Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Peringatan


__ADS_3

Ciko yang mendengarkan penuturan dari Gane, ada rasa sedikit kecewa atas sikapnya, namun ia tidak berani untuk menghentikan perbuatannya yang cukup tidak baik itu.


"Kamu tenang saja, aku hanya akan menyiksa hatinya. Setelah aku merasa puas, maka aku akan membuangnya sejauh dari kehidupanku." Ucap Gane dan menepuk pundak milik Ciko yang tengah menatapnya.


"Terserah Bos Gane saja, yang terpenting aku sudah memberikan peringatan kepadamu, Bos. Antara mau diterima saran dariku atau tidaknya, itu sudah menjadi keputusan dari Bos Gane sendiri." Jawab Ciko sedikit kecewa pada Bosnya yang semena mena melakukan perbuatan kasarnya terhadap seorang perempuan yang tidak tahu apa apa, pikir Ciko.


"Tentu saja aku sudah memikirkannya, dan keputusan aku sudah bulat." Ucap Gane, sedangkan Ciko hanya mengangguk dan kembali masuk ke rumah dan disusul Gane dari belakang.


Di dalam rumah, Nanney memilih membuat sarapan pagi daripada membersihkan diri. Karena ia tidak ingin mandi dua kali, dan memilih untuk menyibukkan diri di dapur.


Ciko yang mendapati suara sesuatu di dapur, ia segera melihatnya.


"Nona, apa yang kamu lakukan?" tanya Ciko yang sudah berdiri di ambang pintu, Nanney langsung menoleh ke belakang.


"Eh, Kak Ciko. Tidak apa-apa kan, jika aku panggil Kakak? serasa tidak sopan saja jika aku memanggilnya hanya sebutan nama."


"Terserah Nona saja, yang terpenting tidak menyulitkan Nona." Jawab Ciko sambil tersenyum. Entah kenapa, sejak sering bertemu Nanney, Ciko merasa dekat dan tidak bosan untuk memperhatikan sosok Nanney dengan segala tingkahnya.


"Terimakasih, Kakak. Aku sedang membuat sarapan pagi, bubur nasi dan ditemani sup udang. Tidak ada yang suka, ya? kalau tidak ada yang suka, katakan saja apa kesukaannya."


Bukannya menjawab pertanyaan dari Nanney, justru sejenak Ciko terdiam.


"Kak Ciko, kok diam sih?"


Ciko pun tersenyum, kemudian ia berjalan mendekati.


"Jangan kamu taburi bawang goreng. Bos Gane tidak menyukainya." Ucap Ciko.


"Kenapa? tidak suka kah? padahal aromanya enak loh."


"Namanya tidak suka, tetap tidak suka, Nona." Kata Ciko.


"Apakah ada alergi? bukankah semalam juga menikmati sup tulang iganya? lagian kalau tidak suka bawang goreng, kenapa di dapur ada bawang goreng? hem, benar-benar membingungkan." Lagi-lagi Nanney kembali bertanya.


"Itu karena aku menyukainya, Nona. Rumah ini juga aku yang menempatinya, Nona."

__ADS_1


Nanney yang mendengar jawaban dari Ciko pun, akhirnya nyengir kuda.


"Ah ya, kenapa aku jadi pelupa begini ya. Baiklah kalau begitu, terimakasih sudah memberitahuku, Kak Ciko."


"Ya Nona, sama-sama." Kata Ciko dan langsung keluar dari ruang dapur dan menuju kamarnya.


"Ciko," panggil Gane dan tentunya menghentikan langkah kaki Ciko yang hendak masuk ke kamarnya.


"Apa, Bos?" jawab Ciko sekaligus bertanya.


"Aku mau mengingatkan kamu saja, setelah perempuan sial itu menjadi istriku, aku melarang mu untuk dekat dengannya. Ingat, setiap langkahmu aku mengawasi kamu." Ucap Gane dan tidak lupa memberi peringatan kepada Ciko dengan alasannya sendiri.


"Bos Gane tenang saja, aku tidak akan melampaui batas." Jawab Ciko, dan tidak lupa juga menepuk pundaknya.


"Baguslah jika kamu paham, dan jangan pernah melarang ku untuk melakukan apa yang akan aku lakukan kepada perempuan sial itu." Ucapnya lagi dan menambahkan peringatan kepada Ciko.


Setelah Ciko masuk ke dalam kamarnya, tinggal Gane yang masih berada di ruang tamu. Saat itu juga, indra penciumannya dapat menghituo aroma yang sangat menggugah selera.


Rasa penasaran dan ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Nanney, Gane berjalan menuju dapur. Diperhatikannya sosok Nanney yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.


"Clara," panggil Gane dengan reflek dan tentunya tanpa ia sadari sebelumnya.


Nanney segera menoleh ke belakang. Bukan karena merasa dipanggil, Nanney hanya kaget mendengarkannya.


"Kak Gane, maaf." Ucap Nanney yang sadar jika dirinya belum mandi dan justru sudah berada di ruang dapur.


"Siapa yang menyuruhmu masak?" tanya Gane dengan tatapannya yang terlihat dingin.


"Tidak ada," jawabnya singkat.


"Aku menyuruhmu untuk mandi, bukan memasak. Apa kamu itu tuli, ha! sampai-sampai kau tidak mendengarkan perintah dariku."


"Bukan begitu maksud aku, Kak. Aku hanya tidak ingin mandi dua kali, itu saja."


"Apa kau bilang? kau tidak mau mandi dua kali?"

__ADS_1


"Maksud aku itu sekalian kotor, Kak. Aku tidak ada maksud apapun, serius." Jawab Nanney yang terkadang merasa ketakutan dan juga terkadang dengan beraninya.


"Mulai hari ini aku peringatkan sama kamu, aku tidak mau tahu, setiap pagi kau harus mandi sebelum melakukan aktivitas mu, ingat itu."


"I-i-ya Kak." Jawab Nanney terbata bata bercampur dengan rasa ketakutannya, sedangkan Gane justru tertawa saat mendengar jawaban dari Nanney yang terlihat ketakutan.


"Bagus, benar-benar penurut kau ini." Ucap Gane, kemudian ia langsung pergi begitu saja dari hadapan adik iparnya.


Nanney yang merasa lega atas perginya sangat kakak ipar, akhirnya ia dapat bernapas lega.


"Akhirnya aku selamat dari amukan lelaki sombong dan angkuh seperti dia, benar-benar sangat jauh perbedaannya dengan Kak Ciko. Keduanya bagai Langit dan Bumi. Kalaupun aku harus memilih, lebih baik aku memilih Kak Ciko. Sudah tampan, baik hati." Gumamnya yang tidak sadarkan diri jika Gane rupanya kembali ke dapur.


Seketika, Nanney terbelalak melihat Gane yang sudah menatapnya dengan tajam. Saat itu juga Nanney langsung mencari idenya agar bisa lepas dari tatapan yang sangat mengerikan itu. Ide apa lagi kalau bukan nyengir pasta gigi, dan tidak lupa juga mengedipkan salah satu matanya pada Gane.


CTAK!


"Aw! sakit tau, Kak." Pekik Nanney sambil mengusap keningnya yang terasa sakit akibat mendapatkan sentilan yang cukup membuatnya meringis kesakitan.


"Cepat kau ulangi lagi ucapan mu itu." Perintah Gane untuk mengulangi ucapannya, Nanney menggelengkan kepalanya sambil menunduk.


"Dasar perempuan aneh kau ini, cepat kau siapkan sarapan paginya." Perintah Gane.


"Ya, Kak." Jawab Nanney dengan singkat dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Gane yang sudah merasa gerah, segera ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat hendak membuka pintu kamarnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu utama.


Karena tidak orang lain selain dirinya yang tidak melakukan apa-apa, segera membuka pintunya.


"Permisi, Tuan. Ini pesanan dari Tuan, silakan untuk diterima." Ucapnya sambil menyodorkan beberapa paper bag pada Gane.


"Tidak ada yang salah, 'kan?" tanya Gane.


"Saya sudah memeriksanya, Tuan. Saya rasa tidak ada yang salah maupun yang tertinggal, semua sesuai pesanan dari Tuan." Jawabnya, kemudian menunduk hormat pada Gane.


"Aku percaya sama kamu, sekarang juga silakan pergi dari tempat ku ini." Kata Gane dan dengan terang-terangan pada anak buahnya untuk segera meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2