
''Kak Naya ada apa ?'' tanya Erli lagi karna sejak tadi Kakaknya diam saja sambil memegang lengan Naya.
Naya tersentak kaget dan tersenyum menatap Adiknya.
''Besok malam temani Kakak ke acara ulang tahun teman Kakak ya ,'' pinta Naya.
''Tapi,bagaimana dengan Papa kalau Kita tinggal ?'' tanya Erli yang khawatir dengan keadaan Papanya.
''Kan ada Mama dan Suster yang menjaga Papa ,'' sahut Naya.
''Lagi pula Papa sudah baik-baik saja,kan.'' Lanjutnya lagi.
Erli terdiam dan menatap Kakaknya.
''Kamu,kan tahu sendiri Er,Kakak baru pisah dengan Sandi,dan teman Kakak meminta Kakak untuk membawa seseorang,Dan Aku cuma punya Saudara Kamu saja .'' Ucap Naya memasang wajah sedih.
Erli yang tak tega melihat wajah sedih Kakak nya pun akhirnya menyetujui permintaan Naya yang mengajaknya ke acara ulang tahun temannya.
***
***
Sedangkan di kediaman Pratama.
Semua keluarga Pratama sedang berkumpul di ruang keluarga,Kecuali Re tidak ikut berkumpul bersama keluarga nya karna belum pulang.
''Kak ,'' panggil Tasya.
''Hmmm ,'' sahut Hendra tanpa mengalihkan perhatiannya pada benda pipih yang ada di tangannya.
''Kakak sama Kak Rara besok jadi berangkat ke Paris ?'' tanya Tasya.
''Iya,kenapa ?'' tanya Hendra balik sambil menatap adiknya yang kepo.
''Sebenarnya sih Aku ingin ikut,tapi pasti tidak boleh .'' Sahut Tasya sambil tertunduk lesu.
''Kakak di sana bukan liburan,Kakak di sana melakukan perjalanan bisnis .'' jelas Hendra sambil mengusap pucuk kepala Tasya.
Rara yang melihat itu pun tersenyum.
''Papa janji,kalau Kamu sudah lulus, Kamu boleh jalan-jalan ke Paris .'' Bujuk Pratama yang melihat wajah sendu putrinya.
Tasya mengangkat wajahnya dan menatap Papanya.
''Benaran Pa ?'' tanya Tasya dengan raut wajah bahagia.
__ADS_1
Pratama cuma menjawab dengan anggukan kepala saja.
''Apa boleh Tasya ajak teman Pa ?'' tanya Tasya.
''Boleh,asalkan itu teman cewek .'' jawab Pratama.
''Yeee,Papa memang paling baik sedunia .'' Seru Tasya girang sambil menghampiri Papanya dan langsung memeluknya.
''Gitu aja seneng banget dek ,'' cibir Hendra sambil menggelengkan kepalanya.
''Pa,lihat Kakak,nyebelin deh .'' Rajuk Tasya sambil mengerucutkan bibirnya.
Semua yang di sana tertawa melihat Tasya yang kesal.
''Baru pulang Re ?'' tanya Maria yang melihat cucunya akan menaiki anak tangga dan jangan lupakan jas yang sudah tersampir di pundaknya,
Semua menoleh dan menatap Re yang akan menaiki anak tangga.
Re menghentikan langkahnya dan menatap semua keluarganya yang tengah berkumpul di ruang keluarga.
''Iya Oma ,'' jawab Re sambil menghampiri di mana keluarganya berada.
Re pun menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa di dekat Tasya.
''Mau Mama buatin teh ?'' tawar Rania yang melihat wajah putranya yang lelah.
''Cepat nikah Bang,biar ada yang ngurusin ,'' ujar Tasya sambil menatap Re.
''Tu lihat Kak Hendra sekarang ada yang ngurusin ,'' lanjut Tasya lagi sambil melirik Hendra yang duduk di sebelah Neneknya.
Re cuma memutar bola mata malas tidak menanggapi perkataan adiknya.
''Iya Re,umur Kamu sudah cukup matang untuk berumah tangga,kap.....,'' Ucapan Rania terhenti saat Re memotong ucapannya.
''Ma,Re tidak mau bahas soal urusan pribadi Re,Re ngantuk mau istirahat .'' potong Re cepat yang tidak mau mendengar ucapan Mamanya mengenai pernikahan.
Re beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya untuk menuju di mana kamarnya berada,dengan Jas yang tersampir di pundaknya dan tangan kiri yang Ia masukkan di saku celana.
''Re tunggu,Mama belum selesai bicara.....!'' teriak Rania saat melihat Re yang sudah berlari menaiki anak tangga.
Re pun tidak menghiraukan teriakan Mamanya yang terus meneriaki namanya.
Rania menghembuskan nafas kasar, seharusnya di umurnya yang sekarang Ia sudah memiliki cucu,tapi apalah daya putra tertuanya baru saja menikah,dan Putra ke dua dan Putra angkatnya masih sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mau di urusi urusan pribadinya oleh ke dua orang tuanya.Dan sedangkan Putri bungsunya masih duduk di bangku SMK dan sebentar lagi akan masuk kuliah.
''Sudahlah Ma,kalau sudah waktunya mereka pasti akan menikah .'' ucap Pratama berusaha menenangkan istrinya.
__ADS_1
''Tapi sampai kapan Pa,mereka akan terus seperti itu ?'' tanya Rania yang takut putranya memiliki kelainan.
'Kita percayakan saja sama Mereka Ma,'' ujar Pratama.
Tasya yang menyesal karna sudah membahas soal menikah itu pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya,setelah melihat Mamanya sedih.
''Ma,Pa,Oma,Kak dan juga Kakak ipar Tasya ke kamar ya ngantuk .'' pamit Tasya sambil menyalami semua yang ada di ruangan keluarga.
''Iya ,'' Jawab Mereka serempak.
Tasya pun segera berlari menaiki anak tangga untuk menuju di mana kamarnya berada,yaitu tepat di sebelah kamar Re.
Tasya membuka pintu kamarnya dan lalu Ia pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya.Tasya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya yang berukuran besar.
Tasya beranjak dari tidurannya saat teringat kado pemberian tadi siang yang kata Erli dari Bryan.
''Oh ya ampun kado itu ,'' Ucap Tasya sambil menepuk keningnya saat teringat kado yang ada di saku baju seragam sekolahnya.
Yang sudah di pastikan seragam sekolahnya sudah di bawa bibi di ruang pencucian.
''Oh ya ampun kenapa Aku ceroboh sekali ,'' gerutu Tasya pada dirinya sendiri.
Tasya keluar dari dalam kamar miliknya untuk menuju di mana kamar para ART berada.
Langkah Tasya terhenti di depan pintu kamarnya saat Ia akan menutup pintu kamarnya saat melihat kotak kecil yang ada di meja belajarnya.Tasya kembali masuk ke dalam kamar miliknya dan langsung menuju di mana meja belajar nya berada.
Tasya langsung mengambil kotak kecil yang ada di atas meja belajarnya.
''Apa ya kira-kira isinya ?'' tanya Tasya pada dirinya sendiri sambil menatap penasaran kotak yang di pegangnya.
Tasya menarik kursi yang ada di depan meja belajarnya dan Ia pun duduk di kursi itu.
Tasya yang mulai penasaran akhirnya membuka kotak itu.
''Ini.....,'' ucap Tasya terkejut saat melihat apa isi di dalam kotak itu.
Tasya memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing saat dirinya berusaha mengingat gelang yang ada di kotak itu.
Tapi nihil dirinya tidak ingat apa-apa.
Tasya lalu mengambil kertas kecil yang ada di bawah gelang itu dan mulai membuka kertas itu dan mulai membacanya.
''Ibra...siapa Ibra ,'' gumam Tasya saat tiba-tiba terlintas begitu saja nama Ibra di kepalanya setelah membaca puisi yang ia kira dari Bryan.
Tasya seperti pernah mendengar puisi yang pernah di ucapkan oleh seseorang, tapi Ia pun tidak ingat siapa orang itu.
__ADS_1
Tasya pun mengendikkan bahunya yang tidak mau ambil pusing siapa Ibra sebenarnya.