Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 119.


__ADS_3

Marcel mendekati Juan yang sudah terkapar di jalan yang beraspal.dengan nafas yang tersengal-sengal.Marcel tersenyum sinis menatap Juan.Marcel berjongkok di samping tubuh Juan,dan menepuk pipi Juan.


''Dengar Juan,Kau masih saja seperti dulu,tidak bisa mengalahkan Re .'' Ucap Marcel.


Juan tidak terima dengan ucapan Marcel,kalau saja dirinya tidak terluka sudah di pastikan dirinya akan menghabisi Marcel.Juan hanya bisa menatap Marcel dengan kesal.


Re memandang sesaat Juan yang sudah terkapar di jalan.Re memakai kembali kaca mata hitamnya,Ia pun berbalik dan melangkah dengan tangan Ia masukkan ke dalam saku celana.Dan menuju di mana Andre tengah menunggu dirinya di depan mobil.


Andre langsung membuka pintu kursi penumpang.Setelah Re masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang, Andre menutup pintu mobil.Sebelum Andre masuk ke dalam mobil,Andre menatap Marcel yang masih entah membicarakan apa dengan Juan.


''Marcel,Ayo kita pergi .'' Ajak Andre yang sudah siap masuk ke dalam mobil.


Marcel mendongak dan menatap Andre yang akan masuk ke dalam mobil.


''Oke ,'' sahut Marcel.


Marcel berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor.


Cuih.


Marcel meludah tepat di samping wajah Juan.


''Dasar pecundang ,'' Setelah mengatakan itu Marcel berbalik dan pergi menuju di mana ke dua sahabatnya di dalam mobil.


Juan mengepalkan ke dua tangannya, dirinya tidak terima di katakan pecundang.Juan berdiri dan menatap tajam mobil berwarna hitam yang mulai meninggalkan tempat itu.


Sedangkan di dalam mobil.


''Re kau terluka,apa perlu Kita ke rumah sakit ?'' tanya Andre yang duduk di kursi kemudi sambil menatap Re lewat kaca spion yang ada di depannya.


''Benar Re,sebaiknya Kita ke rumah sakit saja .'' Timpal Marcel yang melihat lengan Re tergores pisau.


''Tak perlu,ini cuma luka kecil .'' Tolak Re sambil melepas jas yang membalut tubuh kekarnya.


''Ambilkan kotak obat yang ada di dasboard ,'' suruh Re sambil meletakkan jas di samping tempat duduknya.


Marcel dengan cepat membuka dasboard mobil dan mengambil kotak obat.


''Ini.....,'' Marcel memberikan kotak obat itu ke hadapan Re.


Re menerima kotak obat itu.Re melepas kancing kemeja satu persatu dan mulai melepasnya.


Re meringis saat Re menempelkan obat di atas lengan yang tergores pisau.

__ADS_1


''Kau tak apa Re ?'' tanya Andre yang melihat Re meringis.


Re cuma menggeleng.


Andre pun diam dan Ia menatap lurus jalanan.


''Re....,'' panggil Andre yang melihat Re sedang membalut lengannya dengan perban.


''Hmmm ,'' sahut Re dengan berdehem.


''Kita mau ke kantor atau ke mana ?'' tanya Andre yang tidak tahu tujuan Re mau kemana setelah pergi ke markas milik mereka.


''Pulang ke mansion ,'' jawab Re sambil memakai kembali kemeja berwarna putih yang sudah berubah warna itu saat berkelahi dengan Juan.


''Apa kau yakin pulang Mansion Pratama ?'' tanya Andre khawatir.


''Bukan Mansion Pratama,tapi Mansion PribadiKu .'' Sahut Re.


''Oke ,'' jawab Andre yang tidak mengerti kenapa Re mau menginjakkan kakinya ke Mansion pribadi miliknya.


Dengan begitu Andre bernafas lega karna Re tidak pulang ke Mansion keluarga Pratama.Kalau sampai Mama dan Nenek Re tahu pasti mereka akan membawa paksa Re ke rumah sakit.


Re memiliki Mansion Pribadi tanpa keluarganya tahu.Re membeli Mansion itu beberapa tahun yang lalu.Dan akan menempati Mansion itu di saat dirinya sudah menikah.


Re menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil dan memejamkan matanya.


**


**


**


Sedangkan di dalam kamar mewah.


Seorang Gadis menatap pintu yang baru saja terbuka.


Masuklah Bi Nani ke dalam kamar dengan membawa nampan yang di atasnya makanan dan segelas susu.Bi Nani tersenyum menatap Erli yang duduk di atas ranjang dengan penampilan yang sudah segar.Bi Nani mendorong pintu dengan kakinya supaya pintu itu tertutup kembali.


Bi Nani melangkah di mana meja berada,dan meletakkan makanan dan segelas susu di atas meja.


''Kemari Non sarapan dulu ,'' suruh Bi Nani sambil menatap Erli yang duduk di atas ranjang.


Erli sebenarnya sudah lapar,namun dirinya penasaran siapa yang sudah membawanya kemari.

__ADS_1


''Di mana Tuan Mu itu Bi ?'' tanya Erli yang enggan menghampiri Bi Nani yang ada di depan meja yang terdapat makanan.


''Tuan masih ada dalam perjalan ,'' jawab Bi Nani tersenyum.


''Kemari Non,Non pasti sudah lapar .'' ucap Bi Nani yang mengerti Erli lapar.


Erli cemberut karna tidak mendapat jawaban dari Bi Nani.Dengan malas Erli menurunkan kakinya di lantai dan beranjak dari duduknya di atas ranjang, Ia pun menghampiri di mana sarapannya berada.Erli menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kursi sofa yang ada di dalam kamar yang Erli tak tahu ini kamar milik siapa.Sudah berulang kali Erli menanyakan ini kamar siapa,tapi Bi Nani sepertinya tidak mau memberi tahunya.


Bi Nani tersenyum saat Erli menatapnya tajam dan dengan terpaksa memakan makanan yang di sajikan Bi Nani untuknya.


Tok..tok...tok...


''Sebentar Nona,Bibi buka pintu dulu .'' Ucap Bi Nani saat seseorang mengetuk pintu.


Erli tidak menjawab,Erli masih kesal dengan Bi Nani.Ia tidak peduli Bibi itu mau kemana.


Erli melirik sekilas di mana Bi Nani sedang berdiri di depan pintu.Erli tidak tahu Bi Nani berbicara dengan siapa.


Erli buru-buru memalingkan wajahnya saat Bi Nani kembali menutup pintu kamar.Erli pura-pura asik dengan makanannya.


''Jangan bicara Bi ,Aku tidak mau dengar .'' Ucap Erli menghentikan Bi Nani yang ingin berbicara.


Bi Nani cuma tersenyum dan tidak jadi berbicara.


''Saya sudah selesai Bi ,'' ujar Erli sambil mendorong piring kotor bekas Ia makan.


Bi Nani membereskan bekas sisa makan Erli.Sebelum Bi Nani keluar dari kamar.


''Tuan akan segera datang ,''


Setelah mengatakan itu Bi Nani keluar dari kamar Dan kembali menutup pintu kamar.


Erli berdiri dari duduknya dan gelisah menunggu siapa yang membawanya kesini.Erli mondar-mandir di dalam kamar sambil menggigiti kuku-kukunya.


Erli sesekali menatap pintu kamar.


Erli buru-buru berlari ke arah jendela saat mendengar bunyi deru suara mobil berhenti tepat di depan Mansion.Erli mengintip di balik jendela dan cuma hanya bisa melihat punggung lebar seorang pria memasuki Mansion.Dan mobil yang membawa pria itu pun pergi meninggalkan Mansion.


Erli makin penasaran siapa sebenarnya pria itu.


Saat Erli masih menerka-nerka siapa Pria itu,dan berpikir macam-macam di dalam otaknya apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.Apakah dirinya akan di jual dan di jadikan pemuas nafsu seperti pada film dan novel yang sering Ia baca.


Cklek.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka,Erli pun terkejut dan melotot kan matanya saat melihat Pria tampan yang membuka pintu kamar itu.


__ADS_2