Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan

Jeratan Cinta Sang Ceo Tampan
bab 143.


__ADS_3

''Hendrico semalam ngajakin Gue balapan ,'' ucap Re sambil memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku jas.


''Terus,apa Elo terima tantangan itu?'' tanya Edward.


Re cuma menjawab dengan gelengan kepala saja.


''Bagus,karna udah lama Elo gak pernah ikut balapan lagi.'' Celetuk Samuel secara tidak langsung meragukan kemampuan balapan Re.


''Elo ngeremehin kemampuan balapan Gue ,'' Re menyunggingkan senyum tipis.


''Bukan itu maksud Gue .'' Ucap Samuel gelalapan.


''Dre..,'' panggil Re.


''Ada apa ?'' tanya Andre sambil melihat ke arah Re.


''Beberapa hari ini perusahan Elo yang handel ,''


''Elo mau kemana Re ?'' tanya Andre.


Perhatian Mereka teralihkan oleh kedatangan Aldo.


''Maaf semuanya Saya mengganggu waktu Tuan-Tuan ,'' ucap Aldo sambil menundukkan kepalanya.


''Ada apa Do ?'' tanya Re.


Aldo tidak langsung menjawab,Ia melainkan berjalan mendekati Re. Sesampainya di mana Re,Aldo membungkukkan badannya dan membisikkan sesuatu ke telinga Re.


Setelah selesai melapor,Aldo membungkuk hormat dan melangkah keluar dari dalam rumah.


Re beranjak dari duduknya,Ia merapikan jas yang membungkus tubuhnya.


''Gue cabut duluan ,'' pamit Re.


''Hai kenapa terburu-buru ?'' tanya Edward.


''Sam,Elo sepertinya masih ada pekerjaan yang tertinggal di firma hukum.'' Ucap Re mengingatkan Sam.


''Oh ya Gue lupa,Gue juga cabut duluan.'' Jawab Sam sambil berdiri dari duduknya.


Re keluar dari Mansion milik Edward.


''Ed,suatu saat Elo harus ceritain pernikahan Elo.'' Suruh Samuel.


''Oke ,'' sahut Edward dengan malas.


Samuel pun mengikuti langkah Re yang sudah keluar dari Mansion.


Kini tinggal Andre dan Edward yang ada di dalam Mansion itu.


Andre dan Edward sama-sama diam, tidak ada yang mau membuka suara. Hubungan ke duanya dulu cukuplah baik,namun setelah suatu kejadian. Hubungan keduanya merenggang.


Mereka pikir Re dan Samuel memang sengaja meninggalkan Mereka berdua.

__ADS_1


''Gue minta maaf ,'' Edward akhirnya membuka suaranya setelah mereka cukup lama terdiam.


''Ya,Gue udah melupakan kejadian itu.'' Sahut Andre.


Dan Mereka pun mengobrol dengan ringan.


Sedangkan Re dan Aldo pergi ke kediaman Wijaya,dan Samuel pergi ke firma hukum untuk mengambil berkas yang di butuhkan oleh Re.


Samuel tidak mengerti kenapa menyuruhnya mengambil berkas itu. Walaupun begitu Samuel menurut juga.


...****************...


...****************...


Sedangkan di kediaman Wijaya.


Wijaya yang saat itu belum membaik keadaannya,di kejutkan dengan kedatangan Sandi dan ke dua orang yang berpakaian preman.


''Pergi ,mau apa kalian .'' Usir Wijaya sambil memegangi dadanya.


''Oh mantan Papa mertua,tak usah repot-repot mengusirKu.'' Ucap Sandi tersenyum sinis.


Naya dan Tari yang baru saja keluar dari dapur,terkejut melihat Wijaya berdiri di depan pintu sambil memegangi dadanya.


Mereka berdua langsung berlari dan menghampiri Wijaya,Mereka ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.


Tari dan Naya terkejut melihat Sandi dan ke dua pria berpakaian preman ada di depan pintu rumah mereka.


''Oh mantan Mama mertua,beginikah kalian menyambut tamu .'' Sindir Sandi sambil menggelengkan kepalanya.


''Naya,apa Kamu belum memberi tahu Mama dan Papa ?'' Sandi beralih menatap Naya.


''Mau Kamu apa Sandi ?'' tanya Naya sambil menatap tajam Sandi.


Sandi tersenyum menatap ketiga manusia yang berbeda usia dan berbeda genetik.Sandi menerobos masuk ke dalam rumah dan di ikuti ke dua pria yang berpakaian preman.


Tanpa malu dan tanpa permisi Sandi duduk di kursi sofa yang ada di ruangan itu.Sandi menyilangkan kakinya di atas meja dan dengan gaya angkuhnya menatap ketiga orang yang ada di hadapannya.


Naya sebenarnya sudah muak dengan wajah Sandi.Tari ingin sekali menampar mantan menantunya.Sedangkan Wijaya memegangi dadanya menahan emosi, dan debaran jantungnya.


''Apa Kau kurang jelas Naya?apa yang ku inginkan ?'' tanya Sandi sambil menatap Naya.


''Apa kau juga kurang jelas Sandi,apa yang ku inginkan ?'' tanya Naya balik.


''Ya..ya...Kau dan keluargaMu bisa tetap tinggal di rumah ini,dan Kau masih ingat kan apa Syaratnya.'' Ucap Sandi mengingatkan.


''Syarat,syarat apa ?'' tanya Wijaya yang masih memegangi dadanya.


Sandi beralih menatap mantan Papa mertuanya dan tersenyum ke arah nya.


''Gampang kok Pa,'' sahut Sandi.


''Cepat katakan apa .'' Desak Wijaya.

__ADS_1


''Baiklah,baiklah.Aku akan memberitahu, Aku takut nanti Papa mati penasaran .'' Ucap Sandi sambil menggantung ucapannya dan secara tidak langsung ingin Wijaya segera mati.


''Kurang ajar,Kau....'' Geram Naya sambil menunjuk Wajah Sandi dengan jari telunjuknya.


''Stt ,'' Sandi meletakkan jarinya di depan mulut,dan mengisyratkan Naya untuk diam.


''Cepat katakan apa mauMu Sandi !'' Suara Wijaya naik satu oktaf dan tangan kanannya semakin meremas dadanya kuat.


''Papa...,''


Tari dan Naya memegangi tubuh Papanya yang akan ambruk.


''Papa tidak apa-apa ,'' sahut Wijaya sambil tersenyum ke arah anak dan istrinya.


''Oke...oke...,sebelum Papa mati penasaran Aku akan memberitahu .'' Sandi menjeda ucapannya sebentar dan melihat raut wajah meringis Wijaya.


''Berikan Erli padaKu .'' Sandi melanjutkan ucapannya.


Wijaya dan Tari terkejut dengan permintaan tak masuk akal Sandi.


Wijaya semakin meringis,Ia tidak mungkin memberikan Erli kepada bajingan keparat ini.Kalau di suruh milih Ia lebih memilih memberikan Erli kepada Tuan Muda Pratama dari pada ke mantan suami Naya,yang tahunya cuma menghabiskan uangnya saja.


''Lebih baik Aku mati dari pada memberikan putriKu kepadaMu !'' Tolak Wijaya mentah-mentah.


''Papa mertua pikir,dengan Papa mertua mati Erli tidak bisa jadi milikKu .'' Sandi tersenyum sinis.


Wijaya terdiam dan Ia pun jatuh di lantai sambil memegangi dadanya yang semakin sakit.


''Sebelum itu terjadi,Aku akan menikahkan putriKu dengan Tuan Muda Pratama .'' Ucap Wijaya dengan yakin.


''Ha..ha...apa Papa mertua yakin,Tuan muda Pratama akan mau menerima Putri Papa itu?'' tanya Sandi tersenyum puas melihat Wijaya semakin kesakitan.


Tari sudah menangis dan tidak bisa berkata-kata.


Naya sendiri berharap ada seseorang yang menolong Mereka.


Wijaya memejamkan matanya sejenak, Walaupun dadanya sesak Ia tetap ingin mempertahankan kesadarannya.


Ia sangat menyesal karna dulu tidak menuruti keinginan Re.Dengan Wijaya menyerahkan Erli Ke Re,Sandi tidak akan mungkin mengincarnya.


Wijaya juga beruntung Erli sekarang belum pulang ke rumah.


Sandi menatap ke dua pria yang di bawanya.


''Cari Erli di kamarnya .'' Perintah Sandi kepada dua pria berpakaian preman.


''Baik Bos ,'' jawab mereka berdua kompak.


Kedua pria itu pun menaiki anak tangga untuk mencari keberadaan Gadis yang di maksud bosnya.


Wijaya membuka matanya saat mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat dari arah luar.


Wijaya berharap itu bukan Erli yang datang,melainkan orang lain atau satpam komplek yang sedang berpatroli.

__ADS_1


__ADS_2