Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
174.


__ADS_3

Erli membawa para sahabatnya untuk mandi di sungai, ke tiga sahabatnya diam mematung saat melihat Erli membawanya ke tepi sungai.


"Er, loe yakin kita mandi di sini?" tanya Linda sambil menatap sekeliling sungai.


"Iya, memang nya loe pikir kita akan mandi di mana?" tanya Erli balik menatap Linda yang masih ragu untuk mandi di tempat terbuka seperti itu.


"Loe gak takut nanti kalau di intip?" tanya Linda yang was-was.


"Iya Er, kalau ada yang ngintip gimana?" tanya Tasya juga.


"Tenang saja, tempat ini aman kok." jawab Erli mencoba menyakinkan.


"Lihat deh, banyak kan di tempat ini yang sedang mandi." Tunjuk Erli ke setiap sisi yang ada di sungai.


Linda, Tasya dan Sandrina menatap arah tunjuk Erli, memang benar di sungai itu banyaknya perempuan yang mandi di sungai. Dan tidak ada laki-laki di tempat itu, dan sepertinya sih memang aman.


Tapi tetap saja mereka harus waspada siapa tahu tiba-tiba ada yang mengintip mereka yang sedang mandi.


"Ya udah deh, mau tidak mau kita harus mandi di sini. Dari pada tubuh gue nanti gatal kan.'' Ucap Linda akhirnya terpaksa mandi di tempat itu.


''Ya benar, dari pada tubuh kita gatal gak mandi. Terpaksa deh kita mandi di tempat terbuka seperti ini.'' Timpal Sandrina yang juga terpaksa mandi di tempat seperti ini.

__ADS_1


****


Re dan Andre sedang membicarakan tentang rencana Re yang akan membangun kamar mandi umum di kampung terpencil ini.


Saat mereka sedang fokus membicarakan berapa dana yang akan di keluarkan untuk pembangunan kamar mandi umum, Ahmad masuk dengan membawa dua cangkir kopi yang masih panas.


"Kopi nya di minum om," suruh Ahmad sambil meletakkan dua cangkir kopi di hadapan ke dua pria itu.


''Terima kasih Ahmad ,'' ucap Re sambil tersenyum menatap Ahmad.


''Om, boleh Ahmad duduk di sini.'' Izin Ahmad .


''Kenapa tidak, tentu saja boleh .'' Sahut Andre sambil menepuk lantai kosong di sampingnya.


Tidak lama kemudian Siti masuk dengan membawa sepiring pisang goreng, ia menatap sekeliling dan tidak mendapati Erli dan ke tiga gadis yang datang dari kota itu.


''Mereka sedang ke sungai ,'' ucap Ahmad yang mengerti kakak nya itu sedang mencari ke beradaan para gadis kota itu.


''Aku akan menyusulnya ,'' ucap Siti setelah meletakkan sepiring pisang goreng di atas lantai di samping dua cangkir kopi.


''Oh ya, itu di luar apa kalian yang membeli beberapa material?'' tanya Siti yang teringat saat satu truk mobil yang membawa alat-alat bangunan berhenti di depan rumah nya.

__ADS_1


''Sudah tiba rupanya , kita tinggal cari pekerjanya agar kamar mandi umumnya segera di kerjakan.''


Siti ingin melangkah keluar, dia tidak tahu tentang apa yang di bicarakan oleh ke dua pria itu.


Bertepatan dengan pintu yang baru di bukan dari luar, dan masuk lah Erli dan para sahabatnya yang baru pulang dari sungai.


''Sudah pulang teh?'' tanya Siti.


''Iya ti , kamu bawa apa?'' tanya Tasya.


''Itu teh, pisang goreng.'' Sahut Siti sambil menunjuk satu piring pisang goreng yang ada di depan ke dua pria yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya.


''Kayaknya enak tu pisang goreng nya.'' Ucap Sandrina sambil menghampiri ke dua pria yang sedang duduk di lantai itu.


Begitu pun dengan Erli yang juga menghampiri di mana suaminya berada, Erli duduk di samping Re.


"Bang ,''


''Hem,''


''Nanti lagi kerjanya, makan pisang goreng dulu.''

__ADS_1


Re menatap Erli yang sedang mengarahkan pisang goreng itu ke depan mulutnya, Re pun membuka mulutnya untuk menerima suapan pisang goreng dari tangan Erli.


__ADS_2