
Langkah kaki itu semakin mendekat.Re dan Samuel terkejut melihat Wijaya yang terduduk di lantai bersandar di tembok, sambil memegangi dadanya yang sakit. Sedangkan Tari dan Naya menangis di samping Wijaya.
Re dan Samuel langsung masuk dan menghampiri Wijaya.
Wijaya tersenyum saat melihat Re yang datang.
Re menempelkan tangannya ke bibirnya, agar Wijaya tidak banyak berbicara.
''Sam,suruh Aldo bawa om Wijaya ke rumah sakit .'' Perintah Re.
''Terima kasih Re ,'' ucap Naya bernafas lega melihat Re datang.
Re tidak mengubris ucapan Naya.
Sandi yang sejak tadi memunggungi mereka,berbalik dan terkejut melihat Pria yang pernah di temui Naya.
Samuel memapah Wijaya untuk keluar dari dalam rumah,dan membawanya menuju di mana mobil yang di dalamnya ada Aldo.
Tari dan Naya segera mengikuti Samuel meninggalkan Re di dalam bersama Sandi.
Sebelum Naya benar-benar keluar dari rumah dan menyusul Mama dan Papanya,Ia tersenyum menatap punggung Re.Naya berpikir Re datang pasti untuk dirinya,Naya berbalik dan melanjutkan langkahnya untuk menyusul Mama dan Papanya.
Aldo membuka pintu mobil penumpang, supaya Sam memasukkan Wijaya di dalam mobil.
''Pastikan mendapat penanganan yang terbaik,'' pesan Samuel setelah menutup pintu mobil.
''Iya,Saya pergi dulu .'' Pamit Aldo sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Setelah memastikan semua masuk ke dalam mobil,Aldo segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit milik Re.
Samuel kembali masuk ke dalam rumah.
Kedua pria yang mencari keberadaan Erli pun sudah kembali dari lantai atas.
''Bos,Gadis itu tidak ada .'' Lapor salah satu pria berpakaian preman.
Sandi diam,Ia menatap dengan tajam Re yang berdiri di tempatnya.Sandi seperti pernah melihat Pria ini.
Sandi menyipitkan matanya saat teringat dengan si culun.Tapi saat melihat Samuel yang sudah berdiri di samping Re Ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
Sandi memang mengenal Samuel. Mereka kuliah di kampus yang sama, Walaupun Mereka tidak satu jurusan. Tapi untuk menjawab rasa penasarannya akhirnya Ia pun bertanya.
''Bukankah Kau si culun itu ?'' tanya Sandi menatap Re lekat.
Re menyunggingkan senyum tipis,Ia tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dari Sandi.
Dengan santai Re melangkah dan berdiri di depan Sandi.
Samuel pun ikut melangkah mendekat ke arah Sandi.
''Ya ini Aku,si culun yang selalu kalian hina dan selalu kalian bully .'' Sahut Re sambil menepuk pipi Sandi.
''Tidak mungkin ,'' sangkal Sandi yang tidak mempercayai pria yang ada di hadapannya itu adalah si culun.
''Kenapa Kau tidak percaya?dia memang Aldi .'' Sarkas Samuel sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
''Bukankah kalian berdua dulu tidak saling mengenal.'' Cecar Sandi yang masih belum mempercayainya.
''Terserah Kau mau mempercayainya atau tidak ,'' balas Samuel tak peduli.
Sandi ingat betul dulu Re kuliah berpenampilan culun,tapi sekarang Re jauh lebih beda dari penampilannya sekarang.Sekarang dirinya seperti Pria yang tidak mudah di tindas.
Re yang tidak mau berbasi-basi, menyodorkan tangannya ke arah Samuel.
Samuel yang mengerti mengambil berkas yang ada di balik jasnya,dan menyerahkan ke tangan Re.
Re menerima berkas itu,tanpa mengatakan apa-apa langsung menyodorkan berkas itu ke hadapan Sandi.
Sandi mengerutkan keningnya sambil menerima berkas yang di sodorkan oleh Re.
''Apa ini ?'' tanya Sandi sambil menunjuk berkas yang ada di tangannya.
''Lo gak buta huruf kan ?'' Sindir Samuel.
''Sialan ,'' umpat Sandi sambil mulai membuka berkas yang ada di tangannya.
Re dengan Santai masih berdiri sambil ke dua tangan Ia masukkan ke dalam saku celana.Menunggu Sandi selesai membaca berkas itu,dan jangan lupakan wajah dingin dan tidak bersahabat yang Ia tunjukkan kehadapan Sandi.
Sandi memulai membaca berkas itu, Ia membulatkan matanya saat menyadari surat rumah ini sudah berpindah tangan.
''Kau ingin mencoba menipuKu .'' Sandi menatap nyalang Re yang menatap dingin ke arahnya.
''Tidak ada gunanya Aku menipuMu ,'' sahut Re.
''Omong kosong ,'' Sandi tidak mempercayai surat yang di tunjukkan oleh Re.
''Sudah jelas kan sekarang rumah ini milik siapa,Kau bisa pergi sekarang dan jangan ganggu keluarga ini.'' Usir Samuel.
''Dan kau masih ingat kan pintu keluarnya?'' lanjutnya lagi.
Dengan kesal dan tidak bisa melawan, Sandi pun cuma bisa memendam amarahnya.
''Tunggu saja,Gue akan balas kalian .'' Ancam Sandi sambil keluar dari dalam rumah.
Ke dua pria berpakaian preman ikut keluar menyusul Sandi.
''Dengan senang hati Gue akan menunggu .'' Jawab Samuel.
''Tunggu....,'' suruh Re menghentikan Sandi.
Sandi berhenti di depan teras rumah.
Re melangkah di hadapan Sandi,Ia pun mencengkram kerah kemeja Sandi dengan Kuat.
''Jangan pernah ganggu Erli lagi,kalau sampai Elo ganggu Erli lagi Elo akan habis di tangan Gue .'' Ancam Re sambil melepas cengkraman tangannya.
Sandi terhuyung ke belakang,beruntung dua preman yang membawanya menangkapnya.kalah tidak sudah di pastikan dirinya terjatuh di lantai yang dingin.
Sandi dan ke dua preman itu segera pergi meninggalkan kediaman Wijaya.
''Kau pulanglah Sam,'' usir Re tanpa menatap Sam yang ada di belakangnya.
__ADS_1
''Kau mengusirKu ?''
''Bukan kah kau harus kembali ke firma hukum ?''
''Ya Aku sampai lupa ,'' sahut Samuel yang baru teringat Ia harus kembali ke firma hukum secepatnya.
''Kau mau ikut denganKu atau mau menunggu Aldo ?'' tanya Samuel.
Re diam saja,Re tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dari Samuel.
Re mengibaskan tangannya dan berbalik melangkah masuk ke dalam rumah.
Samuel mengendikkan bahunya,dan pergi menuju di mana mobilnya berada.
Sedangkan di tempat lain.
Di dalam sebuah taksi.Erli duduk di kursi penumpang,sambil memainkan ponselnya.Dan di sampingnya Linda juga duduk dengan memainkan ponsel miliknya juga.
Mobil taksi tiba-tiba berhenti.
''Ada apa Pak ?'' tanya Erli sambil menatap supir taksi.
''Maaf Non,sepertinya taksi saya mogok.'' Jawab supir taksi.
''Sebentar Saya cek dulu mesinnya ,'' pamit supir taksi sambil keluar dari dalam mobil.
Erli dan Linda juga ikut keluar dari dalam mobil.
''Bagaimana Pak ?'' tanya Linda sambil mengelap keringatnya dengan punggung tangannya.
''Ini harus di bawa ke bengkel Non, silahkan Non mencari taksi lain saja ,'' suruh supir taksi itu.
''Iya Pak ,dan ini uangnya .'' Jawab Erli sambil menyerahkan uang berwarna merah kepada supir taksi.
''Tidak usah bayar Non ,'' tolak supir taksi.
''Tidak apa-apa pak Saya iklas ,'' paksa Erli sambil menyerahkan uang itu ke tangan pria yang seumuran ayahnya.
Pria tua itu tersenyum saat menatap Erli dan berterima kasih.
Erli dan Linda pun akhirnya mencari taksi lain.
Setelah mereka duduk di dalam taksi, taksi pun melaju ke rumah Erli. Sesampainya di rumah Erli,Erli keluar dari dalam taksi.Dan melambaikan tangannya ke arah Linda.
Erli membuka pintu pagar,dan masuk melewati pagar rumahnya.Erli pun membuka pintu rumahnya.
''Ma,Pa,Erli pulang !'' teriak Erli saat baru menutup pintu.
''Kemana perginya mereka ,'' guman Erli saat mendapati keadaan rumahnya sepi.
Erli pun menaiki anak tangga untuk menuju di mana kamarnya berada. Sesampainya Erli di depan kamarnya,Ia membuka pintu dan kembali menutup pintu itu.
''Akh....!''
Erli terkejut dan membulatkan matanya saat melihat sosok seorang pria tampan tengah duduk menatapnya di kursi belajarnya.
__ADS_1