Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 135.


__ADS_3

Erli yang baru dari toilet,terkejut saat melihat banyaknya para pengunjung yang mengerumi di mana meja temannya berada.


''Permisi...,bisa bergeser .'' pinta Erli kepada seorang wanita yang menghalangi pandangannya.


Wanita itu menoleh di mana Erli ada di belakangnya.Wanita menganggukkan kepalanya dan menggeser tubuhnya ke samping.


Erli melangkah maju dan terkejut saat melihat Bryan duduk di lantai,Erli menutup mulutnya yang akan menjerit saat melihat Bryan penuh lebam di wajahnya.Erli mengedarkan pandangannya dan melihat Linda yang nampak shok.


Erli yang tersadar dari keterkejutannya dan menyadari salah satu temannya tidak ada di sana,Ia pun melangkah mendekati Bryan yang tengah duduk di lantai dan di bantu para pengunjung untuk duduk di salah satu kursi.


''Ini teman Kamu ?'' tanya salah satu pengunjung Pria yang membantu Bryan.


''Iya Pak,Mereka berdua teman saya .'' Jawab Erli.


''Sepertinya teman perempuan kamu masih shok,'' ucap Pria itu lagi sambil menatap Linda yang duduk di samping Bryan.


''Terima kasih Pak,atas bantuannya.'' Ucap Erli sambil menatap Pria itu.


Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.Pria itu lalu pergi dan di susul oleh para pengunjung lain,untuk meninggalkan meja Erli dan teman-temannya.


Erli menghembuskan nafas panjang,Erli menatap Bryan dan Linda bergantian.


Erli menatap seorang pelayan dan memanggil pelayan itu.


Pelayan yang sedang membersihkan kekacauan tadi,menghampiri Erli.


''Ada yang bisa Saya bantu Nona?'' tanya pelayan Pria itu sambil menatap Erli di hadapannya.


''Boleh Saya pinjam baskom dan lap,'' izin Erli.


''Dan satu lagi es batu juga .'' timpal Linda yang sejak tadi diam saja.


Pelayan Pria itu terdiam sesaat,lalu Ia pun menatap Bryan yang tengah mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan melihat beberapa lebam di wajah Bryan.


''Baik,tunggu sebentar saya ambilkan .'' Ucap Pria itu akhirnya saat mengerti baskom dan lap itu untuk apa.


Setelah pelayan pria itu pergi.

__ADS_1


''Ini bagaimana ceritanya kok bisa terjadi seperti ini ?'' tanya Erli sambil menatap ke dua orang yang beda kelamin itu.


''Tadi tanpa di duga Abangnya Tasya datang,dan.....,'' ucapan Linda terputus saat pelayan Pria datang kembali dengan membawa Baskom,es dan juga lap.


''Terima kasih ,'' ucap Erli sambil mengambil baskom dan lap dari tangan pelayan Pria itu.


Pelayan Pria itu menjawab dengan senyuman.Setelah itu,Pelayan Pria itu melanjutkan pekerjaannya kembali.


''Tasya kemana ?'' tanya Erli sambil mengopres luka lebam di wajah Bryan.


''Setelah Abangnya Tasya memukuli Bryan tanpa ampun,Tasya di bawa paksa pergi oleh Abangnya.


''Keterlaluan....!'' geram Erli sambil tidak sengaja menekan luka lebam di wajah Bryan.


Bryan meringis saat Erli menekan lukanya.


''Er,kau menyakitinya .'' Linda meringis saat melihat Bryan yang meringis kesakitan.


Erli yang tersadar mengangkat tangannya yang sedang menekan luka Bryan.


''Maaf....maaf....,Aku tidak sengaja.'' Ucap Erli sambil tersenyum kikuk dan merasa bersalah saat melihat raut wajah Bryan yang kesakitan.


Erli kembali menatap Bryan dengan tatapan menyesal.


''Maaf,Aku tak ada di sini tadi.'' Ucap Erli dengan raut wajah menyesal.


''Kalau kamu ada di sini,memangnya Kamu berani sama Abangnya Tasya?'' tanya Linda menatap Erli.


Erli mengganggukkan kepalanya,lalu Ia menggelengkan kepalanya.


''Entahlah,yang jelas Dia gak bisa seenaknya menghajar Bryan seperti itu.'' Ucap Erli sambil menatap Bryan yang sedang mengopres lukanya sendiri.


Bryan cuma mengendikkan bahunya,Ia memang sengaja membiarkan wajahnya di pukuli.


''Sudahlah Gue gak papa,ini cuma luka kecil.Gak masalah buat Gue,'' ucap Bryan .


Erli mengerutkan keningnya saat melihat Linda bergidik ngeri.

__ADS_1


''Loe kenapa ?'' tanya Erli menatap Linda penasaran.


''Gue cuma masih kepikiran,saat Abangnya Erli ngamuk.mengerikan,'' sahut Linda sambil bergidik ngeri saat membayangkan kejadian tadi.


''Oh ya ampun,pasti Tasya sangat ketakutan.'' Lanjut Linda lagi saat melihat raut wajah Tasya yang ketakutan tadi.


''Gue yakin,Abangnya gak akan menyakitinya .'' Ucap Bryan yang tahu Abangnya sangat menyanyangi Tasya.


Erli dan Linda serempak menatap Bryan yang ada di samping mereka.


''Apa loe yakin?'' tanya Erli.


''Ya mungkin saja .'' jawab Bryan acuh tak acuh.


''Tapi Kita tidak bisa seperti ini,Kita harus melihat keadaannya.'' Ucap Erli dengan raut wajah yang khawatir.


''Maksudnya ?'' tanya Linda yang tak mengerti.


Sedangkan Bryan menatap Erli dengan raut wajah bingung.


''Kita ke rumah Tasya,untuk memastikan keadaan Tasya baik-baik saja atau tidak .'' Saran Erli sambil menatap Linda dan Bryan secara bergantian.


''Enggak ah,Gue takut .'' Tolak Linda cepat.


''Loe yakin mau ke rumah Tasya ?'' tanya Bryan sambil meletakkan lap yang buat ngompres lukanya di dalam baskom.


Erli cuma menjawab dengan anggukan kepala.


''Loe gak takut ?'' tanya Bryan menatap Erli dengan raut wajah penasaran.


''Kenapa harus takut?'' tanya balik Erli.


''Loe tadi gak lihat Abangnya Tasya marahnya seperti apa,kalau loe melihatnya pasti Elo gak berani datangin Tasya .'' Ucap Linda sambil menatap Erli.


''Entah,Kita lihat saja nanti.Aku takut atau tidak setelah bertemu,'' sahut Erli sambil mengendikkan bahunya.


Linda menghembuskan nafas kasar.Erli memang keras kepala,susah untuk membujuknya untuk tidak menemui Tasya sekarang.

__ADS_1


Linda pun akhirnya pasrah dan ikut menemani Erli untuk ke tempat Tasya. Ia juga khawatir dengan keadaan Tasya.


__ADS_2