Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 114.


__ADS_3

Re langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon yang ada di dalam kamarnya.Re pun langsung mengambil kunci mobil yang terletak di atas nakas dekat tempat tidurnya,dan menyambar jaket kulit yang tergeletak di atas tempat tidurnya.


Re pun langsung keluar dari dalam kamar dan menutup pintu kamarnya kembali.Re langsung berlari kecil menuruni anak tangga sambil memakai jaket.


Hendra yang baru keluar dari ruang kerja papanya menatap heran Re yang buru-buru menuruni anak tangga sambil memakai jaketnya.


''Mau kemana dia ?'' gumam Hendra sambil menatap punggung Re yang menghilang di balik pintu ruang keluarga.


''Lihat apa ?'' tanya Pratama yang juga baru keluar dari ruang kerja miliknya dan melihat Hendra yang diam berdiri di depan ruang kerjanya sambil menatap ruang keluarga.


Hendra menoleh ke arah Papanya yang menatapnya penasaran.


''Itu pa,Hendra melihat Re pergi dengan terburu-buru .'' Sahut Hendra.


''Mungkin ada kerjaan yang harus segera di selesaikan oleh Re ,'' duga Pratama berpikiran positif kepada putra keduanya.


Re langsung masuk ke dalam mobil,lalu Ia membunyikan klakson mobil supaya pak satpam membukakan pintu gerbang .


Pak satpam yang mendengar bunyi klakson mobil Tuannya,langsung membuka pintu gerbang.Setelah pintu gerbang terbuka dengan sempurna,Re langsung melajukan mobilnya keluar dari gerbang dan menuju ke club malam milik Marcel.


***


***


***


Sedangkan di dalam club tepatnya di tempat duduk Erli,Naya dan Raya.

__ADS_1


''Mau kemana Kak ?'' tanya Erli saat melihat Kakaknya akan berdiri dari tempat duduknya.


''Aku mau pesan minuman dulu untuk kalian ,'' sahut Naya sambil beranjak berdiri dari duduknya.


''Aku koiktail aja ya Nay ,'' pesan Raya sebelum Naya memesan minuman.


Naya cuma menganggukkan kepalanya menatap Raya.


Naya bergegas menuju di mana pelayan yang sedang membersihkan meja yang tidak jauh dari tangga.


''Pelayan ,'' panggil Naya saat sudah ada di belakang pelayan Pria yang membersihkan meja.


Pelayan Pria itu menghentikan gerakannya yang sedang membersihkan meja,dan Ia pun membalik badannya saat seseorang memanggilnya.


''Ada apa Nona,ada yang bisa saya bantu ?'' tanya pelayan pria itu sambil tersenyum.


''Tunggu sebentar ya Nona ,'' ucap Pelayan itu sambil ingin berlalu pergi.


''Eh tunggu dulu ,'' suruh Naya menghentikan langkah pelayan Pria itu yang akan menuruni anak tangga.


Pria itu berbalik dan menatap Naya.


''Ada lagi yang mau di pesan Nona ?'' tanya pelayan Pria itu ramah.


Naya menggelengkan kepalanya dan Ia pun mendekat ke arah pelayan pria itu.


Pelayan Pria itu mengerutkan keningnya saat Naya mengeluarkan amplop coklat dan botol kecil.

__ADS_1


''Saya butuh bantuan Anda,ini uang akan menjadi milik Anda asal Anda mau menuruti perintah saya .'' Naya menjeda ucapannya dan ingin melihat reaksi pelayan Pria itu.


Pelayan Pria itu menatap bingung pada apa yang di ucapkan Naya.


''Maksud Nona apa ?'' tanya pelayan Pria itu dengan gugup.


''Kamu tinggal menuruti apa perintah saya,obat ini kamu campurkan ke dalam minuman softdrink dan kamu letakkan di depan gadis yang memakai gaun berwarna peack itu .'' Jelas Naya sambil menunjuk di mana Erli tengah duduk.


''Tapi Nona.....,'' ucap Pelayan itu ragu.


''Kamu butuh uang ini kan ?'' tanya Naya sambil menunjuk amplop coklat yang ada di tangannya.


Pelayan itu menelan ludahnya dengan kasar,jujur saja dirinya memang membutuhkan uang sebanyak itu untuk biaya pengobatan ibunya.Pelayan pria itu cukup lama terdiam dan ragu untuk menuruti apa mau wanita yang ada di depannya.


Naya menatap penuh harap pada pelayan pria yang ada di depannya.Naya sudah mendapat informasi tentang pelayan itu yang membutuhkan uang, tentu saja dari orang suruhan Sandi.


''Baiklah Nona,Saya akan mengerjakan apa yang anda suruh .'' Jawab Pelayan pria itu tanpa ragu lagi.


Naya tersenyum mendapat jawaban yang memuaskan dari pelayan Itu.


Setelah pelayan pria itu menerima botol obat dan uang yang ada di dalam amplop.Pelayan itu segera turun untuk mengambil 3 minuman yang di pesan oleh wanita tadi.


Naya memandang Erli cukup lama,Ia sebenarnya tidak mau melakukan hal yang akan menyakiti adiknya.Tapi semua yang Ia lakukan demi keluarga. Naya menghapus air mata yang jatuh di pipinya.Ia pun mencoba tersenyum saat Erli menatap ke arahnya.Naya lalu kembali menghampiri di mana Erli dan Raya yang sedang duduk menunggunya.


Sedangkan tidak jauh dari tangga, seorang pria sedang tersenyum misterius saat mendengar percakapan antara Naya dan Pelayan yang bekerja di club malam itu.


Pria itu tersenyum senang saat rencananya berjalan dengan kemauannya tanpa ada yang akan menghalangi rencana yang sudah ia susun dengan sangat rapi.

__ADS_1


__ADS_2