
''Eh kau mau kemana Re ?'' tanya Samuel tidak mempedulikan penampilannya.
''Mau menjemput istriku ,'' Sahut Re sambil melangkah menuju pintu.
Samuel pun berlari untuk menghadang langkah Re.
Re menatap tajam Samuel yang berdiri di depan pintu untuk menghalangi langkahnya.
''Minggir ,'' suruh Re.
''Re,biarkan istrimu tidur di rumah papanya ,'' bujuk Samuel.
''ada hal yang lebih penting yang harus kita urus ,'' ucap Samuel lagi saat teringat ada hal lebih penting yang harus mereka urus,
''Cepat katakan,hal penting apa ?'' desak Re sambil mengambil ponsel miliknya yang ada di saku celana.
Samuel ingin membuka mulutnya, namun dengan cepat Re mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan Samuel untuk diam.
''Cepat ganti bajumu,Aku tunggu kau di luar .'' Re memasukkan kembali ponsel miliknya.
Re melangkahkan kakinya melewati Samuel yang masih terbengong.
''Apa dia sudah mendengar kabar penting ini ?'' tanya Samuel pada dirinya sendiri.
Samuel bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Sedangkan Re keluar dari apartemen Samuel.Di luar sudah ada Marcel dan Andre yang sudah menunggunya.
''Di mana Samuel ?'' tanya Marcel saat melihat Re keluar dari apartemen sendiri.
''Aku di sini ,'' sahut Samuel yang baru keluar dari apartemen.
Marcel dan Andre menoleh dan melihat Samuel yang memakai kaos oblong berwarna hitam dan jaket yang tersampir di pundaknya.
''Pake jaketmu, kau ingin memamerkan tubuh kurusmu pada siapa ,'' ledek Andre .
Samuel mendengus dengan kesal.Ia pun lalu memakai jaketnya.
''Dre,apa kabar ini falid ?'' tanya Re sambil menyalakan nikotin yang ada di tangannya.
''Ya,anak buahku mengabarkannya tadi.'' Sahut Andre sambil mengambil rokok yang di sodorkan oleh Re.
Re,Andre,Marcel dan Samuel melangkah menuju di mana pintu lift berada,tangan kiri mereka,mereka masukkan ke dalam saku celana masing-masing.Sedangkan tangan kanan mereka memegang nikotin.
Sedangkan di tempat lain.
Di salah satu kosan sederhana,seorang gadis menatap nanar pada benda kecil yang ada di tangannya.Gadis itu terduduk lemas di lantai kamar mandi sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Sebelum gadis itu pulang ke kosan miliknya,Ia terlebih dulu membeli alat tes kehamilan di apotik dekat kosannya. Awalnya Ia ragu untuk membeli alat itu. Ia harus berbohong pada petugas apotik saat membeli alat itu.Tatapan hina dan tatapan mengejek dari orang-orang yang melihat dirinya membeli alat itu,walaupun Ia mengatakan itu untuk kakaknya.Ia pun mengabaikannya dan segera pergi dari tempat itu setelah Dia menerima alat itu.
Gadis itu terduduk lemas di lantai kamar mandi dan menatap benda yang menampilkan garis merah ada dua.
__ADS_1
''Alat ini pasti salah,besok aku akan membelinya lagi,tidak mungkin Aku hamil .'' Sangkal gadis itu.
''Tapi,bagaimana kalau Aku hamil ?'' tanyanya dengan bibir bergetar.
''Sandrina,apa kamu ada di dalam !" Teriak seseorang yang ada di luar sambil menggedor pintu.
Sandrina menghapus air matanya,Ia pun berdiri dari duduknya dan menghampiri wanita yang Ia yakini ibu kosnya.
''Sandrina,ibu tahu kau di dalam,jangan coba-coba bersembunyi seperti yang lainnya !'' ketus wanita itu lagi sambil kembali menggedor kamar Sandrina,
Cklek.
Sandrina membuka pintu dan tanpa mengatakan apa-apa Sandrina menyodorkan uang lima lembar berwarna merah kehadapan wanita yang berdandan menor.
Wanita itu tersenyum dan berbinar melihat uang kertas berwarna merah di hadapannya.
''Nah dengan begini Aku tidak perlu marah-marah sama kamu ,'' ucap wanita itu sambil mengambil uang dari tangan Sandrina.
Setelah wanita itu menerima uang dari Sandrina,Sandrina langsung menutup pintu sebelum wanita itu pergi.
Brak.
''Hai Sandrina,pintuku bisa rusak !'' teriak wanita itu tidak terima.
Namun tidak ada jawaban dari Sandrina.
__ADS_1
''Aneh ,'' gumam wanita itu.
Wanita itu lalu meninggalkan kosan Sandrina dengan wajah berbinar.