
Beberapa jam yang lalu sebelum Andre dan Joy datang menyelamatkan Tasya dan Gibran.
Tasya menatap gelisah Pria yang sedang tidur di atas sofa.Tasya tidak bisa melihat wajah Pria itu,karna kepala Pria itu menghadap sandaran sofa.
Perlahan-lahan Pria itu menggerakkan tubuhnya.
Tasya terkesiap kaget saat melihat wajah Pria itu.
''Gibran ,'' panggil Tasya saat Gibran baru saja duduk dan menatap ke arahnya.
Gibran pun tak kalah terkejutnya dengan Tasya,saat dirinya terbangun tiba-tiba dirinya berada di dalam kamar bersama seorang Gadis.Ia pun menatap Tasya yang duduk di tepi ranjang sambil menatapnya dengan waspada.
''Tasya, Aku ada di mana?dan kenapa bisa satu kamar dengan Kamu ?'' tanya Gibran sambil menatap bingung Tasya.
''Aku tidak tahu Kita ada di mana,yang jelas kita sepertinya di culik .'' Jawab Tasya.
Gibran terdiam dan mencerna perkataan dari Tasya,Gibran mengingat saat itu dirinya yang baru masuk ke dalam apartemen.Dan tiba-tiba dirinya di bekuk dan di beri semprottan obat bius,dan setelah itu dirinya tak ingat apa-apa.Dan tahu-tahu dirinya saat terbangun,sudah ada di dalam kamar bersama Tasya.
''Tadi,sebelum Pria-pria itu ninggalin Kamu.Salah satu Pria itu memasukkan obat ke dalam mulut Kamu .'' Ucap Tasya menyadarkan Gibran dari lamunannya.
''Obat apa ?'' tanya Gibran sambil mengerutkan keningnya.
''Aku tidak tahu,obat apa itu .'' Sahut Tasya yang memang tidak tahu obat apa itu.
Gibran cuma berharap itu bukan obat yang membuatnya hilang akal.
__ADS_1
Gibran berdiri dari duduknya,Ia menuju ke arah pintu dan mencoba mengetuk pintu itu.
''Buka pintunya !'' pekik Gibran sambil menggedor pintu yang ada di depannya.
''Diam lah,nikmati saja hadiahMu !'' teriak orang yang di luar kamar sambil tertawa.
''Sial ,'' umpat Gibran saat merasakan tubuhnya serasa memanas.
Gibran bersandar di depan pintu sambil memejamkan matanya,Ia lupa kalau di dalam kamar ini dirinya tidak sendiri.
''Sial,Mereka memberi Aku obat apa ?'' tanya Gibran pada diri sendiri.
Tasya memperhatikan Gibran yang sepertinya tidak baik-baik saja.
Gibran membuka matanya saat mendengar suara Tasya,yang terdengar seksi di telinganya.
''Aku tidak apa-apa,Aku baik-baik saja .'' Jawab Gibran cepat sambil menggelengkan kepalanya.
Gibran berusaha menyadarkan dirinya, dari nafsu yang sudah mencapai ubun-ubunya.Gibran yakin mereka pasti sudah memberinya obat perangsang, Dia tidak mungkin akan menyerang Tasya.
Gibran menggigit bibirnya supaya kesadarannya kembali.
''Gibran ada apa denganMu ?'' tanya Tasya panik yang melihat Gibran menggigit Bibir Gibran sendiri,sehingga bibir pria itu mengeluarkan darah.
''Jangan mendekat Tasya,di situ saja .'' Cegah Gibran saat melihat Tasya yang akan menghampirinya.
__ADS_1
Tasya terdiam di tempatnya,Ia bingung dan menatap kasian kepada Gibran. Ingin sekali dirinya menolong Pria itu, tapi Gibran tidak membiarkannya untuk mendekatinya.
''Gibran,berhenti.....jangan Kau lakukan itu !'' pekik Tasya terkejut saat Gibran membenturkan kepalanya di dinding tembok.
''Aku mohon jangan mendekat Tasya, ini semua demi kebaikanMu .'' Ucap Gibran memperingatkan dengan nafas yang memburu.
Tasya di landa kebingungan,Ia ingin sekali menolong Gibran yang sedang membenturkan kepalanya dan mengeluarkan darah.Setiap Tasya ingin melangkah maju ke arah Gibran,Gibran selalu mencegahnya dan memperingatkan.
''Kau tenang saja,Aku akan baik-baik. Dan Aku yakin,sebentar lagi bantuan akan datang .'' Ucap Gibran di sela-sela kepalanya Ia benturkan di tembok.
Gibran tidak peduli,rasa sakit yang ada di kepalanya.Yang Ia pikirkan terbebas dari obat terkutuk itu,tanpa harus menyentuh Tasya.Gibran berharap dengan cara ini dirinya tidak sadarkan diri,dan Tasya tidak akan membencinya.
Gibran lalu menampar pipinya sendiri, agar tetap sadar.
''Gibran,apa yang harus Aku lakuin untuk bantu Kamu ?'' tanya Tasya yang panik melihat keadaan Gibran yang sudah tidak baik-baik saja.
''Cukup diam di sana,dan jangan mendekat ke arah Ku .'' Jawab Gibran dengan suara yang sudah mulai lemah.
Tasya cuma bisa melihat Gibran yang terus-terusan membenturkan kepalanya di tembok,di lantai dan di manapun yang bisa di jangkau oleh Gibran.
Gibran sudah banyak mengeluarkan darah,dan mulai perlahan-lahan kesadaran Gibran mulai menghilang.
''Tidak,Gibran....!'' pekik Tasya melihat Gibran yang tidak sadarkan diri dengan luka di kepalanya.
Sedangkan di luar sana,Joy dan Andre terkejut mendengar pekikan dari Tasya yang sangat nyaring.Mereka harap, kedatangan Mereka belum terlambat.
__ADS_1