
''Bagaimana hubunganMu dengan Gadis itu Bryan ?'' tanya Sila saat melihat Bryan yang berbalik ingin menuju kamarnya.
Bryan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mamanya.
''Tidak usah ikut campur urusanKu Mam,'' ucap Bryan yang tidak mau mamanya ikut campur urusan pribadinya.
Sila sempat berpapasan dengan anak tirinya.Walaupun mereka tinggal dalam satu atap yang sama,tapi mereka seperti tidak saling mengenal.
Bryan sempat menatap Gibran yang akan keluar dari pintu mansion.Gibran menyunggingkan senyum tipis saat menatap Bryan yang sedang menatapnya.
Bryan mengepalkan kedua tangannya sambil menatap punggung Gibran yang keluar dari Mansion.
''Bryan ,'' panggil Sila sambil menatap Bryan.
''Ada apa Mam ?'' tanya Bryan sambil memutar bola mata malas.
''Secepatnya Kau dekati Gadis itu ,'' suruh Sila.
''Iya Mam,Bryan mengerti .'' Jawab Bryan dengan malas.
Gibran berpapasan dengan salah satu pelayan.
Pelayan itu membungkuk hormat saat melihat Gibran.
''Selamat pagi Tuan Muda ,'' sapa pelayan wanita itu dengan ramah.
''Pagi ,'' jawab Gibran sambil tersenyum menatap pelayan yang menyapanya.
Pelayan Wanita itu tersenyum dan menatap kepergian Gibran yang menaiki sepeda motor.
''Kau lihat apa ?'' tanya pelayan lain yang baru kembali dari pasar.
''Aku melihat Tuan muda Gibran,Dia berbeda dengan ke dua saudaranya .'' Jawab pelayan wanita itu sambil menatap Gibran dengan sepeda motor nya yang keluar dari gerbang Mansion.
''Stt,jangan bicara macam-macam,kalau sampai ada yang mendengar kita bisa celaka, sebaiknya kau kembali bekerja .'' Suruh pelayan paruh baya yang baru kembali dari pasar itu sambil menyuruh pelayan Wanita yang baru beberapa bulan bekerja di Mansion itu untuk kembali kepekerjaannya.
Pelayan wanita itu pun buru-buru masuk ke dalam Mansion untuk melanjutkan pekerjaannya.
BI Mumun yang melihat itu cuma menggelengkan kepalanya.
Sedangkan di tempat lain di sebuah cafe.
__ADS_1
Naya yang sedang duduk di dalam cafe bersama dengan Raya.
Brak....
Naya tersentak kaget saat melihat Sandi yang datang ke arahnya dan menggebrak meja yang ada di depannya.
''Apa-apaan Kamu Sandi ,'' geram Naya sambil berdiri dari duduknya.
''Ini rencana Kamu kan agar Tara datang ke club,dan Kamu membawa kabur Erli .'' Tuduh Sandi sambil menatap tajam Naya.
''Apa maksud Kamu Sandi ?'' tanya Raya yang tak mengerti kenapa Sandi menuduh Naya seperti itu.
''Iya Sandi,apa maksud kamu? karna dari semalam dan pagi ini Erli belum kembali dan Aku pikir Dia masih bersamaMu .'' Sahut Naya sambil menatap Sandi.
''Kau sebaiknya duduk dulu, dan jelaskan apa maksud perkataan Mu tadi,'' pinta Raya sambil mempersilahkan Sandi duduk.
Sandi menghembuskan nafas kasar. Sandi pun duduk di samping Raya.
''Tara semalam datang ke club, untungnya Aku bisa membodohi Tara dan menyuruh Tara untuk pulang duluan, setelah Aku mengantar Tara sampai ke mobilnya,Aku kembali lagi di mana Erli di dalam kamar dan ternyata tempat itu sudah kosong .'' Jelas Sandi.
Naya dan Raya saling berpandangan.
''Bagaimana bisa Tara tahu kau berada di dalam Club ?'' tanya Naya.
''Hai Aku tidak sebodoh itu Sandi,'' ketus Naya sambil mengarahkan garpu yang di pegangnya di hadapan Sandi.
Sandi mengendikkan bahunya tidak peduli.
''Dan kau tahu Naya, perjanjian di antara kita berarti batal .'' Ucap Sandi sambil menyandarkan punggungnya di kursi yang ada di belakangnya.
''Hai tidak bisa begitu,kau sudah berjanji tidak akan menyita rumah Kami .'' Ucap Naya yang tidak menerima perjanjian mereka batal.
''Aku tidak peduli,yang jelas besok kalian harus angkat kaki dari rumah itu .'' Ucap Sandi sambil beranjak dari duduknya.
''Sandi Kau tidak bisa melakukan itu padaku ,'' ucap Naya yang tidak terima Sandi akan mengusirnya.
Sandi cuma menyunggingkan senyum tipis tidak menanggapi ucapan Naya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di tempat lain di dalam sebuah kamar mansion pribadi Re.
__ADS_1
Erli yang tengah duduk di atas ranjang sambil mengayun-ayunkan kakinya. Erli sesekali menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
''Kenapa Ia lama sekali ,'' gumam Erli yang sudah bosan menunggu Re lama.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka.Erli segera memalingkan wajahnya saat melihat Re yang keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan bertelanjang dada.
Re tersenyum tipis saat melihat Erli yang memalingkan wajahnya.
''Kau akan terbiasa seperti ini jika kita nantinya tinggal bersama ,'' ucap Re sambil melangkah menuju ruang ganti pakaiannya.
''Apa katanya itu, jangan bilang dia akan mengatakan pernikahan kami pada papa Ku .'' Gumam Erli sambil menatap punggung Re yang terdapat tato.
''Kenapa dengan lengannya ,'' ucap Erli lirih saat melihat lengan Re yang di balut perban.
Re sebenarnya tahu kalau sejak tadi Erli memperhatikannya sedang memakai kemejanya.Re cuma menyunggingkan senyum tipis.
''Aku tahu Kau sejak tadi menatap punggung Ku ,'' ucap Re mengagetkan Erli yang sejak tadi menatapnya.
''Siapa yang menatapMu ,'' ucap Erli berbohong.
Erli buru-buru memalingkan wajahnya saat Re melangkah mendekatinya.Erli tidak mau kalau sampai Re melihat rona merah di pipinya.
Erli reflek memundurkan tubuhnya saat Re berjongkok ke arahnya.
''Kau mau apa ?'' tanya Erli sambil mendorong dada Re.
Re diam Ia tidak menjawab pertanyaan dari Erli.Re menyunggingkan senyum tipis saat Erli memejamkan matanya.
''Aku cuma mau ambil ini ,'' ucap Re sambil mengambil jaket yang tergeletak di samping Erli.
Re berdiri dan memakai jaketnya.
Erli membuka matanya dan melihat Re yang tersenyum menatapnya.
''Kamu pikir Aku akan menciumMu ?'' tanya Re sambil tersenyum menatap Erli.
Erli terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Re.
Erli memang mengira Re akan menciumnya.Erli pun dengan wajah merona buru-buru menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Re tersenyum menatap Erli yang merona.Ingin rasanya Re mencium Erli sekarang juga.Tapi ia pun menahannya.