Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 130.


__ADS_3

Juan mengerutkan keningnya saat mendengar bunyi ledakan dan suara berisik-berisik dari dalam ponsel milik Hendrico.Dan lebih penasaran lagi saat melihat Hendrico tertawa puas setelah mendengar bunyi ledakan itu.


"Ha.....ha.....ha....,'' tawa Hendrico pecah memenuhi ruangan kantor itu.


''Ada apa?apa Aku melewatkan sesuatu?'' tanya Juan dengan raut wajah penasaran.


Hendrico baru tersadar kalau di dalam ruangan itu dirinya tidak sendirian. Hendrico berhenti tertawa dan menatap Juan yang sedang menatapnya.


''Dan tadi bunyi ledakan apa?'' tanya Juan lagi yang sudah tidak sabar ingin tahu bunyi ledakan apa itu tadi.


''Aku sangat-sangat bahagia Juan,'' Hendrico menatap Juan yang ada di depannya dengan wajah yang sumringah.


Juan terdiam,Ia pun berpikir kenapa Pria yang ada di depannya sangat bahagia sekali.Apa dia melewatkan sesuatu.


''Kau tahu Juan,akhirnya Aku bisa membalaskan dendamKu kepada bajingan itu.'' Lanjut Hendrico dengan kilat kemarahan tergambar jelas di ke dua matanya.


''apa maksudMu?'' tanya Juan sambil mengangkat alisnya sebelah.


''Sudah di pastikan adik bajingan itu pasti sudah mati ,'' sahut Hendrico sambil tersenyum senang membayangkan ledakan itu mengenai Adik dari musuhnya.


Juan yang ingin bertanya lebih jauh apa maksud dari perkataan Hendrico, mengurungkan niatnya saat Berto asisten Hendrico masuk ke dalam ruangan.


Berto mendekati Hendrico yang sedang duduk di sofa sambil menikmati kopinya.Berto membungkukkan badannya dan berbisik di telinga Hendrico.


Juan melihat wajah Hendrico terkejut saat Berto membisikkan sesuatu di telinga Hendrico.Juan yakin pasti terjadi sesuatu sehingga Hendrico berubah masam dan tidak senang seperti tadi.


''Kurang ajar,bagaimana bisa gadis itu tidak terkena ledakan.'' Geram Hendrico sambil mengepalkan ke dua tangannya.


''Maaf Tuan kami lalai,'' jawab Berto mengakui kelalaian anak buahnya.


''Sial,'' umpat Hendrico karna rencananya telah gagal.


''Bagaimana keadaan SMK pelita?'' tanya Hendrico menatap Berto.


''Keadaan di sana sangat kacau Tuan,'' jawab Berto menjeda ucapannya dan melirik Juan yang sedang terdiam.


Juan yang mendengar sekolah adiknya di bawa-bawa.Dan mendengar soal ledakan,Ia yakin Hendrico sudah meletakkan Bom di sekolah itu dan menargetkan adik Re.


Juan beranjak dari duduknya,melangkah maju menghampiri Hendrico dan mencengkram kerah jas yang di gunakan oleh Hendrico.


Hendrico terkejut dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Juan,begitupun dengan Berto.Mereka tidak mengira Juan akan bereaksi seperti ini.ada apa dengan Juan,apa sekarang Dia berpihak pada bajingan itu.

__ADS_1


Hendrico mengangkat tangannya ketika Berto akan melangkah mendekati Mereka,dan akan memisahkan Tuannya yang sedang di cengkram oleh Juan.


''Juan,kenapa Kau bereaksi seperti ini?'' tanya Hendrico dan membiarkan Juan mencengkram kerah jasnya.


''Kau psikopat Hendric,'' ucap Juan sambil mencengkram kuat kerah jas Hendrico.


''Apa Kau sekarang berpihak pada bajingan itu ,'' kekeh Hendrico.


''Omong kosong,''


''Apa yang ku katakan salah ?'' tanya Hendrico sambil tersenyum sinis.


''Dari dulu Aku sangat membenci Re,tapi sekarang Aku lebih benci diriMu.'' Ucap Juan dengan sengit.


''Hei kenapa Kau marah,kau harusnya berterima kasih padaKu.dengan begini dendam Kita terbalaskan.'' Ucap Hendrico sambil memegang lengan Juan yang mencengkram kerah jasnya.


Juan tersenyum sinis menatap Hendrico yang memasang wajah tanpa dosa.


''Hanya Orang bodoh yang berterima kasih karna Adiknya juga ikut celaka,'' balas Juan menatap sengit Hendrico.


''A...pa... maksud Kamu ?'' tanya Hendrico yang tidak mengerti.


Hendrico terhuyung kebelakang,kenapa dirinya bisa ceroboh seperti ini.


''Tenang tuan,Kita bisa bicarakan ini baik-baik.'' Saran Berto.


''Kau bilang tenang,di sana ada AdikKu Berto.'' Juan menatap Berto dengan tajam.


''Begini Tuan,keadaan di sana semua baik-baik saja.'' jelas Berto menenangkan Juan yang sudah di liputi amarah.


''Juan,AdikMu tidak akan kenapa-napa, bom itu cuma akan meledak dan cuma akan mengenai satu orang saja.'' Hendrico yang tersadar dari fakta bahwa adik Juan yang bersekolah di tempat itu bersikap tenang kembali.


Juan tidak mempedulikan ucapan Hendrico dan Berto yang mengatakan tidak terjadi apa-apa dengan Adiknya. Dirinya belum puas kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi di sana.


Juan berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.


Sebelum Juan keluar dari ruangan Hendrico,Juan berbalik dan menatap Hendrico yang tengah menatapnya.


''Hendrik,jangan Kau usik Dia ,Aku tidak tahu kalau Dia sudah marah,apa yang akan terjadi padaMu .''


Setelah mengatakan itu Juan keluar dari ruangan Hendrico.

__ADS_1


Hendrico terdiam,Ia tidak mempedulikan ucapan Juan.Ia tidak peduli yang penting dendamnya terbalas.


Hendrico tidak tahu,masalah besar sedang menantinya.


.....


Sedangkan di kantor Pratama.


''Jangan sekarang Pa,kami harus segera pergi .'' Ucap Re saat berpapasan dengan Papanya saat di lobi kantor.


''Apa ada hal yang lebih penting,sampai kalian mengabaikan kedatangan Papa.'' Sindir Pratama menghentikan langkah Re dan Andre yang akan keluar dari kantor.


Re menghembuskan nafas kasar,Ia pun berbalik dan menatap Andre.


''Kau pergilah ke sana,dan segera laporkan kepada Ku .'' Perintah Re sambil menepuk bahu Andre.


Andre mengangguk.Saat Andre akan melangkah ke mobilnya,suara dingin mencegah langkah kakinya yang akan meninggalkan kantor.


''Andre,siapa yang menyuruhMu untuk keluar dari kantor ini !'' Bentak Pratama dengan amarah yang tertahan.


Nyali Andre dan Re menciut,Pratama tidak marah dan membentak putra-putra nya seperti itu.


''Kembali ke ruangan sekarang ada yang ingin Papa tanyakan .'' Perintah Pratama tegas dan tidak bisa di bantah.


''Pa,Re mohon jangan sekarang,ada hal yang lebih penting yang harus Re urus .'' Tolak Re.


Pratama menyipitkan matanya,melihat raut khawatir di wajah ke dua putranya, Pratama yakin pasti ada yang tidak beres.Pratama menghembuskan nafas panjang,Ia pun harus lebih bersabar untuk tahu kebenaran Andre yang sudah menikah.


''Baiklah Papi akan mengizinkan kalian berdua untuk menyelesaikan masalah kalian terlebih dahulu,tapi setelah itu segera temui Papi di mansion.'' Putus Pratama akhirnya.


''Terima kasih Pi,Kami akan segera menemui Papi setelah urusan Kami selesai .'' Ucap Andre sambil menyalami tangan Pratama dan mencium punggung tangan Pratama.


Re pun melakukan hal yang sama seperti Andre.


Setelah itu Re dan bergegas menuju di mana mobil mereka telah terparkir di depan lobi.


Re masuk dan duduk di kursi penumpang,sedangkan Andre duduk di samping kursi pengemudi.


''Ke SMK pelita Do .'' Suruh Andre kepada Angga yang duduk di belakang pengemudi.


Aldo segera melajukan mobilnya ke SMK Pelita dengan kecepatan penuh, Aldo sesekali milirik Tuannya yang duduk di kursi penumpang dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


__ADS_2