
“Bagaimana kata anak itu, Kapten Maya? Dia mau datang kan?” Tanya Alena pada kaptennya begitu sang kapten selesai dalam panggilan teleponnya.
“Iya, dia katanya akan datang sebentar lagi.” Jawab Kapten Maya dengan ekspresi lemas di wajahnya.
“Syukurlah kalau dia mau datang. Semoga saja kali ini kita memperolah jackpot dari kejadian ini.” Ujar Alena lega setelah mendengar jawaban kaptennya.
Alena lantas menoleh ke arah sang kapten lantas menatap serius wajah kaptennya tersebut.
“Tapi, luar biasa bahwa ada penjahat yang berani masuk ke sini dan merencanakan pembunuhan tahanan, bukannya malah membunuhnya langsung.” Ujar Alena dengan tampak antusias.
“Borgol itu. Itu jelas-jelas adalah benda spiritual yang dimodifikasi dengan cakra liar sehingga bagai bom waktu yang dapat meledak pada waktu tertentu. Tetapi siapa yang bisa membuat benda seperti itu? Bahkan kultivator teknisi terbaik kita tak mampu membuat hal yang seperti itu.”
“Dia menggunakan cakra dasar berupa air kemudian membuat cakra Tirta yang berelemen listrik mengalir sedikit demi sedikit dan merubah sifat cakra itu menjadi api yang segera menyatu dengan cakra yang masih berelemen air. Dan inilah dasar timbulnya ledakan. Hmm, menarik. Ini bisa dijadikan data eksperimen.”
Kapten Maya tampak begitu shok dengan kepandaian dan kelihaian pelaku, tetapi Alena malah terpukau dengan pengetahuan baru yang diperolehnya dari pelaku tersebut yang bisa menjadi bahan risetnya.
“Tetapi yang bikin aku heran adalah mengapa tulisan yang ditinggalkan Tirta, bukannya tentang identitas pembunuhnya, melainkan korban selanjutnya pemubunuh berantai joker hitam? Apa ini bisa dipercaya, Kapten? Jangan-jangan, ini hanya sekadar asumsi Tirta saja?” Ujar Alena melanjutkan seraya menyaksikan foto TKP melalui layar komputernya.
Di foto, terlihat tulisan yang sedikit terkena hangus, namun masih dapat terbaca dengan baik.
...KORBAN...
...SELANJUTNYA...
...DIRGA...
“Tidak salah lagi, pelaku yang menyelinap adalah pembunuh berantai joker hitam, apalagi dengan adanya ukiran 3 skop bersilang di borgol tersebut. Namun, mengenai identitas korban selanjutnya itu, bisa saja Tirta menuliskannya di bawah pengaruh hipnotis jika melihat keanehan para sipir tahanan kemarin sehingga kita bisa menganggapnya sebagai pesan pembunuh berantai itu. Alena, apa kamu sudah menyelidiki identitas Marjono dengan seksama.”
Kapten Maya pun melontarkan pertanyaannya kepada Alena dan Alena menjawab demikian,
__ADS_1
...###...
Marjono. Lahir di Bandung, tanggal 2 Januari 2001. Ayahnya meninggal karena mengalami kecelakaan mobil di Malaysia sewaktu dia masih di dalam kandungan sehingga ibunya harus membesarkannya seorang diri.
Namun, dia kebanyakan dirawat oleh kakek dan neneknya di Jakarta karena ibunya harus kerja di Malaysia sebagai desainer dan pemilik butik yang cukup sukses di sana. Namun, ketika dia berusia 12 tahun, ibunya juga meninggal dunia dengan alasan yang sama dengan ayahnya.
Menurut teman-temannya, di saat itulah Marjono mulai berkarakter pendiam. Menjelang usianya 15 tahun, secara berturut-turut di tahun yang sama di bulan yang berdekatan, kakek dan akhirnya neneknya juga turut meninggal. Di saat nenek sebagai keluarga terakhirnya itu meninggal-lah, Marjono akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah di kelas 3 SMA-nya dan kembali ke kampung halaman ibunya di Bandung.
Tetapi berselang 9 bulan kemudian, dia kembali ke Jakarta, tetapi dia justru tinggal jauh dari tempat tinggalnya yang dulu bersama kakek dan neneknya tersebut.
...###...
“Tetapi ini yang bikin shok, Kapten Maya.” Alena melanjutkan perkataannya dengan ekspresi yang lebih serius.
“Dari beberapa temannya yang kuhubungi, yakni temannya sebelum neneknya meninggal, serta teman-teman barunya di tempat kerjanya pascapengasingannya setelah kematian neneknya, karakternya berubah 180 derajat dari pendiam menjadi karakter supel dan enak untuk diajak ngobrol.” Ujar Alena kembali sambil memelototkan matanya pertanda serius.
“Kapan perubahan itu terjadi?” Kapten Maya pun bertanya.
“Kalau begitu, itu artinya tidak bisa dijadikan referensi karena kecelakaan Dios terjadi sekitar 2 – 3 tahun yang lalu. Mustahil jika pembunuh berantai joker hitam mengambil identitas Marjono bahkan sebelum kecelakaan Dios terjadi.”
“Apa sudah dikonfirmasikan bahwa motif pembunuhan karena dendam yang berhubungan dengan Dios?” Alena pun segera menegaskan hal penting yang terluputkan dari analisis Kapten Maya tersebut.
“Kamu benar juga. Bukan berarti pembunuh berantai itu pernah bilang langsung ke kita.” Dan Kapten Maya benar-benar memahami hal tersebut.
“Bisa juga dia menyamar demi tujuan lain lalu belakangan memutuskan untuk membalas dendam atau bisa juga…” Seraya mengucapkan itu, Alena terdiam sejenak lantas menatap mata kaptennya.
“Dia tidak bersalah.” Jawab Alena tegas.
“Ya, jika kita mengamatinya lagi, tidak ada yang aneh dari jejak rekam orang ini. Seluruh riwayat hidupnya jelas dan lengkap tanpa pemalsuan yang bisa dibuktikan oleh tetangga-tetangganya di sekitar. Kecuali perubahan sikapnya tiba-tiba lima tahun lalu. Tetapi bukankah itu wajar? Terkadang, orang yang terlalu tertekan mentalnya, bisa memiliki perubahan sikap mendadak.”
__ADS_1
Alena lantas menyandarkan dirinya di sandaran kursi seraya akhirnya melepaskan tangannya dari mouse komputernya yang selama ini selalu digenggamnya.
“Tapi yah, normalnya sih orang yang seperti itu berubah dari ceria menjadi pendiam, dan bukan sebaliknya. Tetapi mengingat dia dulu sempat menjadi anak yang aktif sebelum jadi pendiam semenjak kematian ibunya, bisa saja dia hanya mengalami shok yang menyebabkannya akhirnya menganggap kematian adalah hal yang wajar setelah kepergian neneknya dan memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi dengan berusaha ceria.”
“Kamu benar juga, tapi…” Ujar Kapten Maya begitu mendengar analisa dari anak buahnya tersebut.
“Lagipula, Kapten? Bisakah kita mempercayai anak yang bernama Kaiser itu? Jangan-jangan, dia berkata seperti itu kepada Kapten untuk membuyarkan arah penyelidikan. Kebetulan aku mendapatkan rekaman video ini di internet sebelum terhapus.”
Ujar Alena seraya memutar video untuk diperlihatkan ke Kapten Maya yang mempertontonkan bagaimana dulu Kaiser melewati tembok setinggi 4 meter sekolahnya itu dengan melompatinya secara santainya.
“Anak ini cukup lincah. Dia mahir berpedang dan dia juga berhasil bertahan dari serangan ganas Tirta. Dia mungkin memiliki kualifikasi untuk menjadi pembunuh berantai joker hitam.” Sekali lagi Alena berujar, tetapi kali ini dengan sesuatu yang mencengangkan.
“Anak itu? Itu tidak mungkin.” Tetapi Kapten Maya segera membantah pernyataan tersebut.
“Ya, benar. Itu tidak mungkin. Kaiser bukan orang jahat yang tega melakukan sesuatu seperti itu.”
Tiba-tiba, suara yang tidak asing lagi terdengar dari arah belakang mereka berdua. Dialah Lokriatul Wijayakusuma.
“Akhirnya kamu datang, Dik Loki.” Alena pun segera menyambut pemuda yang dia panggilnya Loki itu seraya tersenyum ramah.
“Aku bisa mengerti mengapa banyak yang terkadang mencurigai Kaiser segala macam hal karena bagi yang pertama kali mengenal bocah itu, ada vibe aneh yang menyebabkan kita merasa bahwa seolah sosok kita begitu inferior di hadapannya. Terlebih banyak adegan dari drama-drama korea belakangan ini yang sering menggambarkan sosok psikopat sebagai sosok yang terlihat polos dan ramah di luar.”
“Hah.” Loki pun menghela nafas.
“Adegan-adegan seperti itu telah banyak menghipnotis setiap orang sehingga menanamkan di benak mereka bahwa tidak ada sosok yang betul-betul baik luar dan dalam secara sempurna. Jika orang yang begitu telihat sempurna di luar, maka mereka adalah psikopat. Itulah pola pikir yang selalu ditanamkan di film-film.”
Loki terdiam sejenak. Diapun melanjutkan,
“Padahal ada lho, sosok yang seperti itu. Orang yang memiliki hati yang baik yang juga tercermin lewat wajahnya yang polos. Sosok bocah yang betul-betul memiliki integirtas pertemanan yang tinggi dan senantiasa menolong tanpa pamrih.”
__ADS_1
Sekali lagi Loki terdiam sejenak seraya menatap bolak-balik antara Alena dan Kapten Maya.
“Dialah sahabatku paling berharga, Kaiser.”