Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Mengerjai suami


__ADS_3

Acara pernikahan yang hanya memakan setengah hari, kini tinggallah Gane dengan sang istri yang masih berada di dalam rumah. Tidak ada lagi sosok Mbak Alana dan Doin seperti waktu sebelumnya yang selalu mengisi hari-hari Nanney.


Sunyi dan mencekam, seperti itulah yang dirasakan Nanney saat ini. Tidak tahu harus berbuat apa, Nanney memilih duduk di sofa sambil memainkan ujung pakaiannya yang dirasa gugup.


Saat itu juga, Gane langsung duduk disebelah istrinya dan membuat jantungnya serasa mau copot begitu saja. Berkali-kali Nanney mengatur pernapasannya, berharap detak jantungnya tidak berdegup dengan sangat kencang. Tentu saja akan mendapatkan malu, bahkan bisa jadi sang suami akan lebih bersemangat untuk mentertawakannya. Rasa takut dan gelisah kini telah menjadi satu didalam pikirannya. Ingin rasanya menepis pikiran buruknya pun, tetap saja tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Sekarang juga, kau ganti pakaian mu itu. Setelah iti, kau buatkan ku kopi tanpa gula." Perintah Gane tanpa menoleh kearah istrinya.


"Ya, Kak." Jawabnya, kemudian ia segera bergegas dan mengganti pakaiannya. Saat mau melangkah kakinya ia terasa bingung untuk masuk kamar yang mana, sejenak ia berpikir.


"Kau sedang ngapain masih berdiri di situ? ha! cepat kau ganti pakaian mu itu, dan kerjakan tugas-tugas mu sebagai istriku." Bentak Gane mengagetkannya.


Seketika, Nanney langsung bergegas masuk ke kamar Ciko. Baginya jual mahal itu sangatlah penting sebelum dipermalukan, pikirnya.


Saat sudah sampai berada di dalam kamar Ciko, Nanney tidak mendapatkan pakaian miliknya satu pun. Berkali kali ia memeriksanya, tetap saja tidak dapat menemukan pakaiannya.


"Sial! rupanya pakaian ku sudah dipindahkan semuanya, berarti nanti malam aku ..." umpat nya dengan penuh kekesalannya.


Karena tidak ingin sok kepedean, pura pura untuk menanyakan pada suami.


"Kenapa kau masih belum mengganti pakaian mu, ha!"


"Aku tidak menemukan bajuku di kamar Kak Ciko, lalu aku harus bagaimana, Kak?" jawab Nanney dengan lesu.


"Dasar! benar-benar bodoh kau ini, tentu saja di kamarku. Cepat kau ganti baju mu itu, aku tidak mau tahu, kau harus profesional untuk menjadi istriku." Ucap Gane dengan suara yang cukup meninggi. Tapi bentakannya tidak membuat seorang Nanney ketakutan, justru ide yang tidak disangkakan nya telah muncul begitu saja.


Malas untuk meladeni amarah dari sang suami, Nanney langsung bergegas masuk ke kamar dan segera mengganti pakaiannya.


Tidak memakan waktu yang lama, Nanney telah mengganti pakaian santainya. Saat sudah berada di ruang dapur, sejenak ia mengingat sesuatu yang sudah di pikirkan saat masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Dengan idenya yang sangat konyol itu, Nanney akhirnya tersenyum puas ketika ia membayangkan sesuatu yang terjadi pada suaminya setelah menikmati kopinya.


"Memangnya cuman Kak Gane saja yang bisa kejam, aku pun juga bisa." Gumam Nanney dengan senyum yang penuh kemenangan.


Meski idenya tidak masuk akal, setidaknya dirinya puas dapat mengerjai suaminya yang menurutnya sangatlah kejam dan berhati baru, pikirnya.


"Sekali menyeruput, lunas lah mulutnya yang cerewet itu." Gumam Nanney sambil mengaduk kopi panasnya.


Sambil berjalan, Nanney membawakan secangkir kopi panas dan tanpa gula, lalu ia meletakkan nya didepan sang suami. Gane yang selalu waspada, sekarang pun, ia terus waspada.


"Kopinya, Kak." Ucap Nanney setelah meletakkan cangkirnya. Gane sejenak memperhatikan istrinya sebelum meraih secangkir kopi yang ada di hadapannya itu.


"Kau minum dulu kopinya, setelah itu aku baru mau meminumnya."


Seketika, Nanney terbelalak mendengarnya. "Minum?" tanya Nanney sambil menunjuk kearah dirinya dengan jari telunjuknya.


"Ya, kamu. Memangnya siapa lagi kalau bukan kamu, kenapa kau terkejut? oh! jangan-jangan kau memasukkan racun didalamnya untuk membunuhku, ayo ngaku."


"Kalau memang tidak ada racun, diminum dulu itu kopinya. Aku tidak mau tahu, kau harus meminumnya terlebih dahulu sebelum aku meminumnya."


Nanney yang tidak ingin ketahuan atas perbuatannya, mau tidak mau dirinya memakan senjatanya sendiri.


'Sialan, dasar ABG tua. Tinggal diminum juga, apa susahnya.' Batin Nanney terasa jengkel atas ulah dari suaminya.


"Kenapa kau masih diam? ha! cepat kau minum kopinya." Perintah Gane dengan paksaan.


"Ya ya ya." Jawab Nanney dan segera meraih secangkir kopi yang ada di hadapan sang suami.


"Duduk." Perintah Gane, mau tidak mau Nanney menurutnya dan duduk disebelah sang suami dengan gugup.

__ADS_1


'Mampus, aku. Bagaimana ini kalau aku tersedak, bisa ketahuan kalau begini caranya. Ah, bodoh banget kamu ini Nanney. Tidak seharusnya kamu langsung mengerjainya, Nanney. Bodoh sekali kamu ini, benar-benar bodoh.' Batin Nanney sedikit ada terasa takut.


"Ini asli kopinya, Kak. Serius deh, ini tidak racun nya." Rayu Nanney yang berharap akan mendapatkan toleransi dari suaminya.


Tapi tidak untuk sosok Gane, yang memilih sifat yang tidak bisa diganggu gugat jika sudah menjadi keputusannya. Apapun itu rayuannya, Gane tetap tidak akan pernah goyah dengan apa yang sudah menjadi keputusannya.


Nanney yang kalah merayu, akhirnya mau tidak mau dirinya meminum kopinya.


"Sisahkan separonya."


"Apa, separonya? yang benar saja."


"Baiklah kalau kamu tidak mau, nanti malam kau pijat aku." Jawab Gane yang tetap pada pendiriannya.


Nanney yang tidak mau urusannya semakin panjang, akhirnya ia langsung meraih secangkir kopi yang dibuatkan untuk suaminya.


'Nanney, kamu harus bisa menahan rasa asinnya kopi ini demi suami kamu mau meminumnya.' Batinnya sebelum meminum kopinya.


Satu tegukan, membuat tenggorakan nya meronta karena keasinan. Demi menutupi kesalahan yang sudah ia perbuat, Nanney terpaksa meneguk nya kembali sampai habis setengahnya.


Gane yang melihat ekspresi dari sang istrinya, otak liarnya ikut bekerja. Bukan pada hal kotor maupun menjerumus, Gane sendiri tidak mau kalah dari perbuatan istrinya.


Bagaimana tidak ketahuan, setiap sudut ruangan sudah di penuhi CCTV. Apa saja yang dilakukan oleh istrinya, semua akan ketahuan.


Saat itu juga, Nanney baru tersadar jika setiap sudut ruangan banyak CCTV nya.


'Mampus, aku. Kenapa aku baru mengingatnya, kalau di rumah terkutuk ini banyak CCTV. Ah ... Nanney, kamu benar-benar sangat bodoh.' Batin Nanney penuh penyesalan.


"Baiklah, karena kamu sudah meminumnya, maka aku akan menghabiskan minumannya. Rupanya kamu benar-benar istriku yang sangat jujur, aku harus bangga memiliki istri sepertimu yang penurut." Ucap Gane dengan senyum yang cukup menakutkan bagi Nanney, senyum yang seakan ada sesuatu yang tidak bisa diduga nya.

__ADS_1


'Bagaimana ini kalau Kak Gane benar-benar meminum kopinya, apa yang akan dilakukannya setelah ini.' Batin Nanney dengan penuh kekhawatiran nya. Berkali-kali ia berdoa agar tidak ada sesuatu pada dirinya.


__ADS_2