
''Ya Dia putraKu ,'' jawab Edward sambil mengangkat bocah kecil laki-laki dalam pangkuannya.
Bocah laki-laki itu tersenyum senang saat duduk di pangkuan Daddynya.
Re,Andre dan Samuel menatap bocah kecil yang ada di pangkuan Edward.
Andre tidak jadi membuka suaranya, saat Ia melihat wanita yang di panggil Karin itu keluar dari dapur.Di kedua tangannya membawa sebuah nampan dan di atasnya ada 4 cangkir kopi.
Karin bersimpuh di depan meja,lalu Ia memindahkan 4 cangkir kopi itu yang ada di atas nampan dan meletakkannya di atas meja.
''Silakan di minum kopinya ,'' tawar Karin sambil tersenyum.
''Terima kasih .'' Balas Samuel sambil mengangguk kecil kepalanya.
''Al,ikut Mommy ke kamar .'' Ajak Karin sambil menatap putranya yang ada di pangkuan Edward.
''No Mom,Al mau sama Daddy .'' Tolak Al sambil menggelengkan kepalanya.
''Al ayok sama Mam ,'' ajak Karin lagi sambil merentangkan tangannya untuk menggendong Al.
''Al ingin sama Daddy Mam ,'' Lagi-lagi Al menolak ajakan Karin.
Edward menghembuskan nafas panjang,lagi-lagi saat Karin tidak berhasil membujuk Albi.
Albi sama persis keras kepala seperti Daddynya.
''Al ikut Mommy dulu ya,Daddy ada yang harus di bicarakan dengan Om-om ini .'' Bujuk Edward sambil menunjuk para sahabatnya.
Albi melihat para sahabat Daddynya, bocah kecil itu pun mengangguk dan turun dari pangkuan Daddynya.
''Ayo Mom kita ke kamar ,'' ajak Albi antusias.
Karin dan Albi meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamar Albi.
''Kenapa kalian menatapKu seperti itu ?'' tanya Edward saat ketiga sahabatnya menatapnya dengan tatapan penasaran.
''Dia itu tadi Istri Kamu ?'' tanya Samuel.
''Hmmm,'' sahut Edward.
__ADS_1
Samuel dan Andre saling berpandangan.
''Kenapa ?apa Kalian ingin menertawakan Ku ?'' ketus Edward sambil menatap Andre dan Samuel.
''Tidak...tidak...Aku cuma tidak menyangka saja,'' sahut Samuel cepat.
''Kenapa tidak memberitahu Kami kalau Kau menikah?'' tanya Andre.
''Ceritanya panjang ,'' sahut Edward sambil menyandarkan kepalanya di sofa yang ada di belakangnya.
''Kami siap mendengarnya ,'' ucap Samuel antusias.
Edward mendengus dengan kesal.
''Sebenarnya kalian datang kesini ada tujuan apa ?'' tanya Edward yang sudah mulai jengah.
''Oh ya ampun Gue juga tidak tahu tujuan Kita datang ke mari ada apa?'' Sahut Samuel sambil tersenyum kikuk.
Edward pun beralih menatap Re yang sedang tadi diam saja.
Re yang di tatap oleh Edward menyunggingkan senyum tipis.
''Ini tentang kejadian bom di sekolah,'' ucap Re dingin.
''Gue tahu,Elo kembali ke tanah air karna kejadian itu .'' Tebak Re tanpa melihat Edward.
Re mengambil cangkir kopi di atas meja, dan mulai mulai menyesap kopi itu.
''Ya,dan Gue yakin pelakunya pasti Juan.'' Tuduh Edward.
Re menyunggingkan senyum tipis. ''Bukan Dia ,'' Ucap Re.
Edward langsung menatap Re,Edward yakin pasti Juan yang dengan sengaja ingin melenyapkan adiknya.
Dengan begitu harta peninggalan mendiang Ayahnya pasti akan jatuh ke tangan Mereka semua.
''Apa maksud Kamu ?'' tanya Edward penasaran kenapa sampai Re mengatakan kalau bukan Juan yang melakukan hal itu.
''Iya Re kenapa Kau yakin kalau bukan Juan pelakunya ?'' tanya Andre yang ikut penasaran.
__ADS_1
Re menyesap kembali kopi miliknya,Ia pun kembali meletakkan cangkir kopi itu di atas meja.
''Dia tidak bodoh,Adiknya juga sekolah di tempat dimana Gibran bersekolah.'' Re menjelaskan dengan tenang.
''Dia juga tidak tahu terjadi pengeboman di sekolah,'' lanjutnya lagi.
Edward terdiam,masuk akal juga yang di ucapkan Re.
Samuel dan Andre pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda Mereka pun sama dengan pemikiran Edward.
''Lalu siapa dalang di balik semua ini ?'' tanya Andre yang penasaran.
''Hendrico .'' Jawab Re.
''Tidak mungkin, bukankah Dia masih ada di luar negri .'' Elak Edward tidak mempercayai ucapan Re.
Re menyunggingkan senyum tipis,Ia diam tidak ingin menjelaskan lagi. Terserah Edward mau percaya atau tidak.
Andre yang paham betul sifat Re,yang tidak ingin mengulang lagi perkataannya atau menjelaskan sesuatu.Mau orang itu percaya atau tidak,dirinya tidak akan peduli.
''Kapan Kau bertemu dengan Hendrico ?'' tanya Andre akhirnya.
''Semalam .'' jawab Re singkat.
Edward menatap Re, ingin tahu Re berkata jujur atau tidak.
Edward tahu dari masa sekolah dan kuliah,genk Hendrico dan genk Re tidak pernah akur.
''Apa untungnya Aku membohongiMu ,'' Suara dingin Re membuyarkan lamunan Edward.
''Kalau benar,Hendrico dalang di balik semua ini,Gue akan menghabisinya.'' Ucap Edward sambil mengepalkan ke dua tangannya.
''Kenapa tidak memberi tahu Kami kalau semalam Kau bertemu Hendrico ?'' tanya Samuel.
''Aku masih bisa mengatasinya ,'' jawab Re dingin.
Suara ponsel yang berbunyi menjadi pusat perhatian Mereka.
Re mengambil ponsel miliknya yang ada di saku jas.Re mengerutkan keningnya saat membaca pesan yang di kirimkan oleh Hendrico.
__ADS_1
Dan detik selanjutnya,Re pun tersenyum menyeringai setelah mengirim balasan pesan dari Hendrico.
Edward,Andre dan Samuel saling berpandangan.Mereka menatap bingung Re yang tersenyum menyeringai.