Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 109.


__ADS_3

Malam hari di kediaman Wijaya.


Erli berjalan mandar-mandir di dalam kamarnya sambil menggigiti ujung kukunya.Ia sesekali menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk,Dan lalu bangkit berdiri lagi dari duduknya.Ia masih terngiang-ngiang di telinganya atas ucapan Re tadi siang.


Erli menatap jam yang ada di dalam kamarnya.Ia berlari menuju jendela kamarnya saat mendengar deru mobil memasuki halaman rumahnya.Ia mengintip dari balik jendela dan ingin melihat siapa yang datang ke rumahnya.


Erli menghembuskan nafas lega saat melihat siapa yang baru keluar dari dalam mobil yang ternyata pengacara keluarganya.


Sedangkan di ruang keluarga di kediaman Wijaya.


Wijaya yang tengah duduk di kursi roda di temani Tari,tengah menikmati secangkir kopi yang di suguhkan oleh Istrinya menatap terkejut atas kedatangan Sandi bersama pengacara keluarganya.


''Maaf Tuan,Nyonya,Tuan Sandi memaksa masuk dan ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya .'' Ucap Bi Ijah sambil menundukkan kepadanya.


''Buatkan tamu Kita minum Bi ,'' suruh Tari.


Bi Ijah pun menganggukkan kepalanya dan segera berlalu pergi dari ruang keluarga untuk menuju ke dapur.


''Mau apa Kamu Sandi ?'' tanya Wijaya menatap tajam Sandi.


''Aku cuma ingin menjenguk Papa mertua,'' sahut Sandi.


''ups maaf maksud Sandi mantan Papa mertua ,'' ralat Sandi sambil memperbaiki ucapannya.


Sandi tanpa malu dan tanpa bersalah melangkah duduk di kursi sofa yang tidak jauh dari kursi roda yang di duduki Wijaya.


''Pergi Kamu dari rumah Ku !'' teriak Wijaya sambil menunjuk dimana pintu keluar berada.


''Tak perlu repot-repot mengusir Ku mantan Papa mertua ,'' kekeh Sandi sambil menatap Wijaya.


Naya yang baru masuk ke dalam rumah terkejut melihat Sandi berada di rumahnya.Naya langsung berlari menghampiri di mana ke dua orang tuanya yang tengah menatap Sandi dengan tajam.

__ADS_1


''Sandi,pergi dari rumah Ku !'' teriak Naya tepat di depan wajah Sandi.


''Naya,Naya,apa kau lupa,semua kekayaan milik Papa Kamu sekarang sudah menjadi milikKu ,'' Ucap Sandi sambil terkekeh.


''Dan yang seharusnya keluar dari rumah ini Kalian ,'' ujar Sandi sambil terkekeh yang menurutnya lelucon.


''Omong kosong,Aku tidak percaya .'' Elak Naya yang tidak mempercayai ucapan Sandi.


''Kalau Kalian tidak percaya,kalian bisa tanyakan pada pak Aris mengenai keaslian surat yang sudah di tanda tangani oleh Papa Mu .'' Seru Sandi sambil menyerahkan map yang ada di tangannya ke pada pak Aris selaku pengacara keluarga Wijaya.


Aris pun menerima map dari tangan Sandi.


Wijaya menatap penuh harap kepada pengacara kepercayaannya,kalau surat itu sebenarnya palsu.


''Bagaimana Aris,Surat itu palsu kan ?'' tanya Wijaya berharap Aris akan mengatakan kalau surat itu palsu.


''Pasti surat itu palsu Pa,dan Naya yakin Papa pasti tidak akan memberikan tanda tangan Papa ke manusia biadap itu .'' Ketus Naya sambil menatap Sandi malas.


Aris menghembuskan nafas panjang dan menutup map itu.Lalu Aris menatap Wijaya yang tengah menatapnya.


''Maaf Tuan,surat ini memang asli .'' Jelas Aris sambil menyerahkan surat itu ke hadapan Sandi.


Jedar...


Naya dan Wijaya terkejut saat mendengar bahwa surat kuasa yang sudah ada cap jari Wijaya itu adalah asli.


''Papa....,'' pekik Tari dan Naya secara bersamaan saat melihat Wijaya memegang dadanya.


Erli yang ada di dalam kamar terkejut saat mendengar pekikkan dari Mama dan Kakaknya.


''Apa jangan-jangan Re sudah mengatakan semuanya ke hadapan Papa ,'' pikir Erli.

__ADS_1


Erli langsung keluar dari dalam kamar Ia takut kalau yang menyebabkan Mama dan Kakaknya memekik karna Papanya mengalami serangan jantung atas ulah Re.


Erli menghentikan langkahnya di pertengahan anak tangga saat melihat Papanya tengah memegangi dadanya.


''Papa.....!'' teriak Erli sambil menuruni anak tangga.


Naya dan Tari yang tengah menangis melihat keadaan Wijaya yang tengah menahan rasa sakit di dadanya.


''Ma,Kak,apa yang terjadi dengan Papa ?'' tanya Erli sambil berjongkok di kursi roda papanya.


''Papa...ti...dak...a...pa...a...pa...sa...yang ,'' sahut Wijaya sambil terbata-bata menahan rasa nyeri di dadanya.


''Om Aris,tolong bawa Papa ke rumah sakit ,'' ucap Erli sambil menatap Aris yang tengah menatap mereka.


''Maaf,Nona Saya tidak berani .'' Tolak Aris.


''Percuma Erli,Kamu minta tolong sama mereka,mereka tidak akan menolong Kita.'' geram Naya yang melihat Sandi dan Aris cuma diam menatap mereka.


''Sandi,Saya pas...ti..kan...Kamu a..kan.. men..dapat...bal...lasan...nya...,''


Setelah mengatakan itu Wijaya tidak sadarkan diri.


''Papa...bangun...!'' pekik Erli sambil mengguncang tubuh Papanya.


''Akh,kalian memang sialan ,'' geram Naya sambil menatap tajam Aris dan Sandi.


Sandi tersenyum menyeringai melihat Wijaya yang tidak sadarkan diri.


''Aku harap Tua bangka itu mati,dengan begitu polisi tidak akan bisa memenjarakan Ku,karna tidak ada saksi mata yang melihat kejadian kecelakaan waktu itu .'' Batin Sandi sambil melangkah keluar meninggalkan Naya dan keluarganya yang kebingungan melihat Wijaya yang tidak sadarkan diri.


Dengan teganya Sandi tidak membiarkan Siapapun untuk menolong keluarga Naya untuk membawa Papanya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2