
Seorang Pria tampan sedang berdiri di pinggiran pagar balkon kamarnya.Dia menatap lurus ke depan menatap pohon yang ada di depan kamarnya.tapi pandangannya bukan pada pohon itu,Ia sedang berbicara pada Pria di sebrang sana lewat sambungan telponnya.
''Awasi terus,dan jika ada hal yang mencurigakan segera hubungi Saya ,'' ucap Pria tampan itu pada bawahannya yang selalu mengikuti Erli pergi sambil mematikan sambungannya sepihak.
Mahendra yang ke betulan lewat di depan kamar Adiknya langsung masuk ke dalam kamar,setelah beberapa kali mengetuk pintu tidak ada jawaban. Mahendra melihat Re berdiri di balkon kamarnya sambil merokok.
''Re ,'' panggil Mahendra sambil melangkah mendekati Re dan berdiri di samping Re.
''Baru pulang Lo ?'' tanya Re sambil membuang puntung rokoknya dan duduk di kursi sofa yang ada di balkon kamarnya.
Mahendra menyusul Re yang sudah duduk di sofa dan duduk di sampingnya.
''Lo masih sama Rara ?'' tanya Re sambil menyandarkan kepalanya di sandaran Sofa.
''Iya,terpaksa ,'' jawab Hendra malas.
Re tersenyum tipis saat Hendra mengatakan terpaksa.Mereka pun diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Hendra berpikir bagaimana caranya supaya bisa lepas dari Rara tanpa mempengaruhi perusahaannya.Ia bisa saja meminta bantuan pada perusahaan Re,namun Ia tidak mau melakukannya.Ia ingin membuktikan pada keluarga dan Adiknya tanpa bantuan dari Mereka Dia bisa membangun perusahaannya sendiri.
Hendra menghembuskan nafas kasar saat tidak menemukan cara agar Dia bisa terbebas dari ancaman keluarga Rara jika Dia ingin memutuskan pertunangan Mereka.
Sedangkan Re yang sudah tidak sabar menunggu tinggal 2 hari lagi untuk menjalankan permainannya.
...****************...
...****************...
__ADS_1
Sedangkan kembali ke dalam restoran.
Erli sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan bergantian melihat ruangan VIP yang masih tertutup.
''Tasya mana sih kok lama,dari tadi belum selesai juga apa ,'' gerutu Linda yang sudah tidak sabar.
Erli cuma diam tidak menanggapi gerutuan Linda.
Deg.
Erli menelan salivanya susah saat melihat salah satu pengawal Tasya berdiri tidak jauh dari pintu.Erli menyenggol Linda agar melihat Pria yang berdiri di dekat pintu di belakang Gibran duduk.
Gibran mengerutkan kening saat melihat kegelisahan di wajah Erli.
Sedangkan Linda yang tidak mengerti masih menggerutu karna Tasya dan Bryan tidak kunjung keluar.
''Kamu kenapa sih Er,mata Kamu kelilipan dari tadi berkedip-kedip seperti itu ?'' tanya Linda yang tidak mengerti maksud dari Erli.
''Lihat itu di dekat pintu di belakang Pria yang memperhatikan Kita sedari tadi ,'' bisik Erli.
Linda menengok dan terkejut saat melihat Pria yang berdiri di dekat pintu.
''Kenapa Kamu tidak bilang dari tadi kalau ada harder di sana ,'' ucap Linda lirih yang takut kebohongan Mereka terbongkar.
Erli memutar bola mata malas saat Linda baru menyadari kalau Mereka di awasi.
Tasya yang tidak tahu kalau sedang di awasi.keluar dari ruang VIP dengan bergandengan tangan dan senyum yang merekah di bibirnya.
__ADS_1
''Kalian berdua kenapa seperti habis melihat hantu ?'' tanya Bryan yang melihat Linda dan Erli seperti ketakutan.
''Eh,sejak kapan Kalian berdua ada di situ ?'' tanya Linda yang tidak menyadari Tasya dan Bryan keluar dari ruangan VIP.
''Baru saja Lin ,'' jawab Tasya yang merasa aneh dengan sikap Linda.
Tasya mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Erli dan Linda yang menurutnya aneh.
''Sya,Lin,Er,Aku pamit pulang duluan ya ,'' pamit Bryan yang sudah mendapat pesan singkat dari sahabatnya untuk Dia segera pergi dari restoran itu.
Tasya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
''Iya sana udah cepat pergi ,'' usir Linda yang tidak mau Pria yang ada di dekat pintu melihat Tasya.
Tapi sialnya Pria itu sudah terlebih dulu melihat Tasya.
Ketika Bryan akan mencium pipi Tasya,Erli menghentikannya.
''Ini di tempat umum,dan kasihanilah para kami yang jomlo ini ,'' cegah Erli sambil mencari alasan agar pengawal Tasya yang berdiri kokoh di dekat pintu tidak mencurigainya.
''Baiklah ,'' ucap Bryan sambil berlalu pergi.
Saat Bryan tepat di hadapan Gibran,Bryan tersenyum menyeringai setelah itu Ia pun pergi.Gibran mengepalkan ke dua tangannya menatap Bryan yang pergi.Bryan melirik sekilas pada Pria yang berdiri di dekat pintu dan tersenyum pada Pria itu.Pria itu menatap datar Bryan yang keluar dari restoran.
Pria itu segera mengambil handphonenya dan segera melapor pada atasannya.
Sebelum panggilan Pria itu terhubung Seorang Pria terlebih dahulu menabrak bahu Pria itu sehingga ponselnya terjatuh.
__ADS_1
Prak
Tasya yang mendengar suara benda terjatuh membulatkan matanya terkejut saat melihat pengawalnya.