Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 131.


__ADS_3

Bunyi ledakan di ujung lorong mengagetkan Pak Robert dan seluruh Siswa SMK PELITA yang saat itu berada di lapangan.Mereka tidak menyangka ternyata kotak itu adalah bom.


Tasya nampak terkejut ternyata kotak itu adalah bom,bagaimana dirinya kalau membuka kotak itu.Membayangkan nya saja Ia sudah bergidik ngeri.


Bryan tak kalah terkejutnya dengan Tasya,Bryan tak menyangka Gibran bisa melakukan itu.Tapi di pikir-pikir Gibran tidak mungkin melakukan hal seperti ini.Dan kenapa dirinya mengorbankan nyawanya agar bom itu tidak meledak di sini.Ini sangat aneh,pikirnya.


Mereka tidak tahu bagaimana nasib Gibran di dalam sana.Setelah Gibran menghilang di balik tembok,tidak lama kemudian mereka mendengar bunyi ledakan.Tentu saja membuat mereka terkejut dan khawatir dengan keadaan Gibran.


Ledakan itu memang tidak menimbulkan ledakan besar,tetapi ledakan itu cukup menghancurkan lorong sekolah yang menuju toilet.


''Bagaimana dengan Gibran?apakah si culun itu baik-baik saja ?'' tanya salah satu siswi sambil menatap lorong yang berasap.


''Aku juga tidak tahu,semoga saja Dia baik-baik saja .'' Jawab temannya yang ada di samping siswi tadi.


Juan tiba di parkiran sekolah SMK PELITA,tepat dengan mobil Re yang juga baru tiba di sekolah itu.


Juan tidak langsung keluar dari dalam mobil,Ia cuma melihat dari jauh apa yang terjadi di sekolah itu.


Begitu pun dengan Re,Re tidak ada niatan untuk keluar dari dalam mobil.Re cuma memantau keadaan sekolah dari dalam mobilnya.


Re bernafas lega Adik dan gadisnya di sana baik-baik saja.


''Bagaimana dengan Gibran ?'' tanya Re sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Gibran.


''Belum tahu Re,karna laporan dari anak buah kita,belum ada tanda-tanda Gibran keluar dari lorong itu.'' Jawab Andre sambil melihat raut kekhawatiran di raut wajah Re.


Sedangkan di mobil milik Juan.

__ADS_1


Juan menatap bingung Re yang tak kunjung keluar dari dalam mobil.


.....


Sedangkan di luar negri,di dalam sebuah apartemen mewah.


Seorang Pria yang seumuran dengan Re, berdiri di depan jendela sambil menatap bangunan yang ada di depannya.


''Ron,bagaimana keadaannya ?'' tanya Pria itu yang berdiri di depan jendela.


''Tuan muda baik-baik saja Tuan,'' jawab Asisten pribadinya yang di panggil Ron itu.


''Ron,siapkan penerbanganKu siang ini .'' Perintah Pria itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari jendela.


''Siap Tuan,akan segera Saya siapkan keperluan Tuan.'' Aron membungkuk dan segera keluar dari ruang kerja Pria itu.


Aron masuk kembali ke dalam ruang kerja Pria itu,Pria itu tetap berdiri di depan jendela tanpa ada niatan untuk pergi dari sana.Aron menghembuskan nafas panjang.


''Tuan 2 jam lagi penerbangan Anda ,'' ucap Aron.


Pria itu cuma menjawab dengan deheman.


''Aron....,'' panggil Pria itu sambil menghentikan Asisten pribadinya yang akan keluar dari ruang kerjanya yang ada di apartemen.


Aron menghentikan langkahnya.


''Ada apa Tuan ?'' tanya Aron sambil menatap Tuannya yang masih betah berdiri di depan jendela.

__ADS_1


Aron tidak tahu raut wajah Tuannya bagaimana,Ia cuma bisa melihat punggung Tuannya dan cuma mendengar suaranya yang sepertinya sedang kesal.


''Apa Kau sudah memberitahu Dia kalau Aku sudah pulang ?'' tanya Pria itu sambil melirik sekilas Asisten pribadinya.


''Belum Tuan,'' jawab Aron.


''Apa perlu Aku memberitahu Dia Tuan ?'' tanya Aron.


''Biarkan saja,Aku ingin memberi dia kejutan .'' Tolak Pria itu.


''Baik Tuan Saya mengerti ,'' balas Aron dan berlalu pergi.


****


Kembali di SMK PELITA.


''Dre bagaimana? apa sudah ada kabar dari anak buah Kita ?'' tanya Re yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Gibran.


''Belum Re Mereka masih mencari .'' Jawab Andre sambil menatap bangunan yang ada di depan.


Anak buah Re mencari Gibran lewat pintu belakang.


Anak buah Re bergegas keluar dari pintu belakang,saat terdengar langkah kaki mendekat.


Robert dan para siswa laki-laki mencari Gibran di lorong yang terkena ledakan. Mereka berharap Gibran akan baik-baik saja.


Bryan dengan pikiran yang berkecamuk, menatap dua mobil yang terparkir tidak jauh dari gedung sekolahnya.

__ADS_1


''Ini tidak mungkin pekerjaan kakak kan ,'' gumam Bryan sambil menatap mobil Juan.


__ADS_2