
"Hai Anak nakal,kalian tidak mau menyapa Nenek.'' Tegur Maria saat melihat ke dua cucunya.
Re dan Andre menoleh dan melihat seorang Wanita tua duduk di gazebo belakang.
Re dan Andre saling pandang,Mereka pun tersenyum kikuk dan melangkah menuju di mana nenek mereka sedang berada.
''Kalian dari mana ?'' tanya Maria sambil menatap Andre dan Re yang duduk di sampingnya.
''Kami dari ruang kerja Papi Nek,'' sahut Andre sambil menatap Nenek angkatnya.
''Lo kalian ada di sini ?'' tanya Rania yang baru datang sambil menatap ke dua putranya.
Re,Andre dan Maria menoleh dan melihat Rania yang baru datang ke gazebo yang ada di samping halaman.
Maria menyipitkan matanya saat di belakang tubuh Rania ada seorang Gadis .
''Siapa Gadis cantik ini ?'' tanya Maria saat Rania dan Gadis itu berada di depannya.
''Dia Inka Ma,anak dari jeng Miranda.'' Jawab Rania sambil menatap Inka yang ada di sampingnya.
''Dia cantik kan Re,Dre ?'' tanya Maria sambil melirik ke dua cucunya yang diam saja.
Re tidak menanggapi pertanyaan dari Neneknya.Ia menatap malas pada gadis yang ada di samping Mamanya.
''Iya Nek .'' Sahut Andre dengan terpaksa.
Inka sendiri tersenyum malu dan sesekali mencuri pandang ke arah ke dua pria tampan itu.
''Ayo sayang duduk ,'' Ajak Rania sambil membawa Inka duduk di hadapan Re.
Inka tersenyum dan menuruti kemauan Rania.Inka sangat senang bisa duduk di hadapan Pria tampan yang menatapnya dengan datar.Inka tersenyum tipis saat melihat Re.
Namun Re memasang wajah datar seolah-olah tidak ada Inka di sana.
Re yang bosan akhirnya memilih beranjak dari duduknya.
Andre yang melihat Re akan pergi,ikut berdiri dari duduknya.
__ADS_1
''Kalian mau kemana ?'' tanya Maria sambil menatap ke dua cucunya yang akan pergi.
''Kami ada urusan yang harus di selesaikan di kantor Nek .'' Jawab Andre berbohong.
Andre sebenarnya tahu,Re tidak nyaman dengan tatapan wanita itu.
''Apa tidak bisa di tunda dulu Re,kasian Inka yang sudah jauh-jauh datang kemari dan meluangkan waktunya untuk datang kemari.'' cegah Rania sambil menatap putranya.
Re mengangkat alisnya sebelah,Ia pun menyunggingkan senyum sinis.
''Maaf Mi,lagian Aku tidak mengenal Gadis ini .'' ucap Re dingin.
''Kalian bisa saling mengenal,'' ucap Rania bersikeras.
''Maaf Mi, Aku sibuk .'' Balas Re dingin.
Rania ingin membuka mulutnya,Rania mengurungkan niatnya saat mendapat gelengan kepala dari Maria.
''Jangan sekarang,kita pelan-pelan saja membujuknya.'' Bisik Maria.
Maria menghela nafas panjang,sambil menatap punggung ke dua cucunya yang menghilang di balik pintu yang menghubungkan gazebo dan ruang tengah.
Sedangkan Inka tersenyum tipis saat melihat Re yang tidak tergoda oleh pesonanya.Ia semakin penasaran pada Pria tampan itu dan bertekat akan menaklukan pria dingin itu.
Sedangkan di salah satu cafe mewah yang terletak tidak jauh dari gedung-gedung kantor yang menjulang tinggi.
Di dalam cafe terdapat tiga gadis yang sedang memakai seragam sekolah dan satu Pria juga yang sama seperti ke tiga gadis itu.
Mereka sedang duduk di dekat jendela.
Tidak lama kemudian dua orang pelayan cafe menyajikan pesanan mereka.
Salah satu pelayan itu meletakkan satu persatu pesanan mereka di atas meja. Setelah pekerjaannya selesai pelayan itu pamit undur diri.
Ke tiga remaja putri itu menatap makanan yang terhidang di atas meja dengan wajah yang berbinar.Sedangkan remaja putra cuma menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga remaja putri itu.
''Bry,kenapa di lihatin saja?ayo di makan nanti keburu habis lo sama kita .'' Canda Linda sambil terkekeh.
__ADS_1
''Benar banget itu Bry,apa lagi Kalau gratisan.Linda orang yang pertama yang menghabiskan.'' Timpal Erli sambil tersenyum tipis menatap Linda.
''Sialan,Gue bisa beli sendiri makanan ini sepuasnya,'' sungut Linda sambil menatap galak Erli.
''Tapi kalau ada yang gratisan boleh juga sih ,''lanjutnya lagi sambil tersenyum jenaka.
''Dasar,awalnya nolak tapi ketagihan .'' ucap Tasya sambil menatap malas Linda.
''Biarin,Bryan aja yang nraktir aja gak keberatan kok .'' Balas Linda tak mau kalah.
Tasya dan Erli memutar bola mata malas ,tidak ingin berdebat lagi dengan Linda.Yang ujung-ujungnya membuat mereka harus mengalah.
Bryan tersenyum tipis menatap ke tiga gadis itu.
''Gais,sori Gue ke toilet dulu.'' Pamit Erli sambil beranjak dari duduknya.
Tasya cuma menganggukkan kepalanya.
''Perlu Gue temenin Er?'' tawar Linda.
''Gak perlu,Elo temenin aja mereka berdua.takutnya khilaf ,Ha....ha...ha....'' Ucap Erli sambil tertawa.
''Benar juga yang di katakan Erli,'' gumam Linda sambil menatap Tasya dan Bryan bergantian.
Tasya memutar bola mata malas saat Linda menatapnya dengan insten.
Sedangkan Bryan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Erli barusan.
Beberapa menit berlalu,saat Erli keluar dari dalam toilet.Erli terkejut saat melihat meja yang ada teman-temannya berada, di kerumuni banyak pengunjung. Ada apa ini,pikir Erli.
Erli melangkah maju ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai-sampai para pengunjung memenuhi mejanya.
Erli membulatkan matanya dan menatap tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Bukankah tadi saat dirinya pamit ke toilet baik-baik saja,tapi ini.
Dan di mana Sahabat satunya,kemana Dia.
__ADS_1