
Di suatu hunian kost di salah satu sudut daerah Kabupaten Cirona, Kaori terlihat duduk di sebuah kursi goyang dengan ekspresi yang sangat bahagia sambil membelai-belai perutnya yang nampak telah besar itu.
“Anakku sayang. Ibu akan membesarkanmu dengan baik walau tanpa pernah diketahui oleh ayahmu. Walau nanti kita jarang bertemu, rasa cinta dari Ibu takkan berkurang sedikitpun padamu.”
Rupanya, Kaori melarikan diri tidak jauh-jauh dari kampung halamannya di daerah kabupaten yang sama untuk melahirkan jabang bayi yang tengah dikandungnya itu. Kaori hendak membesarkan diam-diam anaknya itu tanpa sepengetahuan Aizen sebagai bentuk tanda cintanya padanya tanpa harus melukai kakaknya Kana.
Singkat cerita, dia akhirnya melahirkan di sana, lalu menitipkan bayinya itu di suatu panti asuhan di kabupaten tersebut.
Dia menitipkan bayinya di tempat yang sama dia merekomendasikan kakaknya menitipkan bayi dari keluarga Dewantara yang ditukarnya lima tahun kemudian. Di panti asuhan milik Bibi Sumi.
Kaori menitipkan bayinya itu dengan menaruhnya tepat di depan pintu panti sambil mengawasinya dari jauh. Selain keranjang dari anyaman bambu sebagai tempat tidur bayinya itu, Kaori hanya menyelipkan selimut hangat pink untuk membungkus tubuh bayinya serta kalung dengan lempeng logam perunggu di tengahnya dengan ukiran hiragana bertuliskan nama putranya, Kazuki, yang dilingkarkan di lehernya tersebut.
Sesaat kemudian, Bibi Sumi yang mendengar tangisan bayi dari luar segera mengintip keluar dan mendapati sebuah bayi telah tergeletak di situ.
“Duh, siapa lagi orang tua yang tidak bertanggung jawab yang seenaknya membuang bayinya ke panti asuhan ini?”
“Ada apa Bu Panti?” Ningsih, salah satu di antara 3 pekerja panti yang dipekerjakan oleh Bi Sumi, ikut keluar.
“Wah lucunya. Warna matanya aneh, kayak warna permen yang terkenal itu ya? Cup cup, dedek bayi. Bloeowoewoleloh.” Ujar Ningsih dengan tingkah menggemaskan sambil menjulur-julurkan lidahnya untuk menarik perhatian si bayi.
“Kiyaaaak! Khehe, khehe, khehe.” Rupanya, daripada menangis, sang bayi malah tertawa oleh tingkah kocak Ningsih tersebut.
“Wah, Nak, kamu betul-betul menggemaskan ya. Caramu tertawa mirip dengan aktor terkenal pemain film Putri Duyung itu. Baiklah, Bibi putuskan akan merawatmu dengan nama yang sama dengan aktor itu. Zainal. Nama yang bagus kan, Sayang.” Ujar Bibi Sumi dengan semringah di wajahnya seraya mencium pipi bayi yang lembut itu.
Ningsih kemudian terfokus pada kalung yang dikenakan si bayi.
“Bu Panti, jangan-jangan kata yang terukir di kalung itu adalah nama si dedek bayi.” Ujar Ningsih seraya menunjuk kalung yang dikenakan oleh bayi tersebut.
“Mana kulihat.” Bibi Sumi pun berujar seraya meraih kalung itu untuk lebih didekatkan ke matanya.
“Hmm? Ini tulisan apa ya? Tulisan China? Ningsih, kamu kan sekolah sampai SMA. Seharusnya kamu bisa baca ini kan? Ini apa bacanya?” Bibi Sumi pun memperlihatkan bagian kalung yang ada tulisannya itu kepada Ningsih.
“Hmm. Di sekolah, saya hanya belajar tulisan bahasa Indonesia, Sansekerta, sama Arab saja Bu. Tampaknya ini bukan ketiganya. Iya ya, mungkin ini memang tulisan China ya Bu. Saya sepertinya pernah melihatnya di serial TV. Kalau tidak salah, judulnya Meteor Farm.”
“Jadi apa bacanya?”
__ADS_1
“Hehehehe. Saya juga kurang tahu Bu Panti.
Bibi Sumi pun menghela nafas.
“Ya sudah. Kalau begitu, kita namakan saja anak ini dengan Zainal. Ngapain juga memberikan anak ini nama dengan bahasa yang tidak jelas.”
Dengan demikian, diputuskanlah bahwa bayi milik Kaori itu dinamakan Zainal oleh Bibi Sumi.
Dari kejauhan, Shiratori Kaori yang cukup mahir berbahasa Sunda sehingga memahami obrolan mereka, hanya mampu menatap kosong pada obrolan kedua ibu-ibu itu.
“Anakku namanya Kazuki. Lagipula itu tulisan Hiragana Jepang, bukan tulisan China. Lagipula Meteor Farm itu drama Taiwan, bukan drama China.” Ujar Kaori tampak shok karena keteledorannya menyadari bahwa tidak akan ada yang paham tulisan Jepang di tempat tersebut. Tahu begitu, dia akan menuliskan nama anaknya dengan alfabet biasa saja.
Lima tahun kemudian, anak keluarga Dewantara yang berhasil ditukar oleh Kana dan Kaori pun memasuki panti asuhan yang sama dengan Zainal alias Kazuki. Ya, dialah anak berusia 10 tahun yang bersama dengan anak malang berusia 5 tahun itu yang diculik oleh Levovo di panti asuhan tersebut pada tahun 2011 silam.
***
Masih di malam yang sama, Kaiser mengunjungi Dios seorang diri di mana Agni dan Airi menunggu di luar. Hal ini atas permintaan Kaiser yang ingin berdua dulu dengan sahabatnya itu tanpa diganggu siapapun.
“Dios, akhirnya besok aku akan mengikuti ujian akhir semester kenaikan kelas dua. Tidak terasa ya, sudah 3 tahun sejak kejadian itu. Kamu, kapan sadarnya? Di semester lalu, aku memperoleh peringkat satu umum di antara anak kelas satu soalnya tidak ada dirimu yang bisa mengalahkanku.” Ujar Kaiser dengan ekspresi sendu di wajahnya.
“Dios, maafkan aku. Semua ini salahku. Andai kamu tidak pernah mengenalku, aku yakin hidupmu akan lebih baik daripada sekarang. Tetapi, walaupun waktu diputar kembali di hari di mana kita pertama kali berkenalan, mana mungkin aku sanggup menjauhimu. Begitulah berharganya dirimu bagiku. Aku memang egois ya. Hanya saja, aku tidak dapat membayangkan hari-hari tanpa kamu di sisiku.”
Lirih Kaiser dengan lembut seraya menunjukkan ekspresi nostalgia di wajahnya. Dia melanjutkan,
“Ngomong-ngomong, kapan dan bagaimana lagi ya pertemuan pertama kita?”
Pada saat mengucapkan itu, seketika darah merah mengalir dari hidung Kaiser.
“Eh? Apa aku terlalu capek ya hari ini?” Ujar Kaiser.
Pandangannya mendadak kabur. Kaiserpun tanpa sadar menggenggam tangan Dios cukup kuat. Menyadari hal itu, dia pun segera melepaskan genggamannya itu sebelum melukai tubuh Dios yang rapuh itu.
“Kalau begitu, aku harus segera balik dan beristirahat. Segeralah siuman, sahabatku.” Seraya mengucapkan itu, Kaiser pun meninggalkan ruangan tersebut.
Beberapa saat setelah Kaiser pergi, keempat penjaga yang ditugaskan mengawal Dios dari dalam, kembali memasuki kamar Dios tersebut. Namun, belum cukup 5 menit mereka kembali ke ruangan, mata mereka semua mendadak mengeluarkan cahaya biru dan walaupun mereka berdiri tegap seperti biasa, mereka semua tiba-tiba menunjukkan ekspresi linglung seolah tak sadarkan diri.
__ADS_1
Dan di situlah sang sosok misterius dengan pakaian ketat serba hitam dengan penutup kepala serba hitam dan topeng pierot putih yang setengah pecah hingga menampakkan bagian di sekitar mulutnya, memasuki ruangan tersebut lewat jendela yang padahal telah dilapisi suatu logam pengaman. Dialah sang pembunuh berantai joker hitam.
Sosok misterius itu lantas terduduk di jendela kamar tersebut. Matanya yang biru menunjukkan ekspresi yang cukup rumit. Terlihat kesedihan dari balik mata biru itu. Diapun berujar,
“Bocah sok polos, kamu tak layak menjadi teman adikku. Kenaifanmu-lah yang telah merenggut masa depan adikku itu.” Ujar sang pembunuh berantai di mana dapat terlihat jelas perubahan ekspresinya yang tiba-tiba menunjukkan kemarahan melalui kedua bola mata birunya yang menyala.
Diapun mengingat masa lalunya bersama dengan adiknya itu.
“Kak Jeinal, Kak Jeinal, ayo coba tangkap aku. Hehehehe. Katanya Kakak jago main petak umpat, kok belum bisa menangkapku?”
Terlihat di ingatan pembunuh berantai itu, seorang anak berusia sekitar 4 – 5 tahun, bermain dengan begitu cerianya sembari meledek kakak yang dipanggilnya Jeinal itu.
“Awas ya kamu, Bocah! Kamu terlalu meremehkanku.”
Bocah yang lebih besar yang dipanggil Jeinal itupun berlari dan berhasil menangkap bocah yang lebih kecil itu.
“Nah, tertangkap kamu sekarang ya, Bocah! Dan sebagai hukumanmu, rasakan ini!” Ujar bocah yang lebih besar seraya menggelitik pinggang bocah yang lebih kecil.
“Hahahahaha. Maafkan aku, Kak Jeinal. Sudah cukup. Hentikan.” Ujar bocah yang lebih kecil seraya tertawa cekikikan karena gelitikan bocah yang lebih besar. Mereka tampak sangat menikmati waktu-waktu bermain mereka itu.
“Duh, kamu ini. Sampai kapan kamu akan memanggilku seperti itu. Sudah Kakak bilang kan, kalau nama Kakak itu Zainal.”
“Tapi, lidah-ku kan masih pendek Kak, jadi belum bisa bilang Jet [17].” Bocah yang lebih kecil pun menanggapi perkataan kakaknya dengan tingkah imutnya.
“Baik. Baik. Kakak mengerti. Kalau begitu,…”
Tanpa sadar, bocah yang lebih besar yang kini telah dewasa yang tidak lain adalah sang pembunuh berantai joker hitam tersebut, mengulangi kalimat yang sama dengan yang diucapkannya kala itu.
“…cepatlah besar, adikku Kai…Aaaaaakh!”
Mendadak, kepala sang pembunuh berantai menjadi pusing. Menetes darah dari balik topengnya tersebut.
“Ingatan apa tadi?” Lirih sang pembunuh berantai joker hitam.
Tidak cukup semenit setelah pembunuh berantai mengucapkan hal tersebut, dia telah menghilang dari ruangan itu.
__ADS_1
NB: [17] Maksudnya Zet, tetapi karena lidahnya masih pendek, malah jadinya kedengaran Jet