
Tok...tok...
Erli mengetuk pintu ruang kerja Re yang sedikit terbuka.
Re menoleh dan tersenyum menatap Erli yang menongolkan kepalanya di depan pintu.
''Boleh Erli masuk Bang ?'' Izin Erli.
Re menjawab dengan anggukkan kepalanya saja.
Erli membuka pintu itu dengan lebar,Erli masuk ke dalam ruang kerja Re sambil membawa secangkir kopi.
''Erli bawain kopi buat Abang ,'' ucap Erli sambil meletakkan cangkir kopi itu di atas meja.
''Terima kasih ,'' balas Re sambil kembali fokus ke layar laptopnya.
Erli pun duduk di kursi sofa dan mengambil ponsel miliknya yang ada di saku celananya untuk bermain game.
Erli sesekali melirik Re yang sedang fokus dengan layar laptopnya.Erli tersenyum saat melihat Re dua kali lipat lebih tampan saat dirinya fokus bekerja.
Suara ponsel yang begitu nyaring membuyarkan lamunan Erli.
Re melirik layar ponselnya,tertera di sana Tua bangka memanggil.Re sepertinya enggan untuk menerima panggilan itu.
''Bang,itu ponselnya bunyi ,'' ucap Erli memberitahu sambil menunjuk ponsel Re yang ada di atas meja.
''Biarkan saja,nanti juga bakalan berhenti sendiri dering ponselnya.'' Sahut Re melirik sekilas Erli yang duduk di atas sofa.
Re kembali fokus ke layar laptop yang ada di hadapannya.
Erli menghembuskan nafas kasar,saat melihat Re yang sibuk dengan layar laptopnya.Padahal jam sudah menunjukkan angka 8 malam,sesibuk itukah dirinya sampai pekerjaanPun di bawa ke rumah.
Lagi-lagi ponsel Re kembali berbunyi.
''Bang,di angkat saja siapa tahu itu penting .'' Suruh Erli sambil menatap Re yang masih fokus ke layar laptopnya.
Re menghela nafasnya,Ia pun akhirnya menempelkan ponselnya ketelinga kanannya.
Begitu Re mengangkat panggilan dari Pratama,yang di kontaknya tertulis nama Tua bangka.
''Dasar anak durhaka,kemana saja Kau. dalam waktu 10 menit kau tidak sampai di rumah,Kau di coret menjadi bagian keluarga Pratama.'' Sembur Pratama di sebrang sana saat panggilan ponselnya tersambung.
''Coret saja Aku tidak peduli ,'' Jawab Re dengan santai.
Re pun mematikan sambungan ponselnya sebelum Pratama mengucapkan sepatah katapun lagi.
Re yakin sekarang Papinya pasti sedang mengumpatnya.
Dan Re yakin sebentar lagi ponselnya berdering,dan itu pasti dari Neneknya atau Maminya.Re hanya takluk kepada ke dua wanita itu.
__ADS_1
Re menutup layar laptopnya dan menghampiri Erli yang duduk di kursi sofa.Re duduk di samping Erli.
''Ada apa hem ?'' tanya Re saat melihat dahi Erli mengernyit.
''Tadi siapa itu yang nelpon,kok Abang jawabnya seperti itu ?'' tanya Erli setelah Re duduk di sampingnya.
''Jangan di pikirin itu tidak penting .'' Sahut Re sambil menatap Erli.
''Pekerjaan Abang sudah selesai ?'' tanya Erli hati-hati.
''Sudah ,'' jawab Re berbohong.
Sebenarnya pekerjaan Re belum selesai. tapi demi gadis cantik yang sedang menunggunya,Re menundanya.
''Ada apa?sepertinya ada yang ingin Kau tanyakan ?'' selidik Re sambil menatap lekat wajah Erli.
Erli terdiam,Ia ragu ingin menayakan kenapa Re tidak memperbolehkan Tasya pacaran dengan Bryan.Karna setahu Erli Bryan itu pemuda yang baik.
''Ada apa hem ?'' tanya Re lagi karna sejak tadi Erli diam saja.
''Abang janji dulu tidak akan marah ,'' Erli mengarahkan jari kelingkingnya kehadapan Re.
Re menatap jari kelingking Erli yang ada dihadapannya dengan jari yang mengernyit.
''Buat apa ?'' tanya Re yang tidak paham.
Re yang tidak paham,akhirnya menuruti kemauan Erli yang menautkan kelingkingnya ke kelingking Erli.
''Sekarang apa yang ingin Kau tanyakan ?'' tanya Re sambil duduknya menyamping menghadap Erli.
Erli pun duduk menyamping menghadap Re.
''Kenapa Abang melarang Tasya pacaran dengan Bryan?'' tanya Erli.
''Abang sudah janji tidak akan marah .'' Ucap Erli mengingatkan saat wajah Re berubah menjadi dingin.
Re menghela nafas panjang,Re mencoba meredam emosinya.Re sudah berjanji dirinya tidak akan marah dengan pertanyaan yang akan di lontarkan oleh Erli.Ini rupanya pertanyaannya.
''Abang tidak suka aja,Tasya pacaran dengan Bryan.'' Jawab Re.
''Bryan itu pria yang baik Bang...dan Dia juga...,''ucapan Erli terputus.
''Kau membelanya,dan apa jangan-jangan Kau menyukainya ?'' potong Re.
Erli melongo saat Re mempertanyakan itu.
''Ih...siapa juga yang menyukainya,lagian dia pacar Tasya.'' Erli mencebikkan bibirnya dan menatap kesal Re.
''Berarti kalau tidak pacaran dengan Tasya,Kau menyukainya?'' tebak Re sambil memicingkan matanya,
__ADS_1
''Kok jadi nuduh Erli .'' Erli sendiri bingung arah pembicaraan mereka kemana.
Re cuma mengendikkan bahunya.
''Oke,lupain soal tuduhan Abang yang tidak mendasar.Pasti ada alasannya kenapa Abang tidak mengizinkan Tasya pacaran dengan Bryan .'' Erli masih penasaran dengan jawaban yang di berikan oleh Re.
''Tasya sudah mempunyai calon suami .'' Jawab Re akhirnya.
''Siapa calon suami Tasya?dan Tasyanya tahu tidak kalau dia memiliki calon suami ?'' tanya Erli yang semakin penasaran saja.
''Rahasia ,dan jangan banyak bertanya .'' Ucap Re yang tidak mau memberitahu Erli.
''Kalau masih bertanya juga,Aku akan menciumMu agar diam .'' Ancam Re saat melihat Erli akan membuka mulutnya.
Erli mengerucutkan bibirnya saat Re mengancamnya akan mencium bibirnya jika Ia terus bertanya.
***
***
Sedangkan Pratama menatap layar ponselnya yang telah mati.
''Dasar anak itu ,'' gerutu Pratama.
Pratama pun beralih menatap Maria.
''Ada apa?jelaskan dulu sebenarnya ada apa sampai Kau menyuruh Re untuk pulang ?'' tanya Maria yang sudah tahu pasti Pratama ingin meminta bantuannya.
''Maaf Mi,Pi,Andre telat .'' Ucap Andre yang baru masuk ke dalam Mansion.
Pratama mengurungkan niatnya yang akan berbicara,Pratama dan yang lainnya menoleh ke arah Andre.Dan Mereka yang ada di ruangan itu terkejut saat melihat sosok gadis yang ada di belakang Andre.
Tasya menutup mulutnya saat melihat Sandrina yang berdiri di belakang Andre.
''Duduk ,'' suruh Pratama.
Andre menggandeng Sandrina untuk duduk di sofa yang ada di hadapan Pratama,Rania dan Maria.
Sandrina sendiri tidak berani menatap semua orang yang ada di ruang tamu. Sandrina menundukkan kepalanya dan meremas jari jemarinya yang bertautan.
Sandrina tidak tahu kalau sejak tadi sepasang mata mengawasinya.
Sejak tadi Tasya menatap Sandrina dan bertanya-tanya ada hubungan apa dengan Andre.
Bukankah Sandrina sudah menikah, dan apa jangan-jangan Sandrina menikah dengan Andre.Dan kenapa semua temannya tidak memberitahu.
''Sandrina,ada apa kau kemari ?'' tanya Tasya memberanikan diri karna sejak tadi tidak ada yang membuka suaranya.
Sandrina mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat Tasya yang sedang tersenyum ke arahnya.Sandrina beralih menatap Andre yang sepertinya enggan berbicara dan tidak ada niatan untuk memperkenalkannya.
__ADS_1