
Erli dan Re menyusuri koridor rumah sakit.Erli masih bertanya-tanya siapa sebenarnya yang sedang ada di rumah sakit.Erli menghentikan langkahnya saat melihat Mama dan Kakaknya sedang berada di ruang tunggu.
Erli melepas genggaman tangannya dan segera berlari menghampiri Mama dan Kakaknya yang sedang duduk di kursi tunggu.
Re membiarkan Erli menghampiri Kakak dan Mamanya.
''Mama..,Kak Naya .'' panggil Erli saat sudah berada di hadapan Mama dan Kakaknya.
Tari dan Naya menoleh dan menatap Erli yang sedang ada di hadapan mereka.
''Papa mana Ma ?'' tanya Erli sambil celingukan mencari keberadaan Papanya.
Tari berdiri dari duduknya, dan langsung memeluk putri bungsunya.
''Papa kenapa Ma ?'' tanya Erli yang mulai merasakan tak enak.
Tari mengurai pelukannya,dan menatap Erli.
''Papa ada di dalam,masih di tanganni oleh dokter.'' Jawab Tari sambil menatap pintu kamar pasien yang sedang tertutup.
Tidak lama kemudian,pintu kamar rawat Wijaya terbuka.Seorang pemuda berpakaian dokter keluar dan tersenyum menatap 3 wanita yang berbeda usia di depan pintu.
Dokter Angga melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya.
''Pasien ingin bertemu dengan putri bungsunya ,'' ucap Angga memberitahu keinginan pasien.
Erli masuk ke dalam kamar rawat Papanya.
Wijaya yang tengah tiduran di atas brankar,tersenyum menatap kedatangan Erli yang berdiri di depan pintu kamar rawat inapnya.
Erli berdiri di depan pintu rawat inap Papanya,Erli meneteskan air matanya saat melihat tubuh Papanya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
''Apa Kamu ingin tetap di situ Sayang? tidak ingin menyapa Papa ?'' tegur Wijaya saat melihat Erli yang diam saja di depan pintu.
Erli langsung berlari dan menghambur memeluk Papanya.
Wijaya mengusap punggung putrinya yang sedang bergetar menahan tangis.
''Papa baik-baik saja Sayang .'' Ucap Wijaya sambil menenangkan putrinya.
Sedangkan di luar kamar rawat inap Wijaya.
Naya tersenyum saat melihat Re yang sedang bersandar di tembok,sambil memasukkan ke dua tangan di masukkan ke dalam saku celana.Dan di sampingnya dokter Angga.
''Ma,Naya mau nemuin teman Naya bentar.'' Izin Naya sambil menatap Mamanya tengah duduk di ruang tunggu.
Tari menganggukkan kepalanya tanpa melepas pandangannya ke arah pintu kamar ruang rawat Wijaya yang masih tertutup rapat.Seakan pintu itu akan menghilang jika Tari mengalihkan pandangannya.
Naya menghempuskan nafas panjang, Ia merapikan penampilannya.Dan bergegas menghampiri di mana Re dan dokter Angga sedang berbincang.
__ADS_1
''Re bisa Kita bicara ,'' izin Naya saat sudah ada di samping Re dan Angga.
Pembicaraan Re dan Angga terhenti. Angga menatap sekilas Naya dan menatap Re yang memasang wajah datar dan dingin.
''Gue pergi dulu,kalau ada apa-apa Elo tahukan ruangan Gue .'' Pamit Angga sambil menepuk lengan Re.
''Hem,'' Re cuma menjawab dengan deheman.
Angga menatap sekilas Naya sebelum pergi.
''Elo mau bicara apa ?'' tanya Re langsung tanpa basa basi.
Re masih berdiri bersandar di tembok dengan ke dua tangan di masukkan ke dalam saku celana,pandangan lurus menatap tembok yang ada di hadapannya.
''Gue mau ngucapin terima kasih karna udah bawa Papa ke rumah sakit .'' Ucap Naya sambil menatap Re yang ada di sampingnya.
''Hem,ucapan terima kasih Lo gue terima.'' Sahut Re.
''Gue,tahu Elo datang karna masih cinta Gue kan ?'' tebak Naya dengan percaya diri.
''Percaya diri sekali Anda ,'' cibir Re dengan tersenyum sinis.
''Gue tahu selama ini Elo mata-matain Gue kan .'' tebak Naya lagi.
''Tidak ada untungnya Gue mata-matain Elo,'' sahut Re dengan menatap datar Naya.
Re yang sudah muak dan malas meladeni setiap omong kosong Naya, memutuskan untuk pergi meninggalkan Naya.
''Abang....,'' panggil Erli.
Re membalik badannya dan mendapati Erli berdiri di depannya.
''Ada apa hem...?'' tanya Re sambil menatap Erli dengan lembut.
''Papa ingin bertemu dengan Abang ,'' Erli memberitahukan apa kemauan Papanya.
Re melewati Naya begitu saja.
Naya menatap tidak percaya Re yang menatap Erli dengan lembut,sedangkan dengan dirinya Re enggan menatapnya. Naya menatap punggung Re dengan nanar.
''Er...,'' panggil Naya.
Langkah Erli terhenti di depan pintu kamar rawat papanya.Erli tersenyum dan membiarkan Re masuk duluan ke kamar ruang rawat papanya.
Setelah pintu kamar rawat papanya tertutup,kini tinggal Erli dan Naya berada di luar.Karna Tari sudah terlebih dulu masuk ke kamar ruang rawat Wijaya.
''Ada apa Kak ?'' tanya Erli sambil duduk di samping Naya.
''Ada hubungan apa Kamu sama Re ?'' tanya Naya balik.
__ADS_1
''Bukankah ,Abang Re yang udah nolongin Papa ?'' tanya Erli balik tanpa mau menjelaskan ada hubungan antara dirinya dan Re.
''Kenapa Kamu manggil dia Abang ?''
''Wajar saja sih Aku manggil dia Abang, soalnya kan dia lebih tua dari Aku.'' Jawab Erli.
''Mama dan Papa sudah ngajari Aku harus manggil yang lebih tua dengan sopan.'' Lanjutnya lagi.
Naya terdiam,yang di ucapkan Erli memang benar.Tidak mungkin Erli memanggil Re dengan sebutan nama, karna jelas-jelas Re lebih tua dari Erli.
''Tidak ada lagi yang di bicarakan kak, Aku mau nemuin papa lagi.''Izin Erli sambil menatap Naya.
Naya cuma bisa menganggukkan kepalanya,dan membiarkan Erli masuk ke kamar rawat inap Wijaya.
Erli masuk ke kamar rawat wijaya,dan melihat Re duduk di samping brankar Papanya.
Tari tersenyum melihat Erli.
Erli tidak tahu apa saja yang di bicarakan Re dan Papanya.
''Erli kemari nak ,'' panggil Wijaya saat melihat Erli yang baru masuk.
Erli menghampiri Papanya.
Re pun berdiri dari duduknya di kursi dan menyuruh Erli untuk duduk di kursi yang di dudukinya tadi.
Erli duduk di kursi di samping brankar Wijaya,dan menatap Papanya yang berbaring di ranjang.
''Erli,Kamu tahu kan Papa tidak suka di bohongi ?''
Erli mengganggukkan kepalanya dan menatap penasaran ada apa sebenarnya Papanya berbicara seperti itu.Apa Re sudah menceritakan semua pada Papa.
Erli menatap Re yang berdiri di sampingnya.
Re cuma tersenyum saat Erli menatapnya.
''A..apa maksud Papa berbicara seperti itu ?'' tanya Erli gugup.
Wijaya menghembuskan nafas kasar, Wijaya menatap Erli dan Re secara bergantian.
Awalnya Wijaya sempat shok mendengar kabar ini,tapi dirinya bersyukur putrinya mendapatkan Pria yang lebih baik.
''Papa sudah berjanji pada diri Papa sendiri,'' Wijaya menjeda ucapannya dan melihat raut wajah khawatir putrinya.
Wijaya pun menatap Re yang diam tanpa ekspresi sedikitpun.
''Papa sebenarnya mau bilang apa?jangan bikin Erli tambah bingung pa .'' Ucap Erli semakin tambah cemas dan takut Papanya mengetahui pernikahan Mereka.
Wijaya menatap Re yang sedang menatapnya.
__ADS_1
''Re apa tawaranMu yang waktu itu masih berlaku ?'' tanya Wijaya sambil menatap Re.