Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 31


__ADS_3

''Hai tunggu ini dari siapa ?'' teriak Erli sambil melihat Gadis itu terus berlari.


Linda,Tasya,dan Gibran menatap penasaran pada paperbag yang ada di tangan Erli.


''Kalian sedang apa ?''


Erli,Tasya,Linda dan Gibran terkejut mendengar suara yang amat Mereka kenal.


Mereka menoleh ke sumber arah suara dan Mereka tersenyum saat melihat Pak Tigor berdiri di depan kelas Mereka.


Mereka pun akhirnya berdiri dari duduknya.


''Siap-siap mandi kembang tujuh rupa ,'' gumam Linda yang masih bisa di dengar oleh ketiga temannya yang berdiri.


Erli menggelengkan kepalanya saat mendengar gumaman dari Linda.


Tasya menghembuskan nafas kasar saat melihat Pak Tigor semakin dekat ke arah Mereka.


''Kalian sedang apa ?'' tanya Pak Tigor lagi mengulangi pertanyaannya karna ke empat anak yang di hukum olehnya tak juga menjawab pertanyaannya.


''Kami kan di hukum sama bapak untuk mengelilingi lapangan ,'' jawab Tasya sehingga membuat Linda dan Erli gusar yang tak paham maksud dari Pak Tigor.


Pak Tigor menghembuskan nafas kasar saat menghadapi muridnya yang satu ini hingga membuat dirinya pusing.


''Iya bapak tahu,terus kenapa kalian malah ngobrol di sini,apa hukumannya sudah selesai ?'' tanya Pak Tigor.


''Anu Pak...,'' jawab gugup Linda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


''Apa...? bicara yang benar ,'' hardik Pak Tigor hingga ludahnya kembali muncrat.


Linda dengan cepat menghindar,sehingga ludah Pak Tigor tidak mengenainya.


''Selamat ,'' ucap Linda dalam hati bernafas lega karena tidak terkena ludah dari Pak Tigor.


''Kami sudah mengelilingi lapangan 100 kali Pak ,'' jawab Gibran berbohong agar Mereka terbebas dari hukuman Pak Tigor.


Semua yang di sana menoleh menatap Gibran.


''Kamu tidak berbohong ?'' tanya Pak Tigor menatap mata Gibran.


''Saya tidak berani berbohong Pak ,'' jawab Gibran menatap Pak Tigor yang masih menatapnya dengan instant.


''Baiklah kalau begitu Kalian boleh kembali ke kelas dan jangan di ulangi datang terlambat lagi ,''


Setelah mengatakan itu Pak Tigor pergi kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Linda,Tasya,Erli dan Gibran setelah mengambil tas Mereka masing-masing,Mereka pun kembali ke kelas Mereka.


''Capek ya yang baru berlari mengelilingi lapangan ,'' ucap Mei sambil menatap sinis Linda dan yang lainnya.


''Bacot, diem lo ,'' gertak Linda menatap tajam Mei.


''Udah Lin, nggak usah di ladeni,malah nambah darah tinggi aja ,'' cegah Tasya sambil mengajak Linda ke tempat duduknya.


Sedangkan di Club tempat kerja Sandrina.


Setelah kejadian terenggutnya kesuciannya Sandrina. Sandrina kembali bekerja seperti biasa dan Ia pun tidak pernah melihat Pria yang sudah menidurinya datang ke Club itu.


''Sandrina ,'' panggil Dina.


Sandrina yang sedang memoleskan lipgloss ke bibirnya menghentikan gerakannya dan tersenyum menatap Dina yang berdiri di depan pintu.


''Ada apa Din ?'' tanya Sandrina.


''Anterin minuman ke depan ya ,'' pinta Dina sambil menyerahkan nampan berisi minuman beralkohol ke hadapan Sandrina.


''Iya Din ,'' jawab Sandrina sambil mengambil nampan itu dari tangan Dina.


Sandrina melangkah keluar dari ruangannya dan menuju di mana para tamu berada.Sandrina tersenyum saat berpapasan dengan beberapa pelayan yang juga bekerja di tempat Club malam.


Sandrina meletakkan gelas dan botol minuman beralkohol ke atas meja.


''Terima kasih Sandrina ,'' jawab Salah satu Pria yang sudah mengenal Sandrina.


''Nona, mau kemana ?'' tanya Pria yang duduk di dekat Pria yang mengenal Sandrina.


''Maaf Tuan, tugas Saya sudah selesai dan Saya mau pamit kebelakang ,'' jawab Sandrina masih menampilkan senyumannya pada Pria yang baru di lihatnya.


''Biarkan Dia pergi Bro ,'' ucap Pria yang mengenal Sandrina.


''Baiklah ,'' jawab Pria itu sambil menatap punggung Sandrina yang kian menjauh.


Sandrina melangkah mendekati meja Marcel yang tugasnya membuat minuman.


''Marcel ,'' panggil Sandrina pada Pria yang sibuk dengan minuman yang ada di atas meja.


''Mau minum ?'' tanya Marcel melirik sekilas Sandrina yang duduk di depannya.


''Boleh deh ,'' jawab Sandrina tersenyum menatap marcel.


Marcel memberikan minuman yang kadar alkoholnya rendah.

__ADS_1


''Cel, Gue satu ya ,'' pinta Dina saat ada di dekat Sandrina dan duduk di sebelah Sandrina.


''Siap ,'' jawab Marcel.


Marcel adalah Pria tampan yang umurnya sudah 25 tahun.Dan menganggap Sandrina Adiknya sendiri.


Para karyawan Klub tidak ada yang tahu kalau Marcel pemilik Club malam itu.


Marcel pun salah satu teman Andre dan Re.


''Bang udah punya pacar belum sih ?'' tanya Dina sambil menatap Marcel yang sedang membuat minuman untuk para pelanggannya.


Marcel cuma tersenyum,Ia enggan mengatakan hal pribadinya ke siapapun.


Marcel menghentikan gerakannya yang sedang menuang minuman ke dalam gelas.Ia mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


Marcel mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang tertera di layar ponselnya.Marcel tersenyum saat membaca pesan masuk dari seseorang yang telah lama tidak Ia temui.


''Cie...Cie...dari pacarnya ya ,'' ledek Sandrina yang melihat Marcel tersenyum setelah membaca pesan di ponselnya.


Marcel cuma menanggapinya dengan senyuman, Marcel memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.


''Hai cantik, boleh abang temenin ,'' tegur Pria berambut pirang.


''Maaf , cari Perempuan lain saja ,'' tolak Sandrina.


''Ayolah, Abang akan bayar mahal ,'' bujuk Pria berambut pirang sambil ingin memegang dagu Sandrina.


Belum sempat tangan Pria itu memegang dagu Sandrina,Marcel terlebih dulu memegang tangan Pria itu.


''Jangan kurang ajar Bang ,'' tegur Marcel sambil memegang tangan Pria berambut pirang itu.


''Pelayan rendahan , jauhkan tanganMu dari tanganKu ,'' hina Pria itu sambil menatap sinis Marcel.


Marcel tersenyum tipis dan melepas tangan Pria itu.


Pria berambut pirang itu terkejut saat Marcel membisikkan sesuatu ke telinga Pria berambut pirang itu.Pria itu menelan salivanya susah dan menatap takut Marcel.


Pria itu tanpa mengatakan apa-apa berlalu pergi keluar dari dalam Club malam milik Marcel.


Sandrina dan Dina menatap kepergian pria itu dengan penasaran.Sandrina dan Dina menatap Marcel.


Marcel yang di tatap Sandrina dan Dina cuma mengendikkan bahunya tanda Ia tidak tahu kenapa Pria itu langsung pergi.


Sandrina tidak mau ambil pusing,Ia pun bersama Dina kembali ke belakang untuk kembali bekerja.

__ADS_1


Sedangkan di kantor PT PRATAMA.


Seorang Pria sedang duduk di kursi kebesarannya menatap kosong pada layar ponselnya yang telah mati setelah Ia memberi pesan pada Marcel sahabatnya.Dan tentunya mengingatkan dirinya pada malam panas dirinya dengan pekerja Club malam yang ternyata masih perawan.


__ADS_2