempat itu ketika mengikuti uji eksperimen saja.”
"Kelinci percobaan? Uji eksperimen? Apa maksud kamu, Wilda?” Mendengar ucapan Wilda yang terasa tak masuk akal itu, Kaiser yang penasaran pun bertanya.
“Benar. Tuan Muda tidak salah dengar kok. Aku dulunya hanya seorang kelinci percobaan yang posisinya lebih rendah dari budak. Bahkan aku sama sekali tidak dianggap manusia, tidak ubahnya seperti binatang. Nama saja aku tak punya.”
Ujar Wilda seraya memalingkan wajahnya dari Kaiser, menatap pemandangan malam di halaman rumah Kaiser yang penuh bunga tetapi tampak suram baginya kala itu walaupun dengan lampu-lampu taman yang benderang. Ekspresi wajahnya dipenuhi kerumitan. Dia tampak malu mengakui asal-usulnya tersebut kepada sang idola.
“Tidak punya nama? Bukankah namamu Wilda?” Kaiser semakin bertambah penasaran.
Wilda lantas melangkahkan kakinya mendekat ke jendela yang tampak kusam terkena embun itu. Dia lalu mengembuskan nafas dengan mulut yang menganga ke kaca tersebut yang membuat titik-titik air di kaca jendela bertambah tebal. Dia lantas tampak menuliskan sesuatu dengan ujung jarinya pada kaca jendela yang dipenuhi titik-titik air tersebut.
“Nama itu sekadar nama yang tanpa sengaja diberikan oleh Kakek yang menyelamatkanku dalam pelarianku di Suriah dari para iblis itu.”
Wilda menjawab, namun tampak Kaiser masih kebingungan atasnya.
“Kakek salah dalam membacanya. Itu sebenarnya adalah kode produksiku sebagai barang dagangan sekali pakai. Itu karena mereka mencap produk mereka dengan timah panas sewaktu para kelinci percobaan yang dibeli digantung telanjang dengan posisi kaki terikat di atas dan kepala di bawah. Makanya tato yang dihasilkan jadinya terbalik. Jadi, sebenarnya Kakek terbalik sewaktu membaca tulisan itu. Yang benar,”
Wilda tampak sekali lagi menuliskan sesuatu di kaca.
__ADS_1
“********71miu, itulah kode produksiku sebagai kelinci percobaan siap pakai.” Ujar Wilda dengan tampak kesuraman dari balik ekspresinya.
NB: [18] Ini cerita versi TV-nya ya yang terbit setelah campur tangan Pak Arkias, makanya agak sedikit berbeda dari yang sebenarnya.