
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu di club tempat Sandrina bekerja.
Sandrina berdiam diri di dalam kamar kosannya.
Dina yang baru pulang dari tempatnya bekerja menatap pintu kamar kosan milik Sandrina.
''Pagi Kak Dina ,'' sapa Arin yang baru keluar dari dalam mobil miliknya tepat berhenti di depan kosan milik Sandrina.
''Pagi Arin ,'' jawab Dina sambil tersenyum melihat Arin yang menghampirinya.
''Kak Dina baru pulang ya ?'' tanya Arin.
''Iya Arin,Kakak baru pulang ,'' jawab Dina. ''Mau jemput Sandrina ya ?'' tanya Dina.
''Iya Kak ,'' jawab Arin sambil memamerkan gigi putihnya.
Dina pun menganggukkan kepalanya dan meneruskan langkahnya menuju kamar kosannya yang melewati dua kamar dari kosan Sandrina.
Langkah Dina terhenti kala mendengar teriakan dari Arin.Dina lalu berlari menghampiri Kamar kosan Sandrina.
Alangkah terkejutnya Dina melihat Sandrina tergeletak di lantai dengan pergelangan tangannya yang berdarah.
''Arin,ayo Kita bawa Sandrina ke rumah sakit ,'' seru Dina sambil berlari keluar untuk memanggil satpam kos untuk membantu menggendong Sandrina.
''Pak Satpam !'' teriak Dina dari pintu kamar kosan Sandrina.
Mendengar teriakan dari Dina yang memanggil pak satpam,semua penghuni kamar kosan keluar dan melihat kenapa Dina berteriak.
Pak satpam segera menghampiri Dina.
''Ada apa mbk Dina ?'' tanya Pak satpam sambil mengerutkan keningnya.
''Tolong angkat Sandrina bawa masuk ke dalam mobil itu ,'' tunjuk Dina pada mobil milik Arin yang terparkir cantik di depan kosan milik Sandrina.
''Lo mbk Dina,ada apa dengan Sandrina ?'' tanya Pak satpam yang melihat Sandrina tergeletak di lantai.
__ADS_1
''Saya Tidak tahu Pak ,'' jawab Dina.
Semua penghuni kos terkejut saat melihat Pak satpam menggendong Sandrina yang tidak sadarkan diri dengan pergelangan tangannya yang mengeluarkan darah.
Dina dan Arin membawa Sandrina ke rumah sakit.
Sedangkan di SMK PELITA.
Setelah Bryan dari kantin Ia memutuskan pergi ke rooftop sekolah tempat biasa Ia nongkrong bersama satu gengnya yang ada di lantai paling atas.
Ia tersenyum tipis saat melihat Gibran menatap ke bawah di mana teman-temannya sedang bermain basket.
Gibran sosok pemuda tampan yang memakai kaca mata,semua temannya tahunya Gibran Pria lemah dan Pria culun yang mudah di tindas oleh teman-teman Bryan.namun di balik semua itu Gibran adalah Pria yang tidak lemah dan bukan Pria culun.Mereka semua tidak menyadari Gibran dan Bryan adalah Saudara tiri.Dari dulu Gibran mencintai Tasya,namun karna suatu kejadian sehingga membuat Gibran memendam perasaannya pada Tasya.
''Akhirnya Lo datang juga ,'' ucap Gibran tanpa menoleh kebelakang.
Gibran tahu siapa yang datang pasti itu Bryan.
Bryan berdiri di samping Gibran dan melihat apa yang di lihat Gibran.
''Ini ada pesan dari AyahMu ,''
Bryan menyodorkan kertas ke hadapan Gibran.
Gibran menatap kertas itu tanpa ada niatan untuk mengambilnya.
''Pulanglah AyahMu sakit ,'' ucap Bryan.
Gibran tersenyum tipis saat Bryan mengatakan Ayahnya sakit.
Gibran pikir pasti ini akal-akalan Ayahnya supaya Gibran mau pulang.
''Kamu pikir Aku akan percaya semua perkataanMu ,'' ucap Gibran tersenyum sinis.
''Terserah Kamu mau percaya atau tidak, yang jelas Aku sudah menyampaikan pesan dari AyahMu ,'' ujar Bryan sambil memberikan kertas itu ke tangan Gibran.
__ADS_1
Gibran meremas kertas yang di berikan oleh Bryan itu.
''Bryan tunggu ,'' suruh Gibran menghentikan langkah Bryan yang akan meninggalkan rooftop.
Bryan menghentikan langkahnya tanpa ada niatan untuk melihat Gibran.
Gibran melangkah dan mendekati Bryan yang berdiri di dekat tangga.
''Jangan sakiti Tasya ,'' ucap Gibran saat berdiri di samping Bryan.
''Kenapa ?'' tanya Bryan tersenyum tipis sambil menatap Gibran.
''Aku tahu Kamu cuma mendekati Tasya cuma untuk taruhan bersama teman-teman Mu itu kan ,'' ucap Gibran menatap dingin Bryan.
''Itu bukan urusan elo ,'' ucap Bryan yang kesal.
Setelah mengatakan itu Bryan meninggalkan Gibran di rooftop.
Gibran melihat punggung Bryan yang menuruni tangga untuk kembali ke kelasnya.
Gibran mengepalkan ke dua tangannya yang tidak mau Tasya di permainkan oleh Bryan,Ia akan terus mengawasi Tasya dan Bryan kemanapun Mereka pergi.
Gibran memakai kembali kaca matanya dan Ia menuruni tangga untuk kembali ke kelasnya.
Gibran berpapasan dengan Erli.
''Erli,tunggu ,'' suruh Gibran.
''Iya,ada apa ?'' tanya Erli.
''Titip ini buat Tasya ,'' ujar Gibran sambil memberikan coklat ke hadapan Erli.
''Oke ,'' jawab Erli sambil menerima coklat itu.
Tanpa di ketahui oleh Erli,orang suruhan Re yang bertugas mengikuti kemanapun Erli pergi memotret foto saat Erli menerima coklat dari Gibran.
__ADS_1