
Erli menatap Papanya,guratan kecemasan terlihat jelas di wajah Tuanya.
''Pa,ini .'' Erli menyodorkan kunci mobil dan beserta surat-surat penting mobil miliknya di hadapan Papanya.
''Apa ini Erli ?'' tanya Wijaya sambil mengerutkan keningnya.
Naya,Tari dan Sandi juga terkejut menatap Erli yang menyodorkan kunci mobil miliknya ke hadapan Wijaya.
''Erli tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian,dan ini Erli rela kalau mobil Erli di jual untuk membayar hutang Suami Kak Naya .'' Jawab Erli yang mengerti wajah bingung Keluarganya kenapa Ia memberikan kunci mobil itu.
''Kamu yakin Er ?'' tanya Naya memastikan keputusan Adiknya itu.
''Iya Kak,Erli yakin .'' Jawab Erli tersenyum menatap Kakaknya.
Wijaya lagi-lagi tidak bisa berbicara apa-apa saat Erli Putri bungsunya yang selalu mengalah.Wijaya memeluk Erli dengan sangat erat.
''Terima kasih sayang ,'' ucap Wijaya, sambil mencium kening Putri bungsunya.
''Erli akan lakuin apa saja untuk kebahagian Papa ,'' ujar Erli berjanji dalam dirinya sendiri akan rela melakukan apa saja demi Papanya.
Naya dan Tari tersenyum saat barang berharga milik Mereka aman.
Sedangkan di Mansion Pratama.
Tasya sedang menatap kesal Mahendra Kakaknya yang sedang duduk santai sambil menyesap kopi yang di suguhkan oleh bi Mirna.
''Pa,lihat Kakak .'' Adu Tasya pada Pratama saat melihat Pratama dan Andre baru masuk ke dalam Mansion.
Pratama melihat Hendra yang sedang duduk sambil menyesap kopinya.
''Kakak Kamu sedang minum kopi, Apa salahnya ?'' tanya Pratama sambil menatap Putri bungsunya itu.
__ADS_1
Andre dan Hendra terkekeh saat mendengar Pratama menanyakan itu.
''Ih bukan itu maksud Tasya Pa ,'' Ucap Tasya kesal sambil menatap kesal Andre yang terkekeh.
''Lalu ?'' tanya Pratama sambil mengajak putrinya untuk duduk di kursi sofa yang tidak jauh dari Hendra dan Andre sedang duduk.
''Pa,Aku tidak mau lagi di kawal .'' Protes Tasya.
''Kenapa ?'' tanya Pratama.
''Pokoknya Aku tidak mau aja Pa ,'' rengek Tasya.
Pratama menghembuskan nafas panjang saat mendengar rengekan dari Putrinya.
''Dengar Tasya,KakakMu melakukan itu demi kebaikanMu .'' Ucap Pratama sambil mengelus rambut Tasya.
''Pa,Aku ingin bebas seperti teman-temanKu .'' Rajuk Tasya lagi.
''Kakak Nyebelin ,'' rajuk Tasya sambil memalingkan wajahnya tidak mau menatap Kakaknya.
Pratama cuma menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang merajuk.
Pratama mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat Tasya di culik dan ingin di jual ke para Pria hidung belang.
Waktu itu Tasya remaja mengalami trauma dan harus menjalani terapi agar trauma itu hilang.
Setelah kejadian itu Mereka memutuskan untuk mencari pengawal untuk Tasya.
Lamunan Pratama buyar saat pintu bel berbunyi.
''Bi ,'' panggil Pratama.
__ADS_1
Seorang Wanita Paruh baya menghampiri para Tuannya yang sedang ada di ruang keluarga.
''Iya Tuan ,'' jawab Bi mirna.
''Coba lihat siapa yang datang ,'' suruh Pratama sambil menunjuk pintu di depan rumah Mereka.
Bi mirna bergegas menuju pintu dan betapa terkejutnya Bi Mirna saat mendapati ke dua Wanita yang sudah lama tak di lihatnya.
''Nyonya,Oma !'' pekik Bi Mirna terkejut dengan kedatangan Mereka berdua.
Rania dan Maria tersenyum melihat Bi Mirna yang terkejut.
''Tu.... ,''
''Stt,''
Maria mengisyaratkan untuk diam kepada Bi Mirna dengan meletakkan jarinya di mulut bi Mirna.
Bi Mirna yang mengerti pun menganggukkan kepalanya untuk diam.
Bi Mirna membulatkan matanya dan mulutnya terbuka saat melihat siapa yang baru keluar dari dalam taksi.
Bi Mirna mengedipkan matanya berulang kali untuk memastikan yang di lihatnya adalah nyata bukan halusinasi.
Rania dan Maria tersenyum menatap Bi Mirna yang terkejut.
''Nyonya itu ,'' tunjuk Bi Mirna pada Pria yang keluar dari dalam taksi adalah nyata.
Rania menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Bi Mirna kalau yang di lihatnya adalah nyata.
Bi Mirna tidak menyangka Pria yang di lihatnya adalah benar Adennya yang sudah bertahun-tahun di luar negri.Ia tidak menyangka Adennya akan pulang ke tanah air setelah insiden itu terjadi.
__ADS_1