Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 104


__ADS_3

Naya di seret paksa keluar dari kantor milik papanya oleh dua orang pria sampai depan lobi kantor.Semua pegawai menatap terkejut sampai mulut mereka terbuka saat melihat Naya di seret dengan paksa.


''Lepasin Saya,sialan !'' Teriak Naya sambil meronta agar tangan nya terlepas dari cengkraman ke dua pria itu.


''Kalian tidak tahu siapa Saya Ha ,'' gertak Naya sambil menatap salah satu Pria yang memakai pakaian satpam berusaha untuk menakutinya.


Pria yang memakai pakaian satpam bukannya takut malah tersenyum sinis menatap Naya.


Sesampainya mereka di lobi kantor,ke dua Pria itu mendorong Naya hingga Naya jatuh tersungkur di lantai.


''Naya.....!'' pekik Raya sambil berlari menghampiri Naya yang jatuh di lantai lobi kantor.


Raya yang baru saja kembali dari makan siangnya terkejut saat melihat Naya di dorong oleh ke dua pria yang berpakaian satpam .Raya langsung menghampiri Naya dan membantunya berdiri.


Semua pegawai yang melihat kejadian itu menatap penasaran pada apa yang baru saja mereka lihat.Mereka tidak menyangka kalau Anak dari seorang pemilik perusahaan di perlakukan seperti itu.


''Apa yang kalian lakukan?apa kalian tidak tahu siapa dia ?'' Hardik Raya sambil menatap ke dua satpam yang berdiri di depannya dengan gaya angkuhnya.


''Kami tidak peduli siapa dia,yang jelas kami hanya menjalankan perintah .'' Sahut Salah satu satpam sambil berdiri dengan sikap waspada.


''Siapa yang memerintah kalian ?'' geram Raya sambil mengepalkan ke dua tangannya.


''Aku....,'' potong Tara cepat sambil melangkah di belakang ke dua satpam yang berdiri di depan Raya dan Naya.


Semua menoleh ke arah wanita yang baru saja berbicara.Ke dua satpam itu menunduk hormat ke arah wanita yang baru saja melangkah ke arah mereka.


''Aku yang menyuruh mereka untuk mengusir wanita gila ini,kau mau apa ?'' tanya Tara sambil bersedekap dada menatap sinis Raya dan Naya yang ada di depannya.


''Tara,bukan kah kita teman ,'' ujar Raya mengingatkan Tara siapa tahu dirinya lupa.


Tara memutar bola mata malas saat Raya mengingatkan kalau mereka berteman.


Tara menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


''Apa kau ingat Raya,dulu Aku meminta bantuan pada Naya untuk meminjam uang,tapi apa katanya dirinya malah menertawakan Ku,dan menganggap semuanya hanyalah lelucon nya .'' Ucap Tara sambil meneteskan air matanya saat teringat kejadian yang membuatnya membenci Naya.


Naya dan Raya terdiam,waktu itu mereka pikir Tara bercanda soal meminjam uang itu.Karna setahu mereka Tara mengaku putri anak konglomerat,dan mana mungkin dirinya kekurangan uang.


Tara menghapus air matanya dan mencoba tersenyum,dirinya tidak boleh rapuh di hadapan Raya dan Naya.


''Tara....,''


''Berhenti !'' bentak Tara saat Raya akan melangkah mendekatinya.


''Pak Deri ,'' panggil Tara sambil melirik Deri yang berdiri di depan pintu lift.


''Iya Bu Tara ,'' sahut Deri sambil melangkah mendekati Tara yang berdiri di tengah-tengah pak satpam.


''Kosongkan ruangan Raya dan Naya sekarang juga ,'' perintah Tara.


''Tapi Bu ,''


''Ikuti saja apa perintah Saya,kau mengerti ?'' bentak Tara saat perintahnya tidak di turuti.


''Baik Bu Saya mengerti ,'' sahut Deri dengan terpaksa.


Tara berbalik dan berlalu pergi masuk ke dalam gedung kantor.


''Tara,apa maksud Kamu,Kamu tidak bisa seenaknya saja memecat Kami seperti ini !'' teriak Raya sambil berusaha lepas dari ke dua satpam yang menghadangnya.


Tara tersenyum tipis saat melihat Naya yang menggila di depan kantornya dan di tonton oleh banyak pegawainya.Tara pun masuk ke dalam lift dan menutup pintu lift membiarkan Naya yang menggila.


Naya akhirnya menyudahi aksi gilanya dan berlalu pergi dari kantor Wijaya grup bersama Raya yang menemaninya.


Sandi menoleh saat melihat Tara masuk ke dalam ruangannya.


''Bagaimana apa mereka sudah pergi ?'' tanya Sandi sambil menarik Tara untuk duduk di pangkuannya.

__ADS_1


''Iya Aku sangat senang akhirnya bisa menghancurkan Naya ,'' jawab Tara sambil mengalungkan tangannya di leher Sandi.


''Bagaimana apa kau sudah menemukan pemilik saham 50 persen itu ?'' tanya Tara sambil menatap Sandi.


sandi menggelengkan kepalanya,Ia masih mencari pemilik saham misterius yang awalnya 25 persen kini sudah menjadi 50 persen.


''Sudah kita lupakan saja pemilik saham 50 persen itu sejenak,saatnya kita bersenang-senang .'' Seru Sandi sambil mencubit hidung Tara.


Tara terkekeh saat Sandi mencubit hidungnya.


''Tunggu sebentar ,'' Tara menghentikan wajah Sandi yang akan menciumnya saat tiba-tiba ponsel Tara bergetar.


Sandi mengerutkan keningnya saat Tara menghentikannya yang akan mencium bibir Wanita itu.


Tara berdiri dari pangkuan Sandi dan melangkah mendekati jendela.


Sandi menatap penasaran pada Tara yang sedang menerima telpon yang entah dari siapa.


Tara sesekali melirik Sandi dan tersenyum saat Sandi menatapnya.


''Iya Aku akan segera ke sana .'' Tara langsung mematikan ponselnya.


Tara kembali melangkah mendekati Sandi yang tengah menatapnya.


''Aku harus pergi,ada urusan yang harus Aku segera urus .'' pamit Tara sambil mengecup bibir Sandi sekilas.


''Baiklah,cepat kembali .'' Sahut Sandi.


Tara mengangguk,Ia pun mengambil tas miliknya yang ada di sofa dan segera keluar dari ruangan Sandi.


Sandi menatap pintu ruangan yang baru di tutup Tara dengan tatapan yang sulit di artikan.


Sandi pun buru-buru keluar dari ruangannya untuk membuntuti kemana perginya Tara.

__ADS_1


__ADS_2