
Malam itu, Silva yang masih marah pada ayahnya, hendak mengabaikan gedoran-gedoran pintunya yang sedari tadi ayahnya lakukan untuk mengecek keadaan putrinya itu. Namun, seketika dia teringat kembali perkataan Kaiser padanya,
“Bukankah setiap orang punya kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik?”
Silva pun termenung. Silva kemudian kembali mengingat ke dalam masa lalunya. Walaupun ayahnya itu keras kepala, selalu keinginannya saja yang ingin dituruti, tetapi di luar itu, dia adalah ayah yang cukup baik baginya. Pak Sudarmin senantiasa menyediakan keinginan putrinya seegois apapun itu dan senantiasa memanjakannya.
Silva sangat menyadari bahwa ayahnya sangatlah mencintainya walaupun cara dia menunjukkannya agak keliru. Namun, di luar daripada itu, Silva kecewa karena ayahnya kerap kali membuat ibunya sedih. Sikap cuek ayahnya pada ibunya itulah yang kemudian menumbuhkan perilaku uniknya untuk senantiasa menginginkan perasaan cinta dari para lelaki kemudian membuat mereka semua berada dalam keputusasaan dengan penolakan kejam dan pura-pura polosnya.
Tentu saja sikap Pak Sudarmin yang terlalu memanjakan putrinya adalah salah. Karena hal itu di samping membuat Silva terjerembab ke jalan yang salah juga pada rentetannya akan menjadi musibah bagi orang lain.
Kita ambil contoh saja Tirta. Dia bertemu pertama kalinya dengan Silva di saat kelas 4 SD sewaktu ayah dan ibunya yang mengurusi segala transaksi perusahaan Pak Sudarmin, baik yang nampak di permukaan maupun transaksi-transaksi gelapnya, datang berkunjung ke rumah Silva sembari membawa putra mereka.
Saat bertemu, Silva langsung menyukai wajah dan bentuk tubuh Tirta. Dia tanpa basa-basi langsung meminta ayahnya untuk menyekolahkan Tirta di sekolah yang sama dengannya. Jadilah Tirta bergabung di sekolah elit itu, SD Puncak Bakti.
Tentu saja kala itu, mereka berdua belum saling-mengenal pembuli-pembuli lainnya. Mereka saling mengenal berkat Rihana, teman masa kecil Silva, yang kemudian pindah ke SD Puncak Bakti setelah Vet Tcin sukses di profesinya, yang pertama kali menarik perhatian Silva dengan kemampuannya mengumpulkan informasi-informasi terkini di sekolahnya yang mampu mendukung Silva untuk mewujudkan ambisinya untuk menjadi primadona sekolah.
Rihana kemudian mempertemukan Silva dengan Araka yang menginginkan kekuasaan untuk mendapatkan pengakuan dari ayahnya melalui Pak Sudarmin. Araka-lah yang kemudian menenteng Dirga dan Aleka. Riandra belakangan bergabung bersama mereka perihal kedekatannya dengan Aleka.
Seiring berjalannya waktu, melalui Tirta yang selalu saja menuruti permintaan Silva seabsurd apapun itu karena desakan dari kedua orang tuanya yang ingin menjilat kaki Pak Sudarmin, karakter S pun terbentuk di dalam diri gadis polos yang egois itu.
Dan di luar dugaan, hal itu justru menjadi oasis tersendiri bagi Silva untuk melarikan diri dari traumanya yang senantiasa melihat ibunya menangis karena kekurangan cinta dari ayahnya yang masih saja mengelu-elukan Ibu Rihana, Vet Tcin.
Pertemuan antara Silva dan Tirta, tidak hanya merusak mental Silva saja, tetapi juga Tirta yang harus senantiasa menuruti segala permintaan absurd nona sadis itu, termasuk ketika Silva memintanya untuk telanjang bulat lalu berpose layaknya anjing di depannya, ataukah ketika Silva memintanya untuk memakai pakaian M sambil Silva menginjak-injak anunya dengan asyiknya.
Hal itu lantas mendatangkan trauma sendiri bagi Tirta yang menjadi sangat bergantung dan tak ingin lepas dari jeratan Silva. Oleh karena itu, ketika Tirta menyingkap rahasia bahwa Silva mengoleksi foto-foto Kaiser untuk dijadikan bahan khayalan birahinya, dia sangat marah dan menghujat Kaiser.
__ADS_1
Rasa bencinya itu lebih memuncak lagi begitu mengetahui sifat naif Kaiser yang tampak tak tertarik untuk mengumbar ketampanannya untuk menikmati setiap gadis yang diinginkannya. Dia marah dan benci, mengapa pria yang polos itu, tanpa harus mengorbankan tubuhnya sepertinya, bisa memperoleh cinta dari wanita yang dipujanya.
Kita kembali ke Silva saat ini. Berkat dorongan kata-kata dari Kaiser, Silva pun pada akhirnya berani melangkah maju untuk menghadapi traumanya dan berniat untuk berubah. Sebagai awal mula untuk itu, dia ingin menghadapi ayahnya tanpa berpaling lagi, menutupi semuanya dengan kenikmatan sesaat untuk melupakan sikap penolakan ayahnya pada ibunya itu.
Dia pun membuka pintu kamarnya.
“Ayah?”
“Silva, sikap apa yang kamu tujukan ke Ayah barusan? Apa yang selama ini dilakukan oleh ibumu? Tidak bisakah dia mendidikmu dengan benar?”
Silva tertunduk. Tangannya pun gemetaran. Tetapi sekali lagi, dia mengingat kata-kata Kaiser.
“Bukankah setiap orang punya kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik?”
Dia akhirnya menatap langsung ke mata ayahnya yang selama ini tidak berani dia lakukan. Diapun tersenyum.
Mata Silva lantas mengeluarkan air mata.
“Ibu trauma karena Ayah. Begitupun Silva yang jadi seperti ini untuk melarikan diri dari Ayah. Jika Ayah ingin Silva berubah, bisakah Ayah terlebih dahulu menjadi seorang ayah dan seorang suami yang baik bagi keluarga ini? Aku mohon, Ayah.” Ujar Silva seraya menangis sambil memegang baju bagian depan ayahnya.
“Aaaakh!”
Tetapi apa yang dilakukan Pak Sudarmin, dia malah menghempaskan badan Silva sehingga tersungkur di lantai.
“Kamu, baru sebentar bertemu Kaiser, sudah berubah menjadi sok bijak sepertinya. Aku membesarkanmu, memberikanmu segala yang kamu minta, bukan untuk menjadi gadis yang lemah seperti itu!” Teriak Pak Sudarmin marah.
__ADS_1
“Tidak bisakah Ayah sedikit saja memberikan cinta Ayah padaku dan Ibu?” Lirih Silva seraya menitihkan air mata dengan pedih.
“Sudah kubilang, jangan bersikap seperti wanita lemah begitu seperti ibumu! Jadilah wanita kuat seperti tantemu, Vet Tcin! Di mana karaktermu yang seperti biasanya, hah?! Apa Kaiser yang menyuruhmu juga untuk menjadi wanita lemah seperti ini?!” Bentak Pak Sudarmin seraya mengguncangkan badan Silva yang telah tersungkur di lantai itu.
Badan Silva terguncang, tetapi hatinya lebih terguncang. Dia akhirnya memahami siapa sebenarnya ayahnya itu. Seorang pria yang berjiwa kerdil.
Silva pun kembali berdiri. Dia menampakkan kembali wajahnya yang tertunduk. Dia kembali pada ekspresinya seperti biasa, ekspresi sombong dan sok berkuasa yang disenangi ayahnya itu.
Silva pun tersenyum.
“Baik Ayah, aku paham. Aku takkan mengatakannya lagi. Kalau begitu, bisa Ayah pergi sekarang? Silva capek dan ingin segera tidur.” Ujar Silva seraya tersenyum.
Pak Sudarmin yang agak kaget dengan perubahan ekspresi Silva yang tiba-tiba, lantas terdiam. Silva pun beranjak masuk ke kamar sementara ayahnya masih tampak shok dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba barusan. Begitu masuk, Silva kembali mengunci pintu kamarnya.
Dia tak lagi memperhatikan Pak Sudarmin yang sibuk menggedor-gedor pintu di luar, termasuk ketika Pak Sudarmin mengancam akan membongkar paksa pintu kamarnya. Dia hanya menyembunyikan badannya yang terlihat seksi itu di balik selimut hangatnya seraya tertidur.
Namun, tiada yang menduga bahwa hari itu adalah hari terakhir di mana Silva dapat menikmati kasur empuk dan selimut hangatnya. Keesokan paginya, ketika Silva masuk ke kamar mandi di kamarnya, secara tiba-tiba, asap yang penuh dengan karbonmonoksida meluap memenuhi kamar mandi itu.
Melihat itu, Silva segera ingin menyelamatkan diri dan keluar dari kamar mandi tersebut. Namun sayang, gagang pintunya macet dan tak bisa dibuka. Silva pun terkurung di kamar mandi yang penuh dengan karbonmonoksida yang walaupun tidak sesempit kamar mandi pada umumnya, namun tidak pula seluas kamar mandi hotel berbintang lima.
Tidak butuh waktu lama bagi Silva untuk segera terpapar racun asap karbonmonoksida itu dan terkulai lemas. Diapun tersungkur di lantai.
“Hahahaha. Pada akhirnya, aku hanyalah karakter Ariel dalam Little Mermaid. Akankah aku menghilang bagai gelembung bagimu dan takkan pernah mengingatku lagi, Kaiser?” Ujar Silva lemah seraya menengadahkan tangan kanannya ke atas seakan hendak menggapai sesuatu.
Beberapa menit kemudian, tangan itu pun terjatuh setelah kehilangan tenaganya dan Silva pun meninggal dunia.
__ADS_1
Tampak dari atap kamar mandi, suatu peralatan aneh berwarna hitam. Dan di samping peralatan aneh itu, tampak sesuatu terbungkus plastik. Sebuah kartu lima spade yang tercoret salah satu lambang spadenya.