
Juan segera pergi dari tempat Ia memantau sekolah adiknya,setelah Bryan menyadari kehadirannya.Ia cukup bernapas lega melihat Bryan baik-baik saja.Juan tidak peduli Gibran bagaimana keadaannya.Mereka tidak seakrab itu.
Bryan akan bertanya nanti pada kakaknya.Sekarang Dia harus tahu bagaimana keadaan Gibran.
Tidak jauh dari lorong tepatnya di ujung tangga yang mengarah kantin,Pria berkaca mata muncul dari sana.
Semua teman sekolahnya menatap terkejut Gibran yang baik-baik saja.
Re yang saat itu duduk diam di dalam mobil,bernafas lega saat melihat Gibran yang baik-baik saja.Re menyipitkan matanya saat tidak sengaja melihat bayangan hitam yang menghilang di Rooftoop atas sekolah.
''Apa Kau melihat nya Dre ?'' tanya Re sambil menatap lurus bayangan hitam itu yang menghilang.
Andre melihat arah pandang Re,Andre yakin Re pasti melihat bayangan hitam itu.
''Ya,Aku melihatnya,'' sahut Andre sambil mempertajam pandangannya.
''Tidak cuma 1,dia tidak main-main melindungi Adiknya .'' Lanjutnya lagi saat melihat bayangan lain.
''Kau benar Dre,'' balas Re.
''Dia sekarang pasti dalam perjalanan kembali lagi ke kota ini ,'' tebak Re sambil menatap lurus ke depan.
Re tersenyum saat melihat Gadisnya baik-baik saja.
''Hendrico,kau harus membayar mahal atas perbuatanMu,'' gumam Re.
Re menepuk Aldo yang ada di depannya.
''Jalan...,'' suruh Re.
''Baik Tuan ,'' sahut Aldo.
Aldo melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah SMK PELITA.
Erli menyipitkan matanya saat tidak sengaja menatap mobil yang mirip dengan mobil Re.
__ADS_1
''Er,Ayo Kita ke Gibran .'' Ajak Linda sambil menggandeng tangan Erli dan Tasya.
''Bran,makasih sudah menyelamatkan kami semua,'' ucap Erli.
''Kalau tidak ada Kamu,mungkin kami semua terkena ledakan itu .'' Timpal Linda.
Gibran cuma membalas dengan senyuman,Ia senang Gadis yang Ia cintai tidak kenapa-napa.Gibran menatap sendu Tasya.Ia tidak menyangka ternyata isi dalam kotak itu adalah bom.bagaimana jadinya kalau Tasya sampai membuka kotak itu. Gibran saja tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Tasya,
Akhirnya para siswa dan siswi di pulangkan,pihak sekolah takut akan ada bom lagi yang akan meledak.
....
Setelah dari sekolah Erli dan Tasya.
Re dan Aldo menetapi janjinya untuk menemui Papinya di Mansion keluarganya.
Bo Jum mengarahkan keduanya untuk menuju ruang kerja majikannya.
Pratama menatap ke dua putranya yang baru masuk.
Sedangkan di dalam ruang kerja Pratama.Pratama menatap ke dua putranya dengan datar.
''Duduk....,'' perintah Pratama kepada ke dua putranya.
Andre dan Re segera duduk di kursi sofa dan memandang Papinya yang duduk di kursi sofa tunggal.
''Apa ada yang kalian ingin jelaskan?'' tanya Pratama menatap ke dua putranya dengan tajam.
Andre dan Re saling berpandangan.
Tidak mungkin kan Ayah tahu tentang ledakan di sekolah,pikir Re.
''Andre,Re kenapa kalian berdua kenapa diam saja .'' Hardik Pratama yang geram melihat kedua putranya diam saja.
''Maksud Papi apa ?'' tanya Andre yang belum paham dengan pertanyaan dari Papinya.
__ADS_1
''Andre jelaskan,apa benar yang Papi dengar kamu sudah menikah ?'' tanya Pratama dengan menahan kekesalannya.
Sontak saja Andre terdiam.Andre mencoba terlihat tenang menjawab pertanyaan dari Pratama.
Sedangkan Re memutar bola mata malas dan tidak mau ikut campur urusan Andre.Biar Andre yang menyelesaikan masalah yang Ia buat sendiri.
''Itu berita bohong Pi ,'' sanggah Andre cepat sambil mengedarkan pandangannya.
Re sendiri yang melihat Andre menyanggah itu cuma memutar bola mata malas.Re mengumpat kebodohan Andre yang jelas Papinya tahu kalau Andre sedang berbohong.
Pratama sendiri tersenyum tipis saat melihat Andre menyangkalnya.Pratama tahu betul putranya itu sedang berbohong atau berkata jujur.Jelas saja Andre saat ini berkata bohong.
Pratama tidak mengatakan apa-apa, Pratama beranjak dari kursinya dan berlalu meninggalkan Andre dan Re yang terkejut saat Papinya tidak mengatakan apa-apa,setelah Andre menyanggah pertanyaannya.
Sebelum Pratama keluar dari ruang kerja miliknya.
''Dre nanti malam bawalah istriMu datang kemari untuk bertemu Mami dan keluarga yang lain ,'' ucap Pratama sambil berdiri di depan pintu.
Andre sontak saja terkejut atas apa yang di ucapkan oleh Papinya.
''Satu lagi Dre ,'' ucap Pratama lagi sambil menjeda ucapannya.
Andre menatap bingung Pratama.
''Bersiaplah Kau mewarisi harta Kusuma.'' Lanjutnya lagi dan segera menutup pintu ruang kerja miliknya.
Andre ingin menolak, tapi Ia harus menelan suaranya saat Pratama sudah menutup pintu ruang kerja milik Papinya.
''Terimalah nasibMu bung ,'' ucap Re sambil menepuk bahu Andre.
Andre mendengus dan menatap kesal Re.
''Kau tidak pandai berbohong di hadapan Papi ,'' sindir Re.
''Tunggu saja giliranMu Re .'' Ejek Andre sambil menatap Re sengit.
__ADS_1