
Re keluar dari ruangan VVIP dengan membawa Erli di pundaknya.
''Turunin Aku Bang,malu di lihatin banyak orang ,'' Ucap Erli sambil menatap para pengunjung yang menatap kepergian mereka.
Re tidak mempedulikan ucapan Erli,Ia pun terus melangkah keluar dari dalam club tanpa menurunkan Erli di pundaknya.
Sesampainya Re di parkiran,Re menurunkan Erli di samping mobilnya.
Erli menatap kesal Re.
''Masuk ,'' titah Re sambil membuka pintu mobil miliknya.
Erli yang masih kesal dengan Re,tidak menuruti perintah Re.
''Mau kemana ?'' tanya Re sambil memegang lengan Erli yang akan pergi.
Erli memutar bola mata malas saat Re mencekal lengannya.
''Tentu saja mau masuk ke dalam ,'' jawab Erli sambil berbalik menatap Re.
''Lagi pula temanKu masih di sana,dan juga sepatuKu masih tertinggal di sana .'' Lanjutnya lagi sambil menunjukkan kakinya yang tidak memakai sepatu.
''TemanMu aman bersama dengan temanKu ,'' sahut Re sambil mendorong Erli supaya masuk ke dalam mobil.
''Dan soal sepatu Mu itu biarkan saja nanti beli yang baru ,'' ucapnya lagi saat Erli akan membuka suaranya.
Erli mendengus dengan kesal saat Re menutup pintu mobil miliknya.
Re lalu memutari mobilnya dan membuka pintu samping kemudi,lalu Ia masuk ke dalam mobil.Setelah Re duduk di belakang kemudi Ia pun kembali menutup pintu mobil.
Re menarik sealtbeat yang ada di sampingnya dan melingkarkan sealtbeat itu di tubuhnya.
Re melirik sekilas Erli yang memalingkan wajahnya menatap jendela mobil yang ada di sampingnya.
Re menggelengkan kepalanya saat Erli tak memasang sealtbeat itu di tubuhnya.
Erli menoleh,Ia ingin bertanya kenapa mobil belum juga keluar dari parkiran. Erli terkejut saat Re tiba-tiba mencodongkan tubuhnya ke arahnya.
''Mau apa Bang ?'' tanya Erli sambil menatap waspada Re.
Re diam saja tidak menjawab pertanyaan Erli.
Erli reflek memejamkan matanya dan memundurkan kepalanya di sandaran jok mobil.
Re mengerutkan keningnya saat melihat Erli memejamkan matanya.Re menahan tawanya saat Erli mengira dirinya akan menciumnya.Re menggelengkan kepalanya dan menyentil dahi Erli.
''Auw...,'' pekik Erli sambil mengelus keningnya.
''Mikirin apa hmmm ?'' tanya Re sambil menarik sealtbeat yang ada di samping Erli dan memasangkan ke tubuhnya.
Erli memalingkan wajahnya saat menyadari kebodohannya yang mengira Re akan menciumnya.Erli tidak mau Re melihat wajahnya yang tiba-tiba memanas karna ketahuan membayangkan dirinya akan di cium.
__ADS_1
Re menggelengkan kepalanya dan menyunggingkan senyum tipis saat tidak sengaja melihat wajah Erli yang menahan malu.
Sedangkan di ruangan VVIP.
Marcel menghampiri Samuel yang sedang duduk di kursi sofa sambil memijit pelipisnya.
''Sam,katakan siapa gadis itu ?'' tanya Marcel sambil duduk di sebelah Samuel.
''Gadis yang mana ?'' tanya Samuel yang belum paham.
''Ck,jangan pura-pura tidak tahu Sam ,'' Marcel berdecak dengan sebal saat Samuel malah balik bertanya.
''Katakan aku tak mengerti apa maksud Mu ?'' tanya Samuel.
''Sam,jangan buat aku membunuh Mu sekarang juga ,'' Marcel menatap kesal Sam yang pura-pura sedang berpikir.
''Ha...Ha...Ha...,'' Samuel tertawa melihat Marcel kesal.
Samuel menghentikan tawanya saat melihat Marcel ingin melayangkan sepatu milik Erli yang tertinggal di tempat itu.
''Gadis itu Istri Re ,'' sahut Samuel.
Marcel menatap Samuel ingin melihat apakah Samuel bercanda atau tidak.
''Kenapa ?loe tidak percaya kalau gadis tadi Istri Re ?'' tanya Samuel yang mengerti wajah tidak percaya Marcel.
''Ya...Ya...Gue percaya ,'' sahut Marcel sambil menganggukkan kepalanya.
Pintu ruangan VVIP di buka.
Marcel dan Samuel menatap Andre yang baru masuk ke dalam ruangan VVIP setelah mengantar Sandrina sampai kos-kosan milik nya.
Andre dengan terpaksa mau mengantar Sandrina atas ancaman dari ke dua sahabatnya.
''Cie,yang sebentar lagi mau nikah ,'' goda Samuel sambil menatap Andre yang duduk di kursi samping Marcel.
Andre menatap kesal Samuel yang menggodanya.
''Dre,kau tidak menurunkannya di jalan kan ?'' tanya Marcel memastikan.
''Hmm,'' sahut Andre sambil menyesap minuman anggur yang di gelasnya.
''Dre,gue peringatin sama elo,jangan sakiti Sandrina,dia gadis baik-baik .'' Pesan Marcel sambil menepuk bahu Andre.
Andre cuma menyunggingkan senyum tipis saat mendengar Andre mengatakan Sandrina wanita baik-baik.
Mana ada wanita baik-baik tapi bekerja di tempat ini,pikir Andre.
''Gue tahu Elo tidak mudah mempercayai ucapan Gue,Sandrina terpaksa bekerja di sini karna keadaan ,'' Marcel menjeda ucapannya ingin melihat reaksi dari Andre.
''Gue tidak peduli,dia bekerja di sini karna apa,tapi satu hal yang loe ingat setelah anak Sandrina lahir,gue akan ceraikan Dia,dan membuktikan pada kalian semua anak yang di kandung Sandrina bukan anak Gue .'' Ucap Andre yang mempercayai kalau itu bukan darah dagingnya.
__ADS_1
Andre beranjak dari duduknya dan akan melangkah pergi meninggalkan ke dua sahabatnya.
''Kalau ternyata itu Anak Elo ?'' tanya Samuel menghentikan langkah Andre yang akan membuka pintu.
Andre terdiam sejenak,Ia pun menggelengkan kepalanya saat lagi-lagi egonya mengatakan kalau yang di kandung Sandrina bukan darah dagingnya.
Samuel dan Marcel menghembuskan nafas kasar saat menatap punggung Andre yang keluar dari ruangan VVIP.
Pagi Hari di kediaman Wijaya.
Tari istri Wijaya tidak mempunyai firasat apa-apa tentang suaminya.Setahu Tari Wijaya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
Tari saat itu tengah merangkai bunga di temani Bi Nah.Naya menuruni anak tangga menghampiri Mamanya yang sedang asik merangkai bunga.
Langkahnya terhenti saat tiba-tiba ada yang memencet bel rumahnya.
''Biar Naya aja Bi,yang buka pintu .'' Cegah Naya saat melihat Bi Nah ingin melangkahkan kakinya.
Bi Nah menghentikan langkah kakinya, Bi Nah tersenyum menatap Naya yang melangkah menuju pintu utama.
Naya membuka pintu dan terkejut saat melihat di depan terasnya terdapat dua polisi.
''Selamat pagi ,'' sapa salah satu polisi saat melihat Naya membuka pintu rumahnya.
''Selamat pagi Pak ,' sapa balik Naya sambil menatap bingung ke dua polisi itu.
''Apa benar ini rumah Pak Wijaya ?'' tanya Pak polisi itu lagi.
''Iya benar Pak ,'' jawab Naya.
''Bisa panggilkan Mamanya ,'' pinta Pak polisi itu.
''Tunggu sebentar ,'' ucap Naya sambil masuk ke dalam.
Naya menghampiri mamanya yang ada di ruang keluarga.
''Ma ,'' panggil Naya.
''Ada apa Sayang ?'' tanya Tari sambil menatap Naya.
''Di luar ada Pak polisi Ma ,'' sahut Naya memberitahu kalau di luar ada Pak polisi.
Tari mengerutkan keningnya penasaran kenapa polisi mendatangi rumah mereka.
Tari dan Naya lalu menghampiri polisi yang ada di teras rumah mereka.
''Ada apa ya Pak mencari Saya ?'' tanya Tari penasaran.
''Begini Bu,Apa benar ini barang milik Pak Wijaya ?'' tanya Pak polisi sambil menunjukkan barang-barang yang ada di kantong plastik di hadapan Tari.
Tari menatap terkejut barang-barang milik suaminya dan ada noda darah yang sudah mengering di jam tangan dan dompet milik suaminya.
__ADS_1
Setelah Pak polisi memberitahu keadaan Wijaya,Tari pun yang shok hingga jatuh pingsan di pelukan Naya.