
Lagi lagi Ciko mengerutkan keningnya ketika mendapatkan tatapan dari Gane. "Ada apa, Bos?" tanya Ciko yang merasa dicurigai.
"Tidak ada apa apa," jawab Gane. Dengan santainya, ia langsung mempercepat langkah kakinya dan segera naik ke kapal.
Sampainya berada di kapal, Gane memilih untuk sendirian tanpa ada yang mengganggu konsentrasinya. Namun tetap saja, Ciko tidak akan membiarkan Bosnya hanya seorang diri dalam keadaan yang sedang dirundung musibah.
"Bos, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Ciko sambil berdiri bersebelahan dengan Bosnya, keduanya sama sama menatap lurus pada pandangannya masing-masing.
"Tanya saja, aku tidak pernah melarang kamu untuk bertanya padaku." Jawab Gane yang tetap pada posisinya dan tidak berubah maupun pindah tempat.
"Sebelumnya aku minta maaf ya, Bos." Ucap Ciko meminta izin pada Bosnya sebelum ia menanyakan sesuatu padanya.
"Sudah cepetan, memangnya kamu mau tanya apa?"
"Begini Bos, maaf banget sebelumnya. Em ... kalau seandainya Tuan Regar tidak juga ditemukan, apa yang harus kita lakukan, Bos?" tanya Ciko yang akhirnya nekat untuk bertanya pada Bosnya. Dirinya tidak peduli dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Bosnya, setidaknya tidak ia dapat mengetahui jawabannya.
Seketika, Gane langsunh menoleh ke Ciko. Begitu juga dengan Ciko yang ikut menoleh ke arah Bosnya. Takut, itu sudah pasti. Tapi tidak membuat nyalinya Ciko menciut begitu saja.
"Maksud kamu bertanya seperti itu, apa? ha."
"Aku tidak ada maksud apapun sama kamu, Bos. Aku hanya ingin tahu saja, tidak lebih. Maaf, jika pertanyaan dariku sedikit menyakitkan untuk Bos Gane dengar."
"Yang jelas, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan sesuatu apapun demi adikku." Kata Gane yang mulai menunjukan emosinya, Ciko mulai memikirkan sesuatu yang bisa saja akan mencelakai seseorang.
"Sesuatu? apa itu, Bos?" tanya Ciko yang justru dirinya mulai penasaran dengan apa yang tengah dipikirkan oleh Bosnya sendiri.
"Nanti kamu akan tahu sendiri, yang jelas untuk saat ini aku masih terus mencari adikku. Jika dalam satu minggu tidak juga ditemukan, aku akan memberitahu mu." Jawab Gane yang tidak lupa dengan senyum yang menyeringai, Ciko sendiri semakin dibuatnya penasaran.
'Semoga saja kamu tidak akan melakukan sesuatu hal buruk, Bos.' Batin Ciko yang kini mulai dihantui dengan kekhawatiran.
__ADS_1
Setelah cukup lama berada di kapal, Gane masih terus mengamati di sekitaran kapal tersebut. Pandangannya begitu fokus, bahkan sangat jeli untuk mengamati disekitarnya. Tidak terasa juga, waktu pun hampir gelap. Matahari mulai menenggelamkan cahayanya untuk bergantian dengan rembulan.
"Bos," panggil Ciko mengagetkan. Gane langsung menoleh ke arah Ciko yang tengah berjalan mendekatinya.
"Ada apa, Cik?" tanya Gane.
"Sudah mau gelap nih, Bos. Apakah tidak sebaiknya kita kembali ke tempat peristirahatan lagi, takutnya turun hujan. Minggu minggu ini cuaca sedang tidak baik baik saja, Bos." Jawab Ciko, Gane mendongak dan menatap langit langit yang terlihat mendung.
"Baik lah, aku nurut saja dengan mu." Kata Gane yang sudah pasrah. Meski sangat berat untuk kembali ke tempat peristirahatan, Gane tidak ingin egois dan membuat orang lain kesusahan untuk mengatasi kemauannya.
Ciko sendiri semakin heran dibuatnya, bahkan benar-benar diluar dugaannya.
"Ada apa dengan Gane, Cik?" tanya Tuan Pras yang juga merasa heran dengan sikap keponakannya sendiri.
"Tidak ada apa-apa, Tuan. Bos Gane baik-baik saja. Mari, Tuan. Maaf, saya duluan." Jawab Ciko dan sekaligus pamit.
"Bos," panggil Ciko lagi.
"Ada apa lagi sih, Cik?" Gane kembali bertanya.
"Lebih baik Bos Gane mandi dulu, setelah itu kita makan malam bersama." Jawab Ciko.
"Ya," jawabnya dengan singkat, dan ia langsung masuk ke dalam ruangan khusus miliknya untuk segera membersihkan diri.
Sedangkan Ciko lebih memilih untuk menunggunya di luar dari pada harus ikut masuk bersama Bosnya. Meski ada rasa khawatir, Ciko tetap berpikiran yang positif dan tentunya baik-baik saja.
Sambil menunggu Bosnya, Ciko menyibukkan diri dengan ponselnya. Alih-alih ia mencari kabar tentang semuanya, yakni tentang pekerjaan yang selama ini ia geluti bersama Bosnya. Tidak cukup hanya mengurus perusahaan, Gane dan Ciko memiliki pekerjaan yang lain di luar jam kantor.
Karena tidak ada lagi yang dikhawatirkan oleh Ciko, akhirnya ia segera masuk ke ruangan milik Bosnya. Dirinya sendiri merasa gerah dan tidak nyaman apabila tidak membersihkan diri.
__ADS_1
Sedangkan Tuan Pras dan Tuan Hardika beserta putranya, segera masuk dan dan kembali ke ruangannya masing-masing.
Ciko yang sudah berada di dalam ruangan milik Bosnya, ia segera melepas pakaian yang menyisakan celana kolor dan kaos oblong.
Gane yang tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya selesai juga membersihkan diri.
"Cik, buruan mandi. Waktu kita tidak banyak, cepetan." Perintah Gane sambil sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Ya, Bos." Jawab Gane dan segera bergegas masuk ke kamar mandi.
Saat sudah berada di dalam kamar mandi, Ciko buru buru untuk mandi. Dirinya tidak ingin berlama-lama dan membuat tingkat emosi Bosnya akan memuncak.
Gane yang selesai mengeringkan rambutnya, ia beralih menyibukkan diri dengan ponselnya. Meski dalam keadaan yang tengah dirundung kesedihan, Gane tetap menyibukkan diri atas pekerjaan yang ia geluti bersama Ciko selama lebih dari sepuluh tahun.
Dunia Gane dan Ciko tidak sebahagia layaknya teman sebayanya, keduanya tidak pernah mengenal apa itu pengangguran. Setiap harinya Ciko dan Gane selalu bekerja keras demi kesuksesan, meski harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun.
Gane yang mendapatkan sebuah amanah dari mendiang ibunya, sejak itulah Gane mulai berubah dari segala sikap dan perilaku. Tak ada senda gurau untuknya, yang ada hanyalah kerja dan kerja demi sang adik laki laki yang ia sayangi. Bahkan dirinya tidak pernah terpikirkan untuk menikah, yang ia pikirkan adalah dapat berjaya dan sukses. Gane tidak peduli betapa kerasnya perjuangan demi adik laki lakinya.
Setelah tidak ada masalah apapun sama anak buahnya, Gane meletakkan ponselnya. Sambil nunggu Ciko selesai mandi, Gane berdiri didekat jendela yang cukup jelass menembus pulau terpencil yang dijadikan tempat liburan bersama keluarga.
"Bos, ngelamun aja." Panggil Ciko sambil menepuk punggung milik Bosnya. Gane langsung menoleh ke samping, tepatnya pada Ciko.
"Ngagetin aja, ada apa?"
"Aku sudah siap nih, jadi makan malam atau tidak nih, Bos?"
"Kamu duluan aja, nanti aku menyusul." Kata Gane. Sedangkan Ciko tidak mudah untuk menuruti perintah dari Bosnya.
"Hem, aku tidak percaya jika Bos Gane akan segera menyusul. Sudahlah Bos, ayo kita turun. Tidak usah banyak-banyak makan malamnya, yang penting perutnya Bos Gane terisi. Setelah itu kita kembali lagi di ruangan ini, bagaimana? ayolah, Bos." Ucap Ciko yang lagi lagi harus membujuk Bosnya.
__ADS_1