Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 154.


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan.Seorang gadis terbangun dari tidurnya,akibat terkena obat bius sehingga gadis itu tertidur. Gadis itu mengerjapkan ke dua bola matanya,Ia memandang sekeliling ruangan yang menurutnya asing.


Seingat Gadis itu terakhir dirinya berada di dalam sebuah bar,untuk mencari keberadaan sahabatnya.Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Tasya.


Tasya mencoba mengingat dirinya terakhir kali berada di bar,dan berakhir di tempat asing ini.Perlahan-lahan kepingan beberapa jam lalu bermunculan di kepalanya.


Tasya ingat dirinya salah masuk ruangan VVIP,dan tidak menemukan keberadaan Linda.Dirinya setelah meminta maaf,Tasya keluar dari ruangan itu.Saat tiba di luar,tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari arah belakang.Dan tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap,dan setelah itu dirinya tak ingat apa-apa. Tahu-tahu dirinya terbangun dan terdampar di tempat ini.


Tasya langsung bangun dan turun dari atas ranjang,Ia pun lalu menuju ke arah pintu.


''Apa ada orang di luar !'' Teriak Tasya sambil mengetuk pintu.


''Tolong,siapa saja yang ada di luar. Tolong Aku !'' teriaknya lagi.


Tapi usaha Tasya sia-sia,karna tidak ada tanda-tanda orang di luar.


Sebenarnya ada dua pria yang sedang menunggu di luar,tapi Mereka enggan membuka suara dan membiarkan gadis itu berteriak dengan sia-sia.Ke dua Pria itu sedang menunggu perintah selanjutnya dari atasannya.


Tasya akhirnya pun menyerah,Ia kembali melangkah ke tempat tidur dan duduk di tepi ranjang.


Tasya mendengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah pintu,Tasya berdiri dari duduknya dan melihat siapa yang membuka pintu.


Seorang Pria berpakaian hitam dan memakai topeng di wajahnya,masuk ke dalam kamar dengan membawa sepiring makanan dan minuman.


''Ini makanan Mu ,'' ucap Pria itu sambil meletakkan makanan itu di atas nakas tidak jauh dari ranjang.


''Siapa Kau?dan ini dimana ?'' tanya Tasya.


''Kau tidak perlu tahu siapa Aku,dan ada di mana Kau sekarang .'' Ucap Pria itu yang enggan menjawab pertanyaan dari Tasya.

__ADS_1


Setelah meletakkan makanan itu Pria itu segera keluar dari kamar itu.Ia pun tidak mempedulikan ucapan Tasya lagi.


Tasya yang memang sudah haus dan lapar,mengambil makanan itu dan segera memakannya.


Setelah makanan yang di piring sudah tidak tersisa,Tasya meletakkan kembali piring kosong bekas makannya di atas nakas.Lalu Ia mengambil air putih dan menenggaknya hingga habis.


Tidak lama kemudian pintu kembali di buka.Tasya melihat dua orang yang baru masuk dengan membawa Pria yang tidak sadarkan diri dan meletakkannya di sofa.


''Buka mulutnya dan berikan pil ini .'' Perintah Pria yang ada di depan pintu sambil menyodorkan obat dan minuman ke rekannya.


Rekannya menerima obat dan minuman itu,setelah itu pria itu membuka mulut Pria yang sedang pingsan dan memasukkan pil dan minuman itu ke dalam mulutnya.


''Ayo cepat tinggalkan Mereka ,'' suruh Pria satunya saat melihat rekannya sudah berhasil memasukkan obat itu ke dalam mulut pria yang sedang tidak berdaya itu.


''Hai tunggu,kenapa kalian meninggalkan nya ?'' tanya Tasya panik saat melihat ke dua orang itu ingin pergi meninggalkan nya dengan Pria yang tidak Tasya tahu.


Kedua Pria itu mengabaikan pertanyaan dari Tasya,dan kembali menutup pintu itu dengan rapat.


Sedangkan di tempat di mana Re dan Edward yang akan berkelahi.


Re melepas jaket yang di pakainya,dan cuma tersisa kaos berwarna putih yang menonjolkan otot-otot tubuhnya.


Edward pun melakukan hal yang sama.


Ia menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.Seharusnya Joy kaki tangannya sudah harus bergerak mencari keberadaan Adiknya,Ia cuma memberikan waktu ke pada Joy setengah jam sudah harus mendapatkan informasi tentang keberadaan Adiknya.


Re melirik sekilas kepada Samuel.


Samuel sendiri masih sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya.Samuel mengacungkan jempolnya,mengcode sebentar lagi Tasya akan di temukan.

__ADS_1


Re dan Edward mulai saling menyerang dan menghindar.


Juan dan Hendrico tersenyum senang saat melihat ke duanya berkelahi,dari dulu itu yang Mereka inginkan.


''Berhenti,menyebalkan sekali kalian .'' Ucap Hendrico yang tidak puas atas perkelahian antara Edward dan Re.


Re dan Edward berhenti berkelahi,dan menatap Hendrico yang tidak terlihat puas.


Hendrico pikir dengan Mereka saling menyerang,akan membuat Mereka babak belur.Tapi,ini apa Mereka sama sekali tidak ada yang terluka.Mereka dari tadi mencoba melawan dan menghindar.


Ponsel milik Edward bergetar,Edward segera mengambil ponselnya.Ia tersenyum tipis saat mendapat sebuah pesan dari kaki tangannya.


''Joy memang bisa di andalkan ,'' batin Edward tersenyum senang saat mendapat laporan dari anak buahnya.


Re menatap Marcel yang baru saja mendapat telpon dari para anak buahnya.


Marcel menganggukkan kepalanya ke arah Re.


Re tersenyum tipis,saat mendapat kode dari Marcel.


Re dan Edward saling berpandangan dan Mereka pun saling mengangguk untuk mengcode satu sama lainnya, kalau Adik Mereka sudah di temukan dan akan baik-baik saja.


''Ayo,kalian betkelahi lagi .'' Perintah Juan.


Edward dan Re kembali saling berpandangan dan Mereka pun tersenyum menyeringai.


Marcel dan Samuel melihat seringaian di wajah ke duanya bergidik ngeri melihat itu.


Habis sudah ke dua orang bodoh itu, pikir Ke duanya.

__ADS_1


__ADS_2