
Re mengambil pistol yang terselip di pinggangnya,dan langsung mengacungkan pistol itu ke hadapan Edward.
Edward pun melakukan hal yang sama, Edward menodongkan pistol itu ke depan wajah Re.
Re dan Edward sama-sama menarik pelatuk pistol itu,dan bersiap mengeluarkan pelurunya.
Juan,Hendrico dan para anak buahnya tersenyum senang saat melihat ke duanya saling menodongkan pistol.
''Ha...ha...,Gue suka dengan cara begini .'' Seru Hendrico tertawa senang.
Re tersenyum menyeringai dan detik selanjutnya,Re dan Edward mengarahkan pistol itu ke hadapan Juan dan Hendrico serta para anak buahnya.
Mereka berdua siap menarik pelatuknya.
Juan terkejut bukan main.
''Apa yang Kalian lakukan?turunkan senjata Kalian .'' Titah Hendrico bersiap- siap untuk kabur.
''Apa Kalian lupa,nyawa Adik kalian berdua ada di tangan Kami .'' Peringat Juan yang tidak tahu kalau para anak buahnya sudah di kalahkan di rumah itu.
''Sudah terlambat ,'' ucap Edward dingin.
Dor...
Re sudah menarik pelatuk pistol itu.Re tersenyum sinis saat melihat Juan dan Hendrico yang bersembunyi di badan mobil.
''Pengecut ,'' sindir Re sambil meniup pistolnya.
Edward memasukkan kembali pistol miliknya yang Ia selipkan di pinggangnya.
Re berbalik dan Ingin menuju di mana motor yang di kendarainya berada,saat dirinya tidak jauh dari motornya.Dari arah belakang,Hendrico bersiap menyerang Re dengan sebuah pipa besi.
Belum sempat Marcel memberitahu Re, Re terlebih dulu menembak Hendrico tepat di lengan kanannya,yang memegang pipa besi.
Dor...
''Arg...,''
Hendrico mengerang kesakitan,saat timah panas menembus kulitnya.Pipa besi itu otomatis jatuh di atas tanah yang sedang di pijaknya.
Juan segera menghampiri Hendrico yang mengerang kesakitan.
Re menatap sinis Juan dan Hendrico.
''Kalian berdua benar-benar bodoh ,'' ucap Edward tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Juan baru menyadari kebodohannya,Ia melupakan orang kepercayaan Edward.
''Sial ,'' umpat Juan saat baru mendengar sandera mereka di bawa pergi.
Dan otomatis rencana mereka membuat Re hancur gagal total.
Re menerima jaket yang di berikan oleh Samuel,setelah Re memakai jaket itu.
Re dan Edward masuk ke dalam mobil milik Marcel,Dengan Edward yang menyetir.
Sedangkan Samuel dan Marcel menyusul Re dengan menaiki motor.
Sesampainya Mereka di rumah sakit. Re dan Edward langsung masuk ke dalam gedung rumah sakit dan mencari keberadaan Gibran.
Joy dan Andre menyambut kedatangan Re,Edward,Samuel dan Marcel.
''Joy,bagaimana dengan Gibran ?'' tanya Edward langsung saat sudah ada di hadapan Joy.
''Adik Tuan tidak baik-baik saja,para.....''
''Apa maksudMu Joy !'' potong Edward cepat dengan nada meninggi.
''Sabar Ed,Kita dengar dulu penjelasan dari Joy .'' Ucap Samuel sambil menenangkan Edward.
Joy pun mengangguk dan mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Re mendengarkan semua cerita dari Joy, Edward mengepalkan kedua tangannya. Kalau bisa Ia ingin meluapkan emosinya.
''Bagaimana dengan Tasya ?'' tanya Re menatap Andre yang tidak jauh dari Joy.
''Nona Tasya sudah di antar pulang ke mansion ,'' jawab Andre.
Re dan Edward masuk ke ruang rawat Gibran.
''Abang,Kakak .'' Sapa Gibran sambil ingin bangun dari tidurannya.
''Jangan bangun,tetaplah di sana .'' Cegah Re saat melihat Gibran ingin bangun dari tempat tidur.
Gibran menatap sedih Adiknya yang di perban di kepala,Ia bernafas lega Adiknya masih bisa selamat.
Re menatap tidak percaya pada apa yang di lakukan oleh Gibran,Gibran sampai-sampai melukai dirinya sendiri hanya untuk tidak menyentuh Tasya.
Re memang tidak salah pilih memilih calon suami untuk Tasya.
Mungkin saja kalau itu Pria lain,Tasya mungkin sudah tidak suci lagi.
__ADS_1
Re menatap sedih wajah Gibran yang terkena tamparan dirinya sendiri,Ia sampai melukai dirinya sendiri agar tetap sadar dari obat laknat itu.
''Dasar bodoh,kenapa sampai melakukan itu.Kau bisa saja mati ,'' ucap Edward memarahi kecerobohan Adiknya.
''Aku sudah berjanji pada Abang,kalau Aku tidak akan menyentuh Tasya sebelum Tasya menjadi istriKu .'' Jawab Gibran sambil melirik Re.
''Kau tidak perlu melakukan itu Gibran, Aku juga akan memaklumi kalau Kau sampai melakukan itu .'' Ucap Re sambil tersenyum.
''Tidak Abang,Aku sudah berjanji .''Sahut Gibran sambil tersenyum menatap kedua pria yang ada di hadapannya.
Tidak lama kemudian,seorang dokter pria paruh baya dan suster masuk ke dalam ruangan rawat Gibran.
''Bagaimana Dok,keadaan Adik Saya ?'' tanya Edward setelah melihat dokter itu selesai memeriksa Gibran.
''Tidak ada yang perlu di khawatirkan, tidak ada luka dalam cuma luka luar saja .'' Jawab Dokter paruh baya itu menjelaskan keadaan Gibran.
''Apa boleh hari ini Adik Saya pulang ?'' tanya Edward lagi.
''Mohon maaf,hari ini boleh belum pulang.Mungkin saja kalau besok keadaannya sudah membaik,Adik Anda sudah bisa pulang .'' Jawab Dokter paruh baya itu.
''Terima kasih Dokter .'' Ucap Edward.
Dokter dan suster itu keluar dari ruang rawat Gibran.
''Ed,Gue balik .'' Pamit Re.
Edward menganggukkan kepalanya.
''Bran,Abang pulang dulu.Besok pagi Abang ke sini lagi ,'' ucap Re sambil berpamitan kepada Gibran.
''Maafin Gue Bang ,'' ucap Gibran menghentikan langkah Re yang akan keluar dari pintu rawatnya.
''Ini semua bukan salah Lo,Elo malah udah jagain Adik Gue selama ini .'' Jawab Re sambil tersenyum.
Re keluar dari ruang rawat Gibran dan menutup pintu itu dari luar.
Joy dan Andre yang melihat Re keluar dari ruang rawat Gibran,mereka langsung berdiri dari duduknya dan menghadap Re.
''Kerja bagus Dre,Joy .'' Puji Re sambil menepuk bahu Joy dan Andre.
Re langsung melangkah pergi meninggalkan rumah sakit dan di susul dibelakangnya Samuel dan Marcel.
Joy menatap punggung Re dan yang lainnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Joy sudah bertahun-tahun ikut bosnya. Tapi,baru kali ini Ia bisa bertemu langsung dengan Re.Ia selalu mendengar tentang Re dari bosnya.Joy kagum dengan sikap Re yang bisa mengendalikan emosinya.Ia harus belajar banyak dari mereka.
__ADS_1