Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 129.


__ADS_3

Kehebohan terjadi di SMK PELITA.


Tidak membutuhkan waktu lama kehebohan itu terjadi.


''Tenang-tenang !'' Teriak seorang guru menghentikan kehebohan para murid yang terlihat ketakutan dan berwajah panik,sambil satu persatu keluar dari kelas dan menuju ke lapangan.


Bagaimana para siswa dan siswi tidak panik,karna ada Bom di sekolah mereka.


Mereka pun tidak mau mati sekarang.


Mereka pun terdiam di tempatnya dan menatap guru yang berteriak tadi.


Bryan menyipitkan matanya saat matanya tidak sengaja melihat kotak hadiah yang menjadi sumber masalah itu.


Tasya meringis saat matanya menatap kotak yang di kira isinya Bom itu.Tasya menatap para temannya dengan rasa bersalah.


''Bisa jelaskan di mana kalian menemukan kotak ini ?'' tanya Pak Robert dengan tatapan tajam.


Pak Robert sudah tahu apa isi kotak itu, Saat di parkiran Pak Robert tidak sengaja melihat Gibran membawa kotak itu.


''Di tempat sampah Pak ,'' jawab Erli sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap Pak Robert.


Pak Robert terdiam,Ia pun melirik Gibran.


Pak Robert melihat Gibran yang menundukkan kepalanya.Ia pun tahu bagaimana perasaan Pria itu.Pak Robert pun tidak mau memberi tahu siapa sebenarnya pengirim kotak itu.Pak Robert tidak mau membuat malu anak didiknya karna penolakan gadis itu untuk menerima pemberian hadiah darinya.


Sedangkan di tempat lain.


Di dalam sebuah ruangan terdapat seorang Pria tengah duduk di kursi kebesarannya sambil tersenyum senang saat anak buahnya memberi laporan tentang kejadian di SMK PELITA pagi ini.


''Bagaimana apa semuanya berjalan dengan lancar ?'' tanya Pria yang duduk di kursi kebesarannya.


''Semuanya berjalan dengan lancar Tuan, kotak itu pagi tadi sudah ada di atas meja gadis itu .'' Jawab asisten Pria itu sambil menunduk hormat.


''Kerja bagus Berto .'' puji Pria itu sambil tersenyum puas atas pekerjaan asisten pribadinya.

__ADS_1


Tanpa Mereka ketahui sebenarnya kotak itu adalah Bom.Kotak yang di letakkan Gibran di atas meja.Tanpa seorang yang tahu kotak itu telah di tukar dengan kotak yang berisikan bom.


Pria itu tersenyum misterius saat rencana yang di susunnya akan berhasil. Ia sudah tidak sabar ingin melihat Re menangisi kematian Adiknya.


Tidak lama kemudian pintu ruangannya di buka.


Juan melangkah masuk sambil tersenyum menatap Pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


''Juan akhirnya Kau sudah datang ,'' ucap Pria itu sambil tersenyum menatap Juan yang baru masuk ke dalam ruangannya.


Juan cuma membalas dengan senyuman.


Pria itu duduk dari kursi kebesarannya dan mempersilahkan Juan untuk duduk di kursi sofa.


Juan duduk di kursi sofa yang ada di ruangan itu.


Pria itu menatap Berto asisten pribadinya untuk membawakan 2 cangkir kopi.


Berto pun mengangguk dan pamit undur diri untuk menyuruh OB untuk membawakan 2 cangkir kopi ke dalam ruangan bosnya.


***


''Ada apa ?'' tanya Re saat Andre sudah berdiri di depannya.


''Ada masalah di sekolah SMK PELITA Re ,'' lapor Andre.


''Masalah apa dan apakah itu penting sehingga Kau terlihat cemas ?'' tanya Re yang melihat raut wajah Andre khawatir.


''Dari laporan yang saya terima dari anak buah kita yang mengawasi di mana Tasya bersekolah,terdapat.....,''


''Katakan langsung jangan berbosa-basi ,'' potong Re cepat yang sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang terjadi di sekolah itu.


''Kotak kado yang di bawa Gibran di tukar oleh seseorang,dan kado itu di isi dengan bom .'' Andre melanjutkan ucapannya sambil menatap Re.


Re terkejut dengan apa yang baru di katakan oleh Andre.

__ADS_1


Re harus bergerak cepat agar bom itu tidak meledak di tengah lapangan yang banyaknya para siswa dan siswi yang tengah berkumpul di tempat itu.


***


Kembali ke SMK pelita


Gibran mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan melihat Re yang mengirim pesan padanya.


Gibran yang penasaran segera membuka pesan singkat itu.Gibran terkejut saat membaca pesan dari Re.


Gibran terdiam sesaat,Ia bingung harus menjauhkan kado itu kemana.Ia tidak tahu seberapa besar ledakan yang akan di timbulkan oleh bom yang ada di kotak itu.


Setelah Gibran memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.Gibran melangkah maju untuk mendekat ke arah pak Robert.


Pak Robert menatap penasaran pada Gibran yang melangkah ke arahnya.


Tanpa mengatakan apa-apa Gibran langsung mengambil kado yang di pegang oleh pak Robert.


Pak Robert ingin protes tapi Gibran membisikkan sesuatu sehingga membuat Pak Robert terdiam dan kegelisahan tepat tergambar di wajahnya.


Robert pun coba terlihat tenang dan tidak menghalangi Gibran yang akan membawa kotak itu.


Bisik-bisik para siswi pun menatap Gibran dan tersenyum mencemooh pada Pria culun itu.


Tasya tidak berani menatap Gibran dan menatap teman sekelasnya,Ia sungguh malu dengan tindakan Gibran yang menaruh kotak itu ke atas mejanya.


Sedangkan Bryan menatap Gibran penuh curiga.


Gibran dengan langkah lebar meninggalkan lapangan untuk menuju di mana ruangan sepi di area sekolahnya. Gibran tidak mempedulikan bisikan-bisikan mencemooh yang mengarah kepadanya.Ia cuma ingin melihat semua temannya selamat tanpa ada yang terluka.


Pak Robert,serta siswa dan siswi menatap punggung Gibran yang menghilang di balik tembok.


Dan tidak lama kemudian mereka mendengar suara yang mengejutkan mereka.


Duar....

__ADS_1


__ADS_2