Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
171.


__ADS_3

Erli mengerjapkan ke dua bola matanya, ini beneran abang kan bukan halusinasinya, pikir nya.


Erli mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Re, matanya berkaca- kaca dirinya tidak menyangka bisa bertemu dengan suaminya.Re merentangkan ke dua tangannya, Erli langsung menghambur ke pelukan pria yang ada di depannya.


Sedangkan di jakarta.


Tasya berjalan ke sana kemari seperti strikaan,Ia sesekali melirik ponselnya.Ia berharap abangnya segera menelpon.


Linda yang sedang duduk di atas ranjang memutar bola mata malas saat melihat Tasya yang ke sana kemari seperti strikaan saja.


''Udah si Sya,loe duduk.Gue pusing lihat elo seperti strikaan gitu.'' Dengus Linda.


Tasya duduk di samping Linda yang ada di atas ranjang.


"Gue khawatir dengan Erli tahu Lin,"


''Gue juga khawatir sama Erli Sya,coba deh loe hubungi Abang Elo Erli udah ketemu belum." Suruh Linda.


Tasya mencoba mulai menelpon nomer Abangnya,sampai deringan ke tiga pun telpon nya tak di angkat.Tasya menghembuskan nafas panjang, telponnya tak kunjung di angkat oleh Abangnya.


Sedangkan orang yang di telpon, handphone pria itu sedang di mode silent.Jadi Pria itu tak melihat kalau ada yang menelphonenya.


Erli keluar dari dalam rumah sederhana itu, sambil membawa tiga cangkir kopi. Kopi itu Ia tujukan untuk Re dan ke dua anak buah nya.

__ADS_1


''Bang,ini kopinya.'' Erli meletakkan tiga gelas kopi di atas meja yang ada di teras.


Re yang saat itu sedang menghisap rokoknya,Ia lalu menoleh menatap Gadisnya. Re lalu membuang puntung rokok itu di atas tanah, Ia pun menghampiri Erli yang ada di teras.


Tidak lama kemudian Siti keluar dari dalam rumah sambil membawa sepiring pisang goreng,dan meletakkan sepiring pisang goreng itu di atas meja.


Re duduk di salah satu kursi yang ada di teras,ia memanggil salah satu pengawalnya dan memberikan dua cangkir kopi itu.


Setelah pengawal itu menerima kopi, pengawal itu berlalu pergi meninggalkan Tuannya.


Re menikmati secangkir kopi sambil menatap wajah gadisnya, Ia merindukan gadisnya ini.


Erli menundukkan kepalanya saat di tatap suaminya.


''Abang tahu dari mana kalau Erli ada di sini?" tanya Erli.


blus.


wajah Erli memerah saat Re memanggilnya dengan kata sayang.


Re menempelkan cangkir itu ke bibirnya dan mulai menyesap kopi itu perlahan, lalu Ia meletakkan cangkir kopi itu kembali di atas meja.


''Siapa yang sudah menculik kamu?" tanya Re sambil menatap Erli yang sedang menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Erli terdiam, Ia tidak mungkin mengatakan sebenarnya kalau ini perbuatan kakaknya.


"Er, kenapa diam?'' tanya Re yang melihat Erli diam.


''Aku tidak tahu bang,siapa mereka.'' sahut Erli berbohong.


''Ini bukan ulah kakak kamu kan?'' tebak Re.


Erli terkesiap dan langsung menatap Re, namun detik selanjutnya Ia buru-buru menggelengkan kepalanya.


''Bukan kok Bang,ini bukan ulah kak Nay. Lagian kak Nay kakak ku,mana mungkin dia tega sama adik nya sendiri.'' Elak Erli mencoba meyakinkan.


Re menatap mata Erli,Ia tahu kalau gadisnya ini sebenarnya berbohong.


Re kembali menikmati kopinya,dan tidak membahas masalah penculikan lagi.


''Bang...,'' panggil Erli.


''Ada apa, hem?'' tanya Re sambil menatap Erli.


''Erli dengar apa Abang akan membuat kamar mandi umum di kampung ini?'' tanya Erli balik.


''Ya,abang berencana membangun kamar mandi umum dan pabrik di kampung ini,untuk membantu perekonomian warga kampung di sini.'' Jawab Re sambil kembali menyesap kopinya.

__ADS_1


''Erli senang Abang akan membantu warga kampung di sini.'' ucap Erli tersenyum.


Re menyunggingkan senyumnya saat melihat Erli yang tersenyum.


__ADS_2