
Di dalam club malam milik Marcel.
Musik dj menggema di dalam gedung club saat Sandrina baru masuk ke dalam club malam milik Marcel.Ia melihat para pengunjung ada yang hanya duduk-duduk sambil menikmati Vodca dan di temani oleh wanita berpakaian seksi,ada juga yang berjoget-joget di tempat yang di sediakan di tempat club itu.Sandrina menggelengkan kepalanya saat tiba-tiba kepalanya kembali pusing.
''Baru datang San ?'' tanya melka rekannya saat berpapasan.
Sandrina menghentikan langkahnya dan tersenyum menatap Melka yang sedang membawa nampan berisikan botol minuman yang Ia ambil dari meja bartender.
''Iya ,'' jawab Sandrina.
''Aku duluan ya,mau ke lantai atas mengantarkan ini .'' Melka mengangkat tangannya yang membawa nampan berisikan botol minuman dan beberapa gelas kosong.
Sandrina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Melka menaiki anak tangga untuk ke lantai dua.
Sedangkan Sandrina kembali melanjutkan langkahnya yang akan menuju ruang ganti.Sandrina menghentikan langkahnya saat berada di depan Marcel yang sedang bekutat dengan gelas dan botol yang ada di depannya.
''Kak Marcel ,'' panggil Sandrina tepat berada di depan Marcel.
__ADS_1
Marcel menatap Sandrina yang wajahnya pucat.
''Sandrina,apa kau sakit ?'' tanya Marcel saat Sandrina berada di depan meja bartender.
''Cuma sedikit pusing saja kak ,'' jawab Sandrina sambil tersenyum menatap Marcel.
''Sebaiknya kau pulang istirahat saja di rumah San ,'' suruh Marcel sambil menuang vodca ke dalam gelas.
''Tidak kak terima kasih,nanti aku minum obat saja .'' Tolak Sandrina sambil tersenyum menatap Marcel yang sedang fokus dengan botol yang ada di tangannya.
Sandrina duduk di depan kursi yang ada di hadapan Marcel saat lagi-lagi kepalanya merasakan pusing.Tiba-tiba perutnya merasa mual saat mencium bau parfum yang tiba-tiba menyengat di indra penciumannya.
''San,kau baik-baik saja ?'' tanya Marcel saat melihat gadis di depannya menutup mulutnya.
Sandrina yang sudah tidak kuat ingin mengeluarkan isi di dalam perutnya, akhirnya berlari ingin menuju kamar mandi.
Marcel menatap khawatir pada Sandrina yang wajahnya berubah pucat.
Sedangkan Sandrina di dalam kamar mandi,langsung memuntahkan isi di dalam perutnya yang hanya mengeluarkan berupa cairan saja. Sandrina menyalakan keran yang ada di wastafel dan mencuci mulutnya.
Sandrina menatap pantulan dirinya di depan cermin,Ia menatap wajahnya yang pucat.
''San,kamu sakit ?'' tanya Siska rekannya yang juga ada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
''Tidak panas ,'' ucap Mega saat tangannya menyentuh dahi Sandrina.
''Aku tidak enak badan saja,nanti minum obat juga sembuh .'' Sahut Sandrina.
''Apa jangan-jangan kamu.....,'' Siska tidak melanjutkan ucapannya saat teringat Sandrina tidak melayani tamunya sampai di ranjang.
''Jangan-jangan apa Sis ?'' tanya Mega yang penasaran.
''Tidak ada ,'' sahut Siska sambil menggelengkan kepalanya.
''Kita duluan ya San ,'' pamit Mega.
Sandrina cuma menganggukkan kepalanya.
Mega dan Siska saling berbisik dan menduga-duga apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Sandrina terdiam dan teringat kapan terakhir kali dirinya datang bulan,saat Ia tidak sengaja melihat pengunjung bar yang memegang pembalut.
Ia pun menggelengkan kepalanya saat teringat sudah lewat jadwalnya datang bulan.Tapi Ia coba menyakinkan dirinya pasti sebentar lagi dirinya akan datang bulan.
Sandrina membasuh wajahnya dengan air.Ia pun kembali menatap wajahnya yang masih terlihat pucat.
Tiba-tiba bayangan malam panas dirinya dan Pria yang tidak Ia kenal berkelabat di dalam kepalanya,layaknya kaset yang di putar.Ia takut membayangkan hal yang tidak Ia inginkan.Ia teringat betul pada malam itu pria itu tidak memakai pengaman sama sekali.Dan Pria itu menembakan benihnya di dalam rahim Sandrina bukan cuma satu kali.
__ADS_1
Ia menggelengkan kepalanya saat satu kata yang terlintas di dalam pikirannya.