Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 103.


__ADS_3

Sesampainya mobil taksi yang di tumpangi Erli tiba di depan rumah sakit, Erli membuka pintu mobil,lalu Ia keluar dari dalam mobil taksi dan kembali menutup pintu itu.Erli lalu belari kecil masuk ke dalam gedung rumah sakit menyusuri setiap lorong rumah sakit untuk menuju ke ruangan papa nya.


Erli menghapus air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja.Sesampainya di depan kamar rawat papa nya,Erli dengan kasar membuka pintu yang ada di depannya.


Erli terkejut saat kamar itu kosong dan sudah rapi seperti tidak berpenghuni.


''Di mana papa ?'' tanyanya pada dirinya sendiri.


Erli berbalik,saat melihat suster yang lewat di depannya Ia menghentikan nya.


''Sus,pasien di kamar ini di mana ?'' tanya Erli sambil menunjuk kamar yang ada di belakangnya.


''Pasien yang ada di kamar itu sudah di pindahkan ke ruangan lain Nona ,'' jawab Suster sambil tersenyum ramah dan di tangan nya membawa buku catatan yang di dekapnya di depan dada.


''Di kamar mana ya Sus ?'' tanya Erli.


''Di kamar itu ,'' tunjuk Suster pada ruangan di ujung lorong.


''Terima kasih Sus ,'' Ucap Erli.


''Sama-sama ,'' jawab Suster sambil berlalu pergi meninggalkan Erli.


Erli melangkah menunju ruangan paling pojok di mana papanya berada. Sesampainya di depan pintu ruangan.


Cklek.


Erli membuka pintu dan terdiam saat melihat Pria paruh baya yang berbaring di atas ranjang menoleh menatap nya.


Wajah pucat nya tersenyum menatap nya,Pria paruh baya itu sangat merindukan putri kecil nya.


Tari menghampiri putrinya yang masih terdiam di depan pintu,Tari menghapus air mata putrinya saat air mata itu jatuh membasahi pipi nya.


Erli menatap Mama nya yang tersenyum menatapnya.

__ADS_1


''Hai,kenapa menangis,lihat papa sudah sadar bukan kah itu yang Erli mau ?'' seru Tari sambil tersenyum menatap putri bungsunya.


Erli langsung berlari dan menghambur ke pelukan Wijaya yang berbaring di atas ranjang,dan jangan lupakan selang infus yang masih menancap di lengan kirinya.


''Sst ,'' ringis Wijaya saat putri nya tiba-tiba memeluknya.


Erli tersadar dan buru-buru mengurai pelukannya saat Papanya meringis kesakitan.


''Maaf Pa ,'' Erli menatap Sendu Papanya.


Wijaya mengangguk lemah dan tersenyum menatap Erli.


''Erli senang akhirnya Papa sadar ,'' ucap Erli sambil memegang tangan Wijaya.


''Iya sayang,Mama juga tidak menyangka Papa bisa sadar secepat ini .'' timpal Tari sambil mengelus rambut Erli.


''Kak Naya ke mana Ma ?'' tanya Erli.


''Kakak Mu dari tadi pagi pulang dan sampai sekarang belum kembali ke rumah sakit ,'' jawab Tari yang khawatir dengan Putri sulungnya.


''Sudah Tuan ,'' sahut pria yang ada di seberang sana yang terus mengawasi Erli.


''Bagus ,'' ucap Re segera mematikan panggilan telponnya setelah memastikan Gadisnya baik-baik saja.


dan bergegas menuju di mana mobilnya terpakir.


Sedangkan Pria yang di sebrang sana menatap layar ponselnya yang telah mati.Pria itu lalu mengirim pesan tentang Wijaya yang telah sadar pada Bosnya.


Ding.


Re menghentikan gerakan tangan nya yang akan membuka pintu mobil saat ponselnya mendapat pesan masuk.Re lalu mengambil ponsel yang ada di saku jasnya dan tersenyum saat melihat pesan masuk dari anak buahnya yang mengabarkan Wijaya telah siuman.


Setelah itu Ia memasukkan ponsel nya dan Ia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi balik kemudi.Re lalu melajukan mobilnya meninggalkan parkiran hotel.

__ADS_1


**


**


Sedangkan Sandi dan Tara yang mendengar kabar sadarnya Wijaya tidak lah senang dengan kabar itu.Mereka takut Wijaya akan melapor kepada polisi atas perbuatan mereka.


''Kita harus mendatangi Wijaya di rumah sakit,dan mengacamnya .'' Seru Tara sambil melangkah ke sana ke mari seperti setrikaan.


Sandi mengusap wajahnya frustasi saat mendengar kabar itu.


Brak.


Sandi dan Tara menoleh ke arah pintu. Tara tidak terkejut saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan presdir.


Naya berdiri di depan pintu dengan amarah yang tertahan.


''Keluar kamu dari ruangan papa Ku !'' teriak Naya sambil melangkah mendekati Sandi yang duduk di kursi kebesaran Wijaya.


Sandi tersenyum sinis menatap Naya yang kini sudah resmi menjadi mantan istrinya.


Tara melangkah mendekati Naya yang berdiri di depan meja Sandi.


''Naya,Naya,apa kau lupa sekarang ini perusahaan menjadi milik Sandi,bukan milik papa Mu lagi .'' Seru Tara sambil menatap sinis Naya dengan bersedekap dada.


''Apa maksud Kamu ?'' tanya Naya tidak mengerti.


Karna setahu Naya selama ini yang mengelola perusahaan orang kepercayaan papa nya.Naya memang sudah mendengar keuangan harus atas izin dari Tara,dan Ia pun tidak mempunyai bukti kesalahan dari Tara sehingga dirinya tidak bisa mendepak Tara keluar dari perusahaan.


Sandi mengeluarkan map yang ada di laci mejanya dan melemparkan map itu tepat di atas meja yang ada di hadapan Naya.


Naya dengan ragu mengambil map itu, lalu mulai membuka dan membaca satu persatu isi surat itu.


''Ini.....,''

__ADS_1


Naya menggelengkan kepalanya saat melihat cap jari papanya tertera di surat pengalihan perusahaan.


__ADS_2