DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
114. Surat Ancaman kepada Danial dari Seseorang yang Mengaku sebagai Kakak Dios


__ADS_3

Di hari minggu itu, tepat sehari sebelum dimulainya ujian kenaikan kelas bagi Kaiser di sekolahnya.  Kaiser justru menghabiskan sebagian besar waktunya bersama dengan kakak sepupunya itu.


Danial yang sebelumnya kambuh traumanya, akhirnya berhasil ditenangkan oleh Kaiser.  Kaiser lantas kembali mengantar kakak sepupunya itu ke kamarnya dengan didampingi oleh Airi.  Terlihat Agni ikut mengekor di belakang mereka.


Kaiser pun memandu Danial untuk beristirahat di tempat tidurnya dan diapun segera beranjak hendak pergi.  Namun, ketika Kaiser akan beranjak pergi, Danial menggapai belakang baju adik sepupunya itu.


Kaiser pun kembali menoleh ke belakang, menatap wajah kakak sepupunya itu.  Terlihat Danial menunjukkan ekspresi mata yang berkaca-kaca bagaikan seekor anak anjing yang tak ingin ditinggal pergi oleh majikannya.


Kaiser pun menghela nafas seraya tersenyum.


“Kakak masih mau main dengan Adek?”  Ujar Kaiser.


Danial pun lantas menganggukkan kepala terhadap pertanyaan adik sepupunya itu dengan ekspresi merajuk.  Kaiser pun tersenyum seraya mengusap kepala kakak sepupunya itu.


Di saat itulah Agni masuk di antara percakapan mereka.


“Tuan Muda, Anda tidak bisa begini.  Anda harus segera pulang ke rumah untuk mempersiapkan ujian akhir semester Anda besok.”  Ucap Agni dengan tegas kepada Kaiser.


Kaiser sekali lagi menghela nafas.


“Siapa yang bisa fokus belajar dengan banyaknya kejadian yang terjadi di sekitarku belakangan ini?”


“Biarlah, Agni-san.  Khusus hari ini, berilah kelonggaran sedikit pada Kaiser-kun dalam belajar.  Seseorang juga tidak bisa optimal belajar dalam kondisi stres.  Menurutku, apa yang paling dibutuhkan Kaiser-kun saat ini adalah bersantai.  Bukankah Kaiser-kun itu pintar jadi rasanya Agni-san tidak perlu khawatir?”  Airi pun ikut berkomentar.


“Justru itu sebabnya, Airi.  Tuan Muda harus mampu mempertahankan peringkat satu umumnya di semester kemarin.”  Agni tidak mau kalah.


“Memangnya apa gunanya semua peringkat itu?  Bukankah semua itu hanya angka-angka?”  Balas Airi yang juga ikut tidak mau kalah.

__ADS_1


Kaiser pun segera menengahi perselisihan mereka.


“Sudah.  Sudah.  Aku akan melakukannya nanti, Agni.  Untuk saat ini, biarlah aku bermain sebentar dengan Kak Danial, lalu mengunjungi Dios sebelum pulang.”  Ujar Kaiser seraya tersenyum canggung.


Kali ini, Agni yang menghela nafas.


“Baiklah, jika itu keinginan Tuan Muda.”


Dan akhirnya, Kaiser pun bermain sekitar 30 menit lagi bersama kakak sepupunya itu sebelum meninggalkan ruangan.


Tanpa diketahui Kaiser dan Airi, tampak Agni menatap Danial dengan wajah penuh raut kebencian dan merendahkan.  Danial menyadari tatapannya itu, tetapi hanya dapat memalingkan wajah dengan ketakutan.  Dia tidak ingin adik sepupunya itu ikut menyadarinya sehingga dapat merusak suasana bahagia itu.


Setelah sekitar 30 menit berlalu, Kaiser, Airi, dan Agni pun meninggalkan ruangan Danial.  Terdengar mereka bercengkerama sebentar dengan Bu Suster yang merawat Danial di luar pintu masuk.  Di saat itulah, Danial meraih selembar kertas yang berada di bawah bantalnya.  Rupanya itu sepucuk surat.  Diapun membacanya.


...Hai Danial, kamu pikir sampai kapan kamu bisa bersembunyi seperti itu? Kamu tentu tidak lupa kan, akibat perbuatanmu, satu-satunya keluargaku, adikku yang paling berharga, harus menderita koma?  Bukankah sudah waktunya bangun dari kenyataan dan mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu, wahai as-ku?...


...Kakak Dios...


Setelah membaca surat itu, Danial meringis frustasi.  Terlihat tatapan tajam dari mata birunya yang cerah yang tak biasanya darinya yang selalu dalam ekspresi bodohnya layaknya orang gangguan mental.  Dia tidak terlihat kaget perihal surat itu, seperti dia telah pernah mendapatkan hal yang serupa sebelumnya.


Danial pun mengucek-ucek surat itu.  Tiba-tiba, tangannya terasa panas.  Rupanya, surat di tangannya itu tengah terbakar dan melukainya.  Dalam sekejap, surat itu telah hilang tidak berbekas.


Sang Suster yang merawat Danial pun kembali masuk ke kamar Danial setelah bercengkerama sebentar dengan rombongan Kaiser.  Seketika itu, Sang Suster langsung panik mendapati tangan Danial yang lecet.  Sang Suster pun bergegas mengobatinya.


***


Di malam yang sama, Shiratori Kaori duduk di jendela lantai 2 kamarnya sambil menenggak sebotol sake di tangannya.

__ADS_1


“Kazuki, anakku sayang.  Di mana sebenarnya kamu berada?”  Ujar Kaori dalam keadaan setengah mabuk.


Diapun kembali mengingat kejadian sekitar 22 tahun silam.


Kala itu, Kakak Kaori yang waktu itu masih bernama Shiratori Kana telah menjalin hubungan diam-diam dengan tuan muda pertama di keluarga yang mereka layani tersebut, Keluarga Shinomiya.  Tuan muda itu tidak lain adalah Shinomiya Aizen.  Tetapi Kana sama sekali tidak menginginkan hubungan intim sebelum Aizen sah menjadi suaminya.


Suatu hari, Kaori memasuki kamar Aizen yang sedang mabuk.  Di ruangan yang gelap itu, ditambah dalam kondisinya yang mabuk berat, Aizen pun salah mengira bahwa Kaori adalah Kana yang memang sangat mirip dengan kakaknya tersebut.


Di dalam kondisi syahwat yang menggebu-gebu itu, di kala Aizen sangat menantikan hubungan intim dengan Kana, tetapi belum bisa mempersuntingnya karena ada aturan keluarga yang melarang mempersunting selir sebelum adanya istri sah pertama, Kaori datang dengan sosok yang sangat mirip dengan kekasih yang sangat dicintainya itu.


Tanpa basa-basi, Aizen pun segera menyeret Kaori ke ranjangnya dan melepaskan pakaiannya.  Padahal Kaori adalah seorang ninja petarung yang hebat yang berbeda dari kakaknya yang dibesarkan sebagai geisha, tetapi dia sama sekali tidak melawan.  Hal itu karena sebenarnya di dalam hatinya, Kaori juga sangat mencintai kekasih kakaknya itu.


Jadilah malam itu, mereka berhubungan intim dengan panas.  Naasnya, keesokan harinya ketika Aizen bangun dan telah sembuh dari mabuknya, Aizen sama sekali melupakan semua kejadian semalam.


Seakan telah memprediksi hal itu, Kaori yang lebih dulu bangun, segera membersihkan segala bekas hubungan intim mereka sehingga ketika Aizen terbangun, dia sama sekali tidak mendapati sedikitpun tanda-tanda yang aneh di ranjangnya seolah memang tidak pernah terjadi apa-apa semalam.


Hanya Kaori-lah yang mengingat semua kejadian itu.  Ini tentu akan menjadi kenangan yang indah bagi Kaori, memenuhi hasratnya berhubungan intim dengan orang yang sangat dicintainya tanpa akan menyakiti siapa-siapa, terutama kakak yang sangat disayanginya itu.  Tetapi di luar dugaan, tiga bulan sejak kejadian itu, Kaori mendapati dirinya telah positif hamil.


Setelah mengetahui kehamilannya, Kaori pun segera berbohong kepada klannya termasuk kakaknya Kana, untuk cuti sementara ke kampung halamannya di Indonesia dengan alasan kerinduan kampung halaman sebelum ada orang lain yang menyadari perihal kehamilannya itu.


Tetapi, sekitar 4 bulan setelah kepergiannya, Kaori belum juga berkeinginan untuk balik.  Akhirnya, Kana pun memutuskan untuk turut menyusul ke sana tanpa sepengetahuan Kaori untuk memberikan surprise kepada adiknya itu.  Di situlah akhirnya mereka menyadari bahwa Kaori telah menghilang.  Tidak, tepatnya sengaja melarikan diri.


Selama ini, Kana masih dapat menghubungi Kaori lewat telepon, tetapi begitu dia mengetahui bahwa Kana telah mengetahui bahwa dirinya tidak berada di kampung halamannya itu, Kaori mendadak tidak dapat dihubungi lagi.


Akhirnya, Kana dan klannya pun berupaya mati-matian untuk mencari Kaori, takut jika saja seandainya ada apa-apa terjadi padanya.  Tetapi, setelah hampir 3 bulan pencariannya yang tiba-tiba saja tidak ada kabar itu, Kaori yang terlihat sama seperti biasa sebelum dia menghilang, kembali ke klannya dengan kakinya sendiri.


Sayangnya, Kaori menutup mulutnya rapat-rapat dari klannya mengenai kemana perginya selama menghilang seberapapun klannya itu memaksanya untuk membuka mulut.  Karena iba padanya dan mereka juga yakin bahwa pasti ada alasan tersendiri yang tak dapat dikatakannya sehingga Kaori merahasiakannya, Kana beserta klannya pun memutuskan untuk tidak berupaya mencari tahu lagi.

__ADS_1


__ADS_2