
''Udah ya Sya nangis nya malu di lihatin banyak orang ,'' bujuk Erli sambil mengelus punggung Tasya yang ada di pelukan Linda.
Linda dan Erli saling berpandangan saat tidak ada respon dari Tasya.
''Ealah ni bocah malah tidur ,'' Linda mendengus kesal saat melihat Tasya tertidur di dadanya.
''Kecapean nangis Dia,sampai Dianya tertidur .'' kekeh Erli sambil menggelengkan kepalanya.
''Sya bangun ,'' panggil Linda sambil memegang bahu Tasya.
Tasya menggerakkan badannya. Kepalanya sedikit pusing setelah beberapa jam menangis.Tasya menatap ke dua sahabatnya yang sejak tadi menemaninya.
''Bryan jahat Er ,'' ucap Tasya yang ingin kembali menangis saat teringat kejadian di kantin.
Linda memutar bola mata malas saat melihat Tasya ingin kembali menangis.
Sedangkan Erli menghembuskan nafas panjang melihat Tasya yang kembali menangis.
''Udah yok,kita ke kelas malu di lihatin .'' ajak Linda sambil melihat sekeliling taman.
Erli pun melihat sekeliling taman dan melihat beberapa siswa dan siswi saling berbisik dan melihat ke arah Mereka.
Erli,Linda dan Tasya akhirnya memilih masuk ke dalam kelas tidak mau menjadi pembicaraan Mereka yang ada di taman.
Sedangkan di rooftop sekolah.
__ADS_1
Seorang Pria berkaca mata sedang menatap tajam seorang Pria yang ada di hadapannya.
Kedua Pria itu tidak lain dan tidak bukan Gibran dan Bryan.
Gibran melepas kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.Ia menyimpan kaca mata itu di dalam saku seragamnya.
Bryan pun menatap tajam Gibran yang ada di hadapannya.
''Ada apa Kamu manggil Aku kesini ?'' tanya Bryan tidak melepas pandangannya dari Gibran.
''Kalau Kamu cuma menyuruh Aku untuk pulang,percuma .'' lanjut Bryan sambil tersenyum sinis.
''Percaya diri sekali Kamu ,'' ucap Gibran menatap sinis Bryan.
''Kamu mau pulang atau tidak, itu bukan urusanKu .'' lanjutnya menatap tajam Bryan.
''Kenapa Kamu buat Tasya menangis ,''
Bryan tersenyum tipis saat Gibran mengatakan itu.
''Tasya pacarKu tidak ada urusannya denganMu ,'' jawab Bryan.
''Lepaskan Tasya ,'' suruh Gibran.
''Memangnya siapa Kamu menyuruhKu untuk melepaskan Tasya ?'' tanya Bryan sambil terkekeh.
__ADS_1
Gibran terdiam Ia tidak mungkin mengatakan Ia menyukai Tasya.
''Kenapa diam ?'' tanya Bryan lagi yang melihat Gibran terdiam.
''Aku tidak mau Kamu menyakiti Tasya, lebih baik Kamu putusin dia .''
Setelah mengatakan itu Gibran pun pergi ,Ia tidak mau kalau nantinya Bryan mengetahui kalau nantinya dia menyukai Tasya.
Bryan menggelengkan kepalanya sambil melihat punggung Gibran yang meninggalkan dirinya di rooftop atas sekolah.
''Maafin Aku Sya ,'' gumam Bryan menatap Tasya yang masuk ke dalam kelas.
Bryan menghembuskan nafas panjang saat teringat Tasya menangis sambil berlari keluar dari kantin setelah melihatnya dengan Maya.Terlebih Maya bergelayut di lengannya dan bersandar di bahunya.
Bryan masih setia berdiri di rooftop atas sekolah sambil menatap halaman sekolah.
''Pasti Kamu salah paham Sya ,'' ucap Bryan dalam hati sambil menatap halaman sekolah.
Sedangkan Samuel sedang berada di dalam apartemen sedang mencari surat yang akan di tanda tangani oleh Erli.
Samuel mengobrak-abrik isi lemari hingga apartemennya seperti kapal pecah.
Samuel tersenyum dan bernafas lega saat menemukan kertas yang di carinya.
''Selamat , akhirnya tidak kena semprot ,'' gumam Samuel sambil menatap kertas yang di pegangnya.
__ADS_1
Detik selanjutnya Ia terkejut saat mendapati apartemennya layaknya kapal pecah akibat ulahnya.
Samuel menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi sofa dan menatap nanar pada ruangan apartemennya yang berantakan.