DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
47. Reuni di Pasar Malam


__ADS_3

Kaiser tertunduk gemetaran.  Tangan kanannya memegang dahinya yang juga ikut menutupi mata kanannya sementara tangan kirinya digenggamnya erat.


“Jika demikian, maka musibah yang menimpa Dios dan juga Kak Danial adalah salahku.”  Ucap Kaiser seraya mengertakkan gigi-giginya.  Muka yang indah itu menampakkan ekspresi kepahitan.


[Apakah Kak Danial jadi gila karena aku mengharapkan untuk menggantikan posisinya sebagai pewaris utama?  Apakah Dios juga sampai terbaring koma selama lebih dari 2 tahun karena sikap kekanak-kanakkanku yang iri padanya karena kecerdasannya yang melebihiku?  Apakah salah bagiku memiliki pikiran yang buruk untuk sesaat?  Aku juga manusia biasa yang memiliki hasrat.  Sempat terlintas di pikiranku untuk memilikinya, tetapi bukan berarti aku ingin mewujudkannya.  Itu hanya sekedar hasrat kekanak-kanakkanku.  Kenapa semuanya jadi seperti ini?]  Kaiser bergumam di hatinya dengan kalut.


Rasa sakit kepala Kaiser pun semakin hebat.  Mata birunya tiba-tiba berwarna lebih terang dari biasanya.  Diapun jatuh pingsan.


Nenek Nafisah beserta pembantu yang dipekerjakan Bu Nana untuk merawat ibunya itu, Bi Markonah pun baru pulang dari pasar.  Betapa terkejutnya mereka bahwa di perjalanan pulang, mereka menemukan Kaiser yang tergeletak pingsan di taman dekat rumah Nenek Nafisah.


Nenek Nafisah pun menyuruh pembantunya itu untuk segera memanggil Bu Nana dan Pak Lucias ke tempat itu.  Dengan khawatir, Nenek Nafisah menggopoh cucunya yang berat untuk bersandar melantai di salah satu bangku taman yang terbuat dari semen.  Diapun ikut bersandar di samping cucunya itu seraya mendekapnya.  Tampak Nenek Nafisah sangat khawatir sampai-sampai keluar air matanya tanpa sadar.


Pak Lucias beserta dengan Bu Nana pun tiba di lokasi.  Pak Lucias langsung menggopoh Kaiser kembali ke rumah neneknya diikuti oleh Bu Nana, Nenek Nafisah, dan Bi Markonah di belakang mereka.  Sesampainya di rumah, Pak Lucias segera membaringkan Kaiser ke tempat tidur di kamar tamu.


***


Setelah beberapa jam perjalanan, Araka pun tiba di salah satu villa miliknya yang dia bangun berdekatan dengan lokasi villa tradisional milik keluarga Dirga di Kampung Rambutan Kabupaten Cirona Provinsi Jawa Barat itu.


“Ah, segarnya!”  Ujar Araka melepaskan kepenatannya setelah menyetir selama hampir 4 jam [8].


Dia kemudian berjalan-jalan di sekitar taman di villanya yang terlihat sangat terawat.


Dia tiba-tiba teringat akan kenangan lamanya yang berharga.  Diapun merogoh tas kecil yang diikatkan di pinggangnya.  Dia mengambil handuk berwarna biru sebiru warna mata Dirga, sahabatnya itu yang menjadi tanda kenangan berharga di antara mereka berdua.


“Oh iya, di tempat ini dulu kan Dirga menyelamatkanku dari anak-anak preman itu.”  Ucapnya sambil tersenyum-senyum.


Diapun berjalan menelusuri lokasi lamanya di mana dia dulu berjalan hingga tersesat dan dijahili oleh anak-anak preman sampai ke lokasi bangunan bekas masjid di mana dia dulu tersadarkan setelah dihajar oleh anak-anak preman itu.  Wajahnya tampak bahagia mengenang nostalgia itu.

__ADS_1


“Padahal dulu kamu anak yang baik Dirga.  Sejak kapan kamu berubah menjadi bajing*n seperti ini?”  Ujarnya dengan ekspresi sendu.


Araka lantas tertawa.


“Hahahaha.  Bukan hanya kamu ya yang berubah jadi bajing*n.  Tanpa sadar, aku pun berubah menjadi seperti itu.  Padahal dulu aku sangat membencinya.”  Ujar Araka.  Tanpa disadarinya, air mata menetes membasahi pipinya.


***


“Hmm.”


Kaiser yang tadi sempat pingsan selama 3 jam lebih, akhirnya membuka matanya.


“Kamu sudah sadar Nak?”


“Kaiser, kamu baik-baik saja?”


“Syukurlah kamu sudah sadar Nak.”  Bu Nana menangis mengharu-biru lega setelah putranya kembali membuka matanya seraya memeluk putranya itu kencang-kencang.


“Sayang, biarkan putra kita istirahat sejenak.”  Pak Lucias menepuk pundak istrinya sebagai isyarat untuk melepaskan pelukannya yang membuat putranya itu sesak.


Kaiser pun bangun dari pembaringannya.  Dia lantas mengucek-ucek matanya seraya menguap.


“Hahahaha.  Maaf membuat kalian khawatir.  Tampaknya Kaiser ketiduran di taman tadi ya.  Begitu sadar, Kaiser sudah balik ke rumah.  Pasti Kaiser berat kan waktu ayah gendong kembali ke rumah?”  Ujar Kaiser seraya tertawa ceria berusaha menampakkan bahwa itu bukan apa-apa.


“Apanya yang berat?  Badan kurus begini.  Kamu harus lebih banyak makan, putraku.”  Ucap Pak Lucias seraya membelai rambut putranya dengan agak kasar disertai dengan ekspresi sedikit kesal.


“Hahahaha.  Baik Ayah.”  Jawab Kaiser dengan tawa ceria khasnya.

__ADS_1


“Nana, Lucias, biarkan Kaiser makan dulu.  Makanan sudah siap dari tadi.  Yuk kita semua pada makan.”  Nenek Nafisah menginterupsi senda-gurau di antara orang tua dan anak itu.


Tampaknya mereka semua belum ada yang makan karena semuanya sepakat untuk menunggu Kaiser siuman lalu makan bersama walaupun jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul 4 sore.


Semuanya makan siang bersama dengan ceria.  Tampak Nenek Nafisah menyodorkan banyak daging belut, masakan andalannya itu kepada Kaiser untuk meningkatkan stamina cucunya.  Kaiser tak dapat menolak kebaikan dari neneknya sehingga jadilah segunung daging belut di piringnya itu yang hampir menyamai jumlah nasinya.  Kaiser hanya tertawa canggung melihat keramahan neneknya itu, sementara ayah dan ibunya hanya menyaksikan dengan wajah yang penuh kesenangan pula.


“Oh iya, ini hari minggu kan?  Bagaimana kalau kalian mengunjungi pasar malam?  Setiap minggu ada pasar malam yang buka di sini.  Banyak sekali jajanan tradisional yang lezat serta permainan yang seru di pasar malam.  Nenek tidak bisa ikut karena rematik Nenek, tetapi kalian yang masih muda tentu harus menikmati kesempatan langka ini. Kalian tentu akan jarang menemukan nuansa seperti ini di ibukota.  Iya kan?”  Ujar Nenek Nafisah membuka pembicaraan dalam makan siang bersama itu.


“Wah, tampaknya itu ide yang menarik.  Iya kan Sayang?”  Pak Lucias tampaknya setuju dengan ide Nenek Nafisah itu.


“Itu benar Honey.  Kaiser, yuk kita semua ikut!”  Ujar Bu Nana seraya melirik ke putranya dengan pandangan memelas untuk meminta persetujuan putranya itu.


“Ayo, Bu, Ayah.”  Jawab Kaiser seraya tersenyum ceria ala anak baiknya.


***


Tibalah malam hari pukul 8 di mana pasar malam itu dibuka.  Kaiser berangkat bersama ayahnya, ibunya, beserta dengan anak Bi Markonah dan 2 orang temannya.  Dengan cerianya Kaiser beserta yang lain menelusuri tiap lokasi di pasar malam mulai dari topeng-topeng langka, stiker-stiker kartun lucu, aneka pulpen lucu, permainan mengukir, sampai pada permainan tembak hadiah.  Kaiser tampak sangat menikmatinya.  Ayah dan ibunya di belakangnya pun jadi turut bahagia melihat putranya bersenang-senang.


Sampai pada bagian jajanan gulali.  Mata Kaiser terbelalak.  Dia tidak begitu yakin karena 5 tahun telah berlalu sehingga anak itu telah tumbuh menjadi lebih dewasa.  Tetapi entah mengapa dia merasa bahwa penjaja gulali itu adalah temannya 5 tahun yang lalu yang terpaksa berhenti sekolah karena tidak mampu membayar biaya sekolahnya setelah keluarganya bangkrut dan ayahnya meninggal serta ibunya menelantarkannya sehingga terpaksa dia harus dirawat oleh kakek dari garis keturunan ayahnya.


“Halim?  Apakah kamu Halim?”  Tanya Kaiser kepada penjaja gulali itu.


“Kaiser?  Wah, lama tidak jumpa.”  Jawab Sang Penjaja Gulali itu dengan senyum cerah di wajahnya.


Dialah Halim Purnama.  Salah satu orang yang tercatat di ingatan Kaiser sebagai daftar orang yang terkena musibah karena ketidaksengajaannya menginginkannya.


NB: [8] Araka ini anak bandel ya karena menyetir tanpa SIM soalnya dia belum punya KTP.  Jadi anak-anak yang baik, jangan ditiru ya!

__ADS_1


__ADS_2