
Pria tampan yang baru membuka pintu kamar tersenyum menatap Gadisnya yang terkejut menatapnya.
Erli yang masih diam berdiri di depan jendela tidak menyadari Re yang sudah berdiri di depannya.
''Kau sepertinya terkejut melihatKu sayang ,'' ucap Re menyadarkan Erli yang masih terbengong.
Erli tersadar dari keterkejutannya.
''Abang...,'' ucap Erli yang masih tidak menyangka Re yang membawanya keluar dari club.
''Kenapa?sepertinya kau tidak senang ?'' tanya Re dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.
Erli terdiam Ia pun bingung harus menjawab apa.Erli sebenarnya bersukur karna Re yang sudah membawanya kemari.
''Apa Kau berharap pria lain yang menolongMu atau....,''
''Bukan itu maksud Ku ,'' potong Erli cepat.
''Lalu ?'' tanya Re sambil mengurung tubuh Erli di jendela dan menatap wajah cantik istrinya.
Erli diam lagi,ia gugup di tatap Re seperti itu.Erli berusaha mendorong tubuh Re yang mengurung tubuhnya.
''Stt ,'' Re meringis saat Erli tidak sengaja menyentuh lengan Re yang terluka.
''Abang kenapa ?'' tanya Erli panik saat melihat Re yang meringis.
Dan Erli pun terkejut saat baru menyadari sudut bibir Re yang berdarah dan darah itu sudah mengering.
''Dan ini kenapa ?'' tanya Erli lagi sambil menyentuh sudut bibir Re yang terluka.
Re cuma tersenyum dan menatap wajah Erli yang khawatir.
''Abang tidak apa-apa ,'' jawab Re sambil memegang tangan Erli yang memegang sudut bibirnya.
''Abang minggir dulu,Aku mau ambil kotak obat .'' Pinta Erli sambil mendorong dada Re.
Re pun menggeser tubuhnya,Erli berlari kecil menuju di mana letak lemari kecil yang di samping ranjang.
Re melangkah menghampiri Erli yang sedang mencari kotak obat di dalam lemari.
''Ini cuma luka kecil,Abang tidak apa-apa .'' Ucap Re lagi agar Erli tak khawatir.
__ADS_1
Erli berbalik dan menatap Re yang duduk di atas ranjang.Erli duduk di samping Re dengan kotak obat di tangannya.
''Ini pasti sakit ,'' ujar Erli sambil mengobati sudut bibir Re.
Re meringis saat Erli menempelkan obat di sudut bibirnya.
Erli pun ikut meringis seakan-akan merasakan rasa sakit itu.
Erli pun tersenyum saat sudah selesai mengobati Re.
Erli kembali memasukkan kotak obat itu ke dalam lemari.
Re menatap Erli yang menundukkan kepalanya.
Re memegang dagu Erli supaya Erli menatapnya.
''Ada apa Hm ?'' tanya Re menatap Erli yang sedih.
Erli cuma menggelengkan kepalanya.
''Apa kau mengkhawatirkan Papa Mu ?'' tanya Re.
Erli memang khawatir dengan keadaan Papa nya yang ada di rumah sakit.
Bukan itu saja Erli juga sebenarnya memikirkan kenapa kakaknya tega melakukan itu ke Erli.Beruntung Re menyelamatkannya dari Sandi.Entah apa yang terjadi kalau Re tidak menyelamatkanya.
''Abang Mau kemana ?'' tanya Erli saat melihat Re berdiri dari duduknya.
''Kenapa?apa kau mau membantu abang mandi .'' Canda Re mengerlingkan matanya.
''Eh,tidak..tidak...,'' sahut Erli dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya.
''Aku pikir kau akan memandikan Ku .'' Ucap Re sambil berpura-pura sedih.
''Sudah sana kalau mau mandi, mandi saja sana .'' Usir Erli sambil mendorong tubuh Re untuk menuju ke kamar mandi.
Re terkekeh melihat reaksi Erli yang menurutnya menggemaskan.
...****************...
Sedangkan di tempat lain.
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti tepatnya di sebuah Mansion yang tidak jauh kalah besarnya dari Mansion milik Re.
Seorang pria dengan luka lebam di wajahnya keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya menuju pintu Mansion miliknya.
''Juan, ada apa dengan diriMu Nak ?'' tanya seorang Wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibunya.
''Juan tidak apa-apa Mam ,'' jawab Juan.
''Kau berkelahi lagi Bang ?'' tanya seorang Pria yang berdiri di ujung anak tangga.
Juan dan ibunya menatap Bryan yang berdiri di ujung anak tangga.
''Apa benar Juan kau berkelahi lagi ?'' tanya Sila menatap tajam Juan.
''Itu tidak benar Mam,jangan dengarkan anak ingusan itu .'' Jawab Juan berbohong dan menatap tajam Bryan yang berdiri di ujung anak tangga.
Bryan tersenyum tipis saat Juan mengatakannya anak ingusan.
''Terus kenapa wajah Kamu sampai lebam-lebam begitu ?'' tanya Sila menyelidik.
''Aku cuma membela diri Mam ,'' sahut Juan.
''Sama saja Juan kau berkelahi ,'' ucap Sila kesal dengan kelakuan putranya.
''Itu beda Mam,berkelahi dengan membela diri .'' Sahut Juan.
Sebelum Ibunya berbicara lagi, Juan mencium pipi ibu nya dan Juan pun melangkah untuk menuju ke kamarnya.
''Juan mama belum selesai berbicara ,'' ucap Sila kesal karna putra sulungnya itu meninggalkannya.
''Juan capek Ma mau istirahat ,'' sahut Juan tanpa menghentikan langkahnya menaiki anak tangga.
Juan menatap tajam Bryan yang menatap nya sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Saat Juan hampir sampai di ujung anak tangga,Juan berpapasan dengan Gibran yang akan menuruni anak tangga.
Mereka tidak ada niatan untuk menyapa, Mereka menatap tajam satu sama lainnya.
Gibran memutus duluan pandangan Mereka dan segera menuruni anak tangga.
Gibran sudah hampir satu bulan ini tinggal di mansion milik keluarganya. Kalau tidak karna papanya Gibran tidak akan mau tinggal bersama ibu tiri dan juga ke dua saudara tirinya.
__ADS_1