
Di sebuah ruangan pribadi di dalam markas,seorang pria dengan tato yang menghiasi tubuh kekarnya,sedang menatap tajam anak buahnya yang berdiri sambil menundukkan kepalanya. Anak buahnya tidak berani menatap bos nya sedang dalam mode marah.
''Dam,it, sial .'' Umpat Pria berbadan kekar saat mengetahui transaksi yang di lakukan oleh anak buahnya berhasil di gagalkan oleh pihak lain.
''Cari tahu kelemahan pria itu ,'' suruh Pria berbadan kekar sambil mengibaskan tangannya agar anak buahnya keluar.
''Baik Tuan,Saya akan mencari kelemahan bos mereka .'' Jawab Asisten pribadinya.
Asisten pribadinya lalu menunduk hormat dan keluar dari ruangan pribadi bosnya.Saat asisten pribadinya membuka pintu,tepat di depan pintu berdiri Pria muda yang masih memakai seragam sekolah dan memakai kaca mata.
Pria muda itu langsung masuk ke dalam untuk menemui pria yang ada di dalam.
**
**
**
Sedangkan di dalam apartemen Re.
Ponsel Erli kembali berdering.Erli menghembuskan nafas panjang sebelum mengangkat panggilan dari papanya itu.
Erli pun menyentuh tombol hijau dan langsung menempelkan ponselnya di telinga setelah panggilan terhubung.
''Erli,dimana kamu ? kenapa jam segini belum pulang ?'' tanya papanya langsung saat panggilan telponnya terhubung.
__ADS_1
''Erli ada les tambahan pa ,'' jawab Erli sambil jantungnya berdebar dengan kencang.
Erli takut papanya akan bertanya macam-macam,dan akan tahu kebohongannya.
''Kenapa tidak mengabari papa ?'' tanya Wijaya.
''Maaf pa Erli lupa ,'' jawab Erli di sebrang telpon.
''Apa harus papa jemput ?'' tanya Wijaya.
''Tidak usah pa,nanti Erli pulang sendiri .'' Tolak Erli cepat.
''Ya sudah cepat pulang,dan jangan kemana-mana .'' Perintah Wijaya.
''Ya sudah papa tutup dulu telponnya ,'' Wijaya langsung menutup telponnya.
Erli menghembuskan nafas panjang setelah sambungan telponnya terputus.
''Maafin Erli pa,Erli sudah berbohong sama papa .'' Ucap Erli lirih dengan mata berkaca-kaca.
''Masa bodoh dengan surat perjanjian itu,Aku tidak mau membuat papa khawatir,Aku akan pulang .''
Erli beranjak dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar yang akan di tempatinya nanti.
Erli melihat kamar yang dominan warna putih.Erli meletakkan paperbag yang di kira Erli untuk Cintya.Erli mengambil kotak emas dari paperbag.Ia pun membuka kotak itu yang cuma ada gelang dan anting.
__ADS_1
Sedangkan kalung dan cincin telah di pakainya setelah ijab kabul terjadi.
Erli menghentikan gerakan tangannya saat akan melepas kalung yang melingkar di lehernya,Ia teringat ancaman dari pria yang berstatus menjadi suaminya.
Erli pun mengabaikan ancaman dari suaminya dan melepas kalung dan cincin itu,dan mengembalikan ke kotak perhiasan.Setelah itu Ia menyimpan kotak perhiasan ke dalam lemari.
Erli masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajunya dengan seragam sekolahnya.
Setelah itu Erli keluar dari kamar mandi, Erli memasukkan baju yang di belikan oleh Re ke dalam tasnya.
Ia tidak mau pulang kerumah dengan memakai gaun mahal yang akan membuat keluarganya menaruh curiga, dan bertanya-tanya dari mana dirinya membeli gaun mahal itu.
Erli lalu keluar dari dalam kamar. Sesampainya Ia di depan pintu apartemen,Erli menghentikan langkahnya saat teringat pintu itu memakai kode.
''Oh ya ampun,Aku lupa pintu ini memakai kode ,'' ucap Erli sambil menepuk keningnya.
''Ayo Erli di ingat-ingat berapa kodenya ,'' gumam Erli sambil mencoba mengingat kode apartemen yang di beritahu Samuel.
''Aduh salah lagi ,'' kesal Erli saat menekan kode angka tapi gagal.
Erli terduduk di lantai dan akan menyerah setelah dua kali gagal menekan angka kode.
''Semoga yang ini benar ,'' ucap Erli lirih sambil berdiri dan mulai menekan angka-angka yang tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya.
Saat Ia akan menekan angka terakhir,Erli memejamkan matanya tidak berani melihat kalau nantinya akan gagal lagi.
__ADS_1