Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 152.


__ADS_3

Erli menggeliatkan tubuhnya,dan membuka matanya.Ia mendapati kasur di sampingnya kosong.


Ia menatap jam yang menempel di dinding,dan menunjukkan angka 1 dini hari.


''Kemana Dia ,'' gumam Erli sambil duduk di atas kasur.


Erli mengikat rambutnya dengan asal, dan menyibak selimut yang membungkus tubuhnya.Ia pun menurunkan ke dua kakinya dari atas ranjang.Dan mulai menapaki kakinya di atas lantai keramik.


''Abang....,'' panggil Erli sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Tapi nihil,tidak ada tanda-tanda Re ada di dalam kamar mandi.


Erli membuka tirai yang ada di jendela, dan melihat mobil Re masih terparkir cantik di depan sana.


Erli menutup kembali tirai itu,dan berjalan keluar dari kamar.


Sepi,rumah itu seperti tidak berpenghuni.Di jam segini pelayan sudah kembali ke paviliun belakang, pelayan hanya akan masuk ke dalam Mansion di jam subuh pagi.


Erli menuruni anak tangga untuk menuju ke dapur.Tapi dirinya tidak menemukan keberadaan Suaminya di mana Pun.


Akhirnya Erli memutuskan mengambil air putih dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Sedangkan di tempat lain,di jalan yang cukup lumayan sepi.


Marcel dan Samuel menatap kagum Re yang sedang mengemudikan motor milik Samuel.


''Lihat,dia sama persis seperti dulu .'' Ucap Samuel sambil menatap Re yang sedang melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


''Ya,sudah beberapa tahun dia tidak pernah menggunakan motor .''Ujar Marcel yang sibuk mengemudi dan sesekali menatap Re yang ada di depan sana dengan sepeda motornya.


Tidak lama kemudian,Re memelankan laju motornya.Dan Re melihat Hendrico duduk di atas kap mobil miliknya.dan tidak jauh dari Hendrico berada, beberapa anak buah Hendrico duduk di atas motor mereka masing-masing.


Re melepas helm yang melindungi kepalanya,dan Ia turun dari atas motor yang di dudukinya.


Begitu pula dengan Marcel dan Samuel yang juga keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


''Gue pikir Elo takut ,'' ledek Hendrico sambil turun dari atas kap mobil yang sedang dudukinya.


''Tidak ada kata takut di dalam kamus Gue ,'' jawab Re sambil tersenyum sinis menatap Hendrico.


Brum,brum...,


Suara motor yang baru tiba mengalihkan perhatian mereka.Mereka Semua menatap pemotor dengan pandangan berbeda-beda.


Hendrico dan para anak buahnya tersenyum menyeringai saat melihat pengendara motor yang baru menghentikan laju motornya.Sedangkan Re,Marcel dan Samuel saling menatap dan bertanya-tanya mau apa Edward datang kemari.


Edward membuka helm yang ada di kepalanya,dan turun dari atas motor yang di naikinya.


''Mau apa kau datang kemari ?'' tanya Re saat Edward menghampirinya.


''Aku tidak tahu,Aku cuma di suruh untuk datang kemari .'' Jawab Edward yang tidak tahu kenapa dirinya di suruh datang kemari.


''Kalian sendiri sedang apa di sini ?'' tanya Edward balik.


''Hendric,nantangin Re untuk balapan .'' Jawab Marcel sambil menatap Hendric yang sedang menelpon seseorang.


''Ed,lo telat 6 menit .'' Seru Hendrico setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


''Apa maksud Elo ?'' tanya Edward menatap tajam Hendrico.


Hendrico tidak menjawab pertanyaan dari Edward,Ia beralih menatap Re yang sedang menatapnya dengan tajam.


''Hendric tidak usah basa-basi,cepat kita selesaikan segera .'' Ucap Re.


''Tidak usah terburu-buru Re,apa Kau tidak ingin melihat adik kesayanganMu terlebih dahulu .'' Ucap Hendrico sambil tersenyum misterius.


''Kalau sampai Kau macam-macam dengan adik kesayangan gue,Elo akan tahu sendiri akibatnya .'' Ucap Re sambil mengamcam Hendrico.


''Oh,Gue takut .'' Ledek Hendrico sambil terkekeh.


Tidak lama kemudian dari dalam mobil yang ada di belakang Hendrico,keluarlah Juan dari dalam sana.

__ADS_1


Sebelumnya Juan dan Hendrico sudah merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Edward dan Re melalui ke dua adiknya,Tanpa Mereka sadari akan memperkuat hubungan Re dan Edward.


****


Sedangkan di kediaman Pratama.


Jam sudah menunjukkan Angka 1 malam.Tasya yang saat itu sedang terlelap,di kagetkan dengan suara deringan ponsel.Dengan malas Tasya mengangkat panggilan itu dan tanpa melihat siapa penelponnya.


''Hallo ,'' sapa Tasya dengan malas setelah dirinya menempelkan ponselnya ketelinga.


''Tasya....,tolong Aku .'' Ucap Penelpon di sebrang sana.


Tasya membuka matanya dengan lebar, dan rasa kantuknya hilang begitu saja saat mendengar suara yang tak asing di indra pendengarannya.


''Linda,ada apa ?'' tanya Tasya panik sambil bangkit dari tidurnya.


''Tolong Aku Tasya ,''


''Katakan Kau di mana ?'' tanya Tasya.


''A...aku...ada di bar .'' Jawab Linda gugup.


''Aku akan segera ke sana ,'' sahut Tasya cepat sambil mematikan ponsel miliknya.


Sedangkan di dalam kos-kosan sederhana.


Seorang gadis sedang menatap ketakutan pada beberapa pria yang menodongkan pistol ke arahnya.Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah.Di tangan kirinya memegang ponsel yang baru saja Ia gunakan untuk menghubungi Tasya tadi.


''Maafin Gue Tasya .'' Ucap Gadis itu di dalam hati.


Ia sangat menyesal dan mengkhawatirkan temannya itu,Ia menatap para pria-pria itu yang pergi dari dalam kos-kosannya.


Pria-pria itu segera meninggalkan kosan milik Linda,setelah memastikan apa yang sudah Mereka dapatkan.


Sedangkan di tempat yang berbeda,Di dalam sebuah apartemen.

__ADS_1


Seorang pemuda yang saat itu baru masuk ke dalam apartemen.Pemuda itu terkejut saat mendapati beberapa Pria berpakaian hitam dan wajahnya di tutupi dengan topeng.Karna pemuda itu tidak siap,dengan sekali gerakan pemuda itu di lumpuhkan oleh salah satu pria dengan menggunakan cairan obat bius yang di semprotkan.


Beberapa Pria itu langsung membawa pemuda itu keluar dari dalam apertemen.Dan membawanya masuk ke dalam mobil.


__ADS_2