
''Re apa tawaranMu waktu itu masih berlaku ?'' tanya Wijaya sambil menatap Re.
Erli mengerutkan keningnya menatap Wijaya dan Re secara bergantian.
''Ya ,'' sahut Re sambil menatap Wijaya yang bersandar di atas ranjang.
Wijaya tersenyum menatap Re dan Erli.
''Erli,maafin Papa .'' Guman Wijaya sambil menundukkan kepalanya.
''Papa kenapa minta maaf ?'' tanya Erli bingung kenapa Papanya meminta maaf.
''Papa merestui pernikahan kalian ,'' ucap Wijaya sambil menggenggam tangan putri bungsunya.
''Pa...pa...tahu ?'' Cicit Erli
Wijaya menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban iya.
''Maafin Papa,Kamu harus berkorban untuk Papa .'' Ucap Wijaya sendu.
''Papa nggak salah,ini semua atas kemauan Erli .'' Sahut Erli sambil meneteskan airmatanya.
''Papa sebenarnya tidak rela Kamu menikah dengan Pria brengsek itu,tapi mau bagaimana lagi tawarannya sangat menggiurkan .'' Ucap Wijaya sambil terkekeh.
Tari memutar bola mata malas saat melihat suaminya yang menghina Re.
''Tawaran apa yang di berikan olehnya? sampai Papa menerima begitu saja.'' Erli menatap kesal Papanya.
''Itu rahasia antara Papa dan Dia .'' Sahut Wijaya sambil menatap Re.
Re yang tahu maksud Wijaya pun akhirnya membuka suaranya.
''Ayo Kita sebaiknya pulang ke mansion, dan biarkan Papa istirahat .'' Ajak Re sambil mengajak Erli untuk berdiri dari duduknya.
''Erli ingin di sini bang,nemenin Papa .'' Tolak Erli cepat.
''Sayang,biar Mama yang jaga Papa. Sebaiknya Kamu pulang ,'' bujuk Tari sambil mengusap bahu Erli.
__ADS_1
Akhirnya Erli pasrah ikut pulang ke mansion milik Re,Erli pikir Papanya akan marah karna Erli sudah menyembunyi kan pernikahannya.Tapi di luar dugaan Papanya malah memberi restu.
Erli pun tidak tahu,apa sebenarnya yang membuat Papanya setuju.
**
**
Malam pun tiba.
Saat itu di kediaman Pratama.
Semua keluarga sedang berkumpul di ruang tamu.Sesekali Pratama menatap Arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
''Sudah jam 8 kok Re dan Andre belum pulang,apa mereka lupa kalau malam ini ada janji .'' Gumam Pratama sambil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
''Pa,sebenarnya Kita nungguin siapa sih ?'' tanya Hendra yang sudah tidak sabar ingin ke kamarnya.
''Iya Pa,Kita ini apa lagi nungguin tamu kehormatan.'' Tebak Tasya sambil mengalihkan perhatiannya dari benda pipihnya dan menatap Papanya.
Mereka penasaran siapa sebenarnya yang Mereka tunggu.
''Itu dia sudah datang ,'' Ucap Pratama sambil menatap pintu Mansion.
Semua yang ada di ruang tamu pun menoleh ke arah pintu,Mereka ingin tahu siapa yang baru akan masuk ke dalam pintu.
''Ini ada apaan,kenapa kalian menyambut kedatanganKu .'' Tegur Aldo tersenyum kikuk saat menyadari semua keluarga majikannya ada di ruang tamu.
Hendra sudah menutup mulutnya yang ingin tertawa saat melihat Papanya yang terkejut dengan kedatangan Aldo.
Tasya tidak bisa berkata-kata saat melihat Aldo yang muncul di depan pintu.
''Ini tamu spesialnya Pa ,'' celetuk Tasya sambil mengulum senyumnya.
Pratama celingukan mencari keberadaan seseorang di belakang Aldo. Pratama berharap Re,Andre dan Istri Andre masih ada di luar.
Rania menyenggol lengan Suaminya.
__ADS_1
''Sebenarnya Kita di sini nungguin siapa ?'' tanya Maria yang sudah tidak sabar.
''Iya Pa sebenarnya Kita dari tadi nungguin siapa ?'' Rara menimpali pertanyaan Maria.
Pratama menghembuskan nafas panjang,Ia pun berdiri dan berkacak pinggang di depan Aldo.
''Dimana Andre dan Re ?'' tanya Pratama dengan wajah garang.
Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal,Ia pun tersenyum kikuk menatap Pratama yang menatapnya dengan wajah garang.
''Re pulang ke Mansion pribadinya, sedangkan Andre mungkin dirinya lupa kalau di suruh pulang sama Tuan .'' Sahut Aldo dengan takut-takut.
''Dasar anak-anak itu ,'' gerutu Pratama sambil memijit pelipisnya.
Pratama menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi yang di ada di belakangnya.
''Pa,Kita sudah boleh ke kamar kan ?'' tanya Tasya sambil menatap Papanya yang sedang mengeluarkan ponselnya.
''Duduk ,'' titah Pratama saat melihat Hendra berdiri dari tempat duduknya.
''tidak ada yang boleh meninggalkan ruang tamu ,'' titahnya lagi.
Hendra pun kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi.
Pratama langsung menghubungi Andre. Pada deringan pertama sambungan telponnya tidak di angkat,dan pada deringan ke tiga sambungan telpon pun di angkat.
''Datang ke mansion sekarang,Papi beri waktu kamu 15 menit harus sampai .'' cerocos Pratama saat sambungan telponnya di angkat.
Pratama mematikan sambungan ponselnya langsung sebelum orang yang di sebrang sana menyahutinya.
Sedangkan di sebrang sana Andre menatap nanar pada layar ponselnya yang telah mati.Ia mengacak rambutnya frustasi sambil menghembuskan nafas kasar.
Setelah Pratama menelpon Andre lalu Ia pun menghubungi Re.
''Sial...,'' umpat Pratama saat panggilannya tidak di jawab oleh Re.
Sedangkan Re di dalam ruang kerja miliknya,Re cuma menatap ponselnya yang sejak tadi meraung-raung.Ia tidak ada niatan untuk mengangkat ponsel itu.
__ADS_1