
Di salah satu apartemen mewah, seorang pria sedang duduk di salah satu kursi dan di depannya berdiri sebuah kanvas.Pria itu melepas kaca mata bening yang selalu di pakainya bila sedang bersekolah.Pria itu menatap hasil lukisan yang baru di selesaikannya.Pria itu adalah Gibran.
Gibran sebenarnya bukan Pria culun,Ia berpura-pura culun untuk menutupi siapa dirinya.Ia memilih tinggal di apartemen setelah ayahnya menikah lagi.Ia tidak menerima istri baru ayahnya dan ke dua anak dari wanita itu.
Gibran menghembuskan nafas kasar.Ia melangkah masuk ke dalam kamar dan membuka lemari dan mengambil gelang pemberian seorang gadis dari masa lalunya.
''Aku akan membuatmu mengingat kembali siapa diriku Caca ,'' gumam Gibran sambil menatap gelang pemberian gadis yang di cintainya.
Gibran menatap dalam gelang yang ada ukiran dengan inisial T.
Gibran mengalihkan pandangannya saat benda pipih kesayangan berdering.Ia mengambil benda pipih itu di atas nakas,dan melihat siapa yang menghubunginya.
''Rico,apa ada hal penting mengenai Caca .'' Gumam Gibran saat melihat Rico menghubunginya.
''Ada apa Rico ?'' tanya Gibran saat panggilannya langsung terhubung.
''Maaf Tuan,ayah Tuan sekarang ada di rumah sakit .'' Sahut Rico memberitahu keadaan ayah Gibran.
Gibran terdiam sejenak,Ia memejamkan mata sejenak dan menghembuskan nafas panjang.
''Tuan...,apakah Tuan masih ada di sana ?'' tanya Rico saat tidak mendapat jawaban dari Tuannya.
''Ya,Aku akan ke rumah sakit .'' Sahut Gibran dan langsung menutup panggilannya.
Gibran menyimpan kembali gelang milik Caca ke dalam kotak kecil.Ia pun mengambil hodie miliknya dan segera keluar dari dalam kamar sambil memakai hodie itu.
Gibran tidak memakai kaca mata,Ia meninggalkan kaca matanya di apartemen dan tidak berpura-pura menjadi pria culun lagi.
Gibran keluar dari gedung apartemen dan langsung menuju di mana mobilnya terparkir.Gibran masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan area gedung apartemen.
Kurang lebih 30 menit mobil milik Gibran tiba di depan parkiran rumah sakit, Gibran mematikan mesin mobil.Gibran menghembuskan nafas panjang sebelum keluar dari dalam mobil miliknya.Gibran memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya.
Gibran membuka pintu mobil miliknya, lalu Ia keluar dari dalam mobil dan segera menutup pintu mobil kembali. Gibran melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan ke dua tangannya Ia masukkan ke dalam saku hodie yang di pakenya.
Gibran menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju di mana ruangan ayahnya berada.Gibran tersenyum tipis saat matanya menangkap Bryan dan Wanita yang berstatus istri ayahnya.
__ADS_1
Gibran melangkah mendekati Bryan dan Ibu tirinya.
''Bagaimana keadaan ayah ?'' tanya Gibran dingin saat dirinya berada di samping Bryan.
Bryan dan Ibu tirinya menoleh,Ibu tirinya tersenyum saat melihat Gibran mau datang ke rumah sakit.Sedangkan Bryan menatap Gibran dengan tatapan datarnya.
''Gibran akhirnya kau datang Nak ,'' ucap Desi Ibu tiri Gibran saat melihat kedatangan Gibran.
''Jangan panggil Aku Nak,Aku bukan putramu .'' Ketus Gibran yang tidak suka di panggil Nak oleh Desi.
''Gibran jaga bicaramu !'' hardik Bryan menatap tajam Gibran.
''Apa...?Kamu tidak terima ?'' tanya Bryan menantang.
''Gibran,Bryan hentikan ! ini rumah sakit .'' Cegah Desi sambil melerai ke duanya.
Perdebatan mereka berhenti saat tiba-tiba ruang rawat ayah Gibran di buka dari dalam.Dan keluarlah seorang pria memakai jas putih yang di ketahui seorang dokter.
''Dokter,bagaimana keadaan suami Saya ?'' tanya Desi menatap dokter yang usianya sama persis dengan putra pertamanya.
''Maaf Bu,keadaan suami ibu kritis ,'' jawab Dokter itu.
Bryan langsung memeluk ibunya yang menangis dan terduduk di kursi yang ada di belakangnya.
Sedangkan Gibran diam terpaku di tempatnya berdiri saat dokter itu mengatakan keadaan ayahnya yang kritis.
Cklek.
Pintu ruangan rawat inap ayah Gibran terbuka,seorang perawat keluar dari dalam ruangan itu dan menatap dokter itu dan lalu berpindah ke pada dua pria dan wanita yang sedang menangis.
''Maaf,di sini apa ada yang namanya Gibran ?'' tanya Suster itu.
Gibran tersadar dari lamunannya.
''Saya Sus,yang bernama Gibran .'' Sahut Gibran.
__ADS_1
''Mari ikut Saya ,'' ajak suster itu sambil membuka pintu ruangan ayah Gibran.
Gibran masuk ke dalam ruang rawat inap ayahnya.Gibran diam terpaku saat melihat pria paruh baya terbaring di ranjang dengan di pasangi alat-alat di tubuhnya.
''Gibran....,'' panggil ayah Gibran lirih.
Namun tidak ada jawaban dari Gibran.
''Gib...ran...,'' panggilnya lagi.
''Tuan Gibran ,'' panggil Suster itu.
Gibran tersentak kaget saat Suster memanggilnya.Gibran menoleh dan menatap Suster itu.
''Ayah anda memanggil ,'' ucap Suster itu memberitahu.
Gibran mendekati ranjang ayahnya.Ia meneteskan air matanya saat melihat tubuh ringkih ayahnya.
''Ayah ...,'' panggil Gibran lirih sambil memegang tangan ayahnya.
''Maafi...in a..yah...gib..ran...,'' ucap ayahnya terputus-putus.
''Gibran sudah memaafkan ayah ,'' jawab Gibran sambil mencium tangan punggung ayahnya.
Sebenci-bencinya Gibran pada ayahnya, di lubuk hatinya yang paling dalam Gibran sangat menyayangi ayahnya.
''Gib....,''
''Jangan banyak bicara yah,Ayah harus sembuh ,'' potong Gibran tidak ingin ayahnya berbicara lagi.
''Gibran janji kalau ayah sembuh,Gibran akan pulang ke mansion dan menuruti apa mau ayah .'' Lanjutnya lagi.
Ayah Gibran tersenyum dan meneteskan air matanya,Pria tua itu memandang ke atas dan tersenyum saat melihat bayangan putih di atasnya.
''Aku sudah menepati janjiku Maira, Aku sudah siap kalau kau mau mengambil nyawaku .'' Batin Pria tua itu sambil tersenyum menatap putranya.
__ADS_1