Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 178.


__ADS_3

''Nak Re, ini sedikit oleh-oleh dari bapak.'' Ucap salah satu warga sambil melangkah maju dengan membawa satu tandan pisang yang sudah matang separoh.


''Tak usah repot-repot pak,'' sahut Re tak urung pria itu menerima pemberian dari warga kampung, ia takut di kira sombong tidak mau menerima pemberian dari warga.


"Tidak apa-apa Nak Re, ini hasil dari kebon kami.'' Jawab salah satu warga yang lain.


''Iya nak Re, ini sebagai tanda ucapan terima kasih kami karna sudah membantu kampung kami membangun kamar mandi umum. Padahal Nak Re bukan warga kami dan pendatang baru, tapi memikirkan kamar mandi di tempat kami.'' Tidak secara langsung salah satu warga sebenarnya menyindir pejabat desa yang ada.


Namun sayang nya penjabat desa itu seperti nya tidak peduli, dan tidak mendengarkan keluhan rakyatnya.


''Saya melakukan ini juga demi istri saya pak, jika dia datang kemari lagi tidak perlu harus ke sungai lagi." Jawab Re sambil melirik Erli yang ada di sebelahnya.


....


Satu persatu warga meninggalkan rumah Siti, begitu pun dengan pak Jokowi dan Puspa yang menahan rasa malu.


Re dan yang lainnya tidak mungkin membawa banyaknya oleh-oleh dari para warga, jika di bawa semua mobil mereka tidak akan muat.


Re cuma membawa beberapa saja dan yang lainnya di tinggal di rumah Siti dan keluarganya, dan nantinya akan di bagikan pada orang yang tak mampu.

__ADS_1


Setelah Re, Andre, Erli, Tasya, Linda dan Sandrina berpamitan dengan Siti dan keluarganya, mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil satu persatu.


Re membuka pintu mobil bagian depan sebelah kiri, setelah Erli masuk ke dalam mobil dan duduk Re menutup pintu mobil.


''Bang, bukain pintu untuk aku dong, masa Erli aja yang di bukain pintu mobilnya. aku juga kan mau.'' Pinta Tasya dengan tatapan memohon.


"punya tangan kan, bisa buka pintu sendiri. Gak usah manja.'' Sahut Re sambil membuka pintu mobil sebelah kanan.


"Ih abang mah pelit," rajuk Tasya sambil menghentakkan kakinya.


Re menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang merajuk, Re lalu membuka kaca jendela mobil.


''Abang mah tega sama adiknya sendiri."


Tasya membuka pintu mobil dengan bibir yang mengerucut, dan di susul oleh Linda yang juga ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.


"Udah lah Bang, jangan ngledekin adiknya terus." Lerai Erli saat melihat ke dua kakak beradik itu yang ingin kembali beradu mulut.


Re mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Siti, dan di susul oleh mobil Andre yang ada di belakang mobil Re.

__ADS_1


Tasya dan Linda tahunya Erli dan Re itu cuma pacaran, atas permintaan Erli Re mengabulkan permintaan Erli yang tidak mengatakan sebenarnya kepada Tasya.


ke dua mobil sudah melewati perbatasan, dan tinggal beberapa jam lagi mereka sampai di kota.


*****


sedangkan di kediaman Wijaya.


''Naya,'' panggil Wijaya menghentikan langkah Naya yang akan menaiki anak tangga.


Naya yang ingin menaiki anak tangga menghentikan langkahnya yang akan menaiki anak tangga, gadis itu berbalik dan menoleh menatap papanya yang duduk di ruang tamu.


''Ada apa pa?'' tanya Naya sambil menghampiri papanya.


"Apa sudah ada kabar dari adik mu?"


Naya mendengus dengan sebal saat lagi-lagi yang di tanyakan pasti adiknya.


''Sudah menghilang saja masih menyusahkan, syukur-syukur tidak pulang sekalian.'' Ucap Naya dalam hati.

__ADS_1


''Belum pa,''


__ADS_2