Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Menyesal


__ADS_3

Untuk mengalihkan kegusarannya, Nanney memilih pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Tiba-tiba hatinya terasa gelisah, bayangan suaminya terus menghantui pikirannya.


Sejenak Nanney duduk di tepi ranjang, pelan-pelan mengatur pernapasan nya. Kemudian, ia segera pergi ke dapur dan meninggalkan ponselnya di dalam kamar.


Ditempat lain, yakni di sebuah gedung yang dijadikan persembunyian serta tempat untuk menampung banyaknya barang-barang ilegal dari berbagai manca negara.


Gane maupun Ciko masih berjaga-jaga untuk bisa mengelabuhi banyaknya anggota polisi yang siap menangkapnya dan membawanya ke sel tahanan.


"Bos, bagaimana ini? kalau sampai kita harus menel*anjangi tubuh kita." Tanya Ciko yang kini hanya mengenakan kolor dan sepatu, tidak ada yang lainnya.


"Tenang saja, kita harus keluarkan jurus kita untuk menyerang mereka semua." Jawabnya dengan lirih.


"Baik, Bos. Kita berlawanan arah kan, Bos."


"Ya, benar. Kalau aku sudah berteriak, kau cepat menyelamatkan diri kamu. Kau ke kiri, aku kanan." Jawab Gane yang tak lupa mengingatkan Ciko ketika hendak kabur dari kepungan banyak anggota Polisi.


Gane yang sudah tidak dapat menahan emosinya, ingin rasanya segera mengeluarkan senjata miliknya dan menghempaskan banyak peluru pada lawannya yang kini sudah siap menyerangnya.


Ciko maupun Gane masih saling membelakangi, keduanya tengah mencari celah untuk bisa melepaskan diri dari kepungan banyaknya anggota Polisi.


Dengan berani, dua anggota Polisi berjalan mendekati Gane dan Ciko. Tetap saja, keduanya masih menodongkan pistolnya pada kedua tersangka yang ada di hadapan nya itu.


Gane yang sudah mendapatkan ide, ia mulai memainkan kedua kakinya seraya untuk meninggalkan tempat terkutuk itu, pikirnya.


"Ciko!" teriak Gane memanggil nama Ciko dan berlari berlawanan arah menuju pintu yang sudah diincar nya saat keduanya memperhatikan keadaan disekitar.


Dengan larinya bak kilat menyambar, Gane dan Ciko terpaksa menyerang beberapa anggota Polisi dan akhirnya dapat keluar dari markasnya sendiri.


Gane maupun Ciko berlari dengan sangat kencang, keduanya sama-sama melepaskan pelatuknya untuk mengimbangi tembakan dari banyaknya anggota polisi.

__ADS_1


"Bos, lewat sini Bos." Ajak Ciko sambil berlari dengan jarak yang tidak begitu jauh. Gane mengikuti Ciko dari belakang hanya mengenakan kolor dan sepatu yang menjadi pelindung kakinya agar tidak tersandung dan lain sebagainya.


Merasa konyol dengan kondisinya masing-masing. Namun, mau bagaimana lagi, keduanya tidak mempunyai cara lain selain mengikuti apa yang diperintahkan oleh Polisi.


Dengan napas yang terengah-engah, kedua terus berlari untuk menghindari kejaran dari banyaknya anggota Polisi.


Cukup luas kebun karet yang dilewatinya dimalam hari, tetap saja sorotan cahaya tetap bisa menangkap sosok Gane dan Ciko berlarian di tengah-tengah kebon karet dan dapat dipantau oleh Polisi yang mengejar mereka berdua.


Tidak hanya dengan satu arah untuk mengejar buronannya, tetapi mengepungnya dari arah manapun.


"Cik, cepat naik ke pohon rindang itu. Biar aku saja yang akan lari, cepat." Perintah Gane pada Ciko yang tidak lagi mempunyai cara lain selain mengorbankan diri sendiri.


"Tidak, Bos. Kita harus sama-sama melawan mereka. Aku tidak mau kita berpencar, Bos. Jika Bos Gane ketangkap, aku pun juga ikutan ketangkap." Jawab Ciko yang kini tidak bisa untuk berpisah, dari kecil keduanya telah bersama bak kakak beradik.


"Kamu jangan ngeyel, Cik. Ikuti saja saran dariku, aku siap jika aku yang akan tertangkap. Kita tidak punya cara lain selain mengorbankan salah satu." Ucap Gane yang terus mendesak Ciko untuk menerima perintah darinya.


"Bos, biar aku saja yang lari. Bos Gane yang memanjat pohonnya, ada istri yang membutuhkan mu, Bos." Jawab Ciko yang tidak bisa memisahkan Bosnya dengan istrinya.


Ciko yang ingat akan tujuan Gane, dengan terpaksa mengikuti rencananya.


"Baik, Bos. Aku akan turuti rencana darimu, aku akan memanjat pohon ini. Semoga kita berdua selamat dari kejaran polisi." Jawab Ciko dan mengangguk pelan.


Gane yang mulai mendengar suara tembak, ia langsung berlari sangat kencang.


"Berhenti!"


DOR


Sebuah peluru terhempas begitu saja, Gane dapat menghindarinya. Saat itu juga, Gane sudah di kepung kembali oleh banyaknya anggota polisi.

__ADS_1


Napasnya yang terasa panas dan otaknya terasa mendidih, ingin rasanya menembak satu persatu yang ada sekelilingnya.


Gane yang sudah hilang kendali dan ingatannya terus memikirkan istrinya, tidak peduli jika nyawanya yang menjadi taruhannya.


Tanpa pikir panjang, Gane nekad kabur dari kepungan polisi dengan cara yang sangat lihai dan berlari sangat kencang bak kilat yang menyambar.


DOR


"Aaaaaaa!" teriak Gane saat bagian kaki sebelah kirinya tertembak dan menjatuhkan diri karena rasa sakit yang benar-benar tidak tertahan lagi. Sakit dan panas, itu sudah pasti.


Tidak peduli dengan luka pada kakinya, Gane mencoba untuk kembali bangkit. Naas, tangan Gane sudah diborgol oleh polisi dan menariknya dengan paksa sampai di jalanan.


Gane terus menahan rasa sakit pada bagian kakinya, sebisa mungkin untuk tetap kuat ketika menahan rasa sakit serta panas. Gane benar-benar tidak berdaya.


Ciko yang dapat memantau di atas pohon, dirinya benar-benar sangat bersedih dan tidak disangkanya jika ia meneteskan air mata.


Perpisahan yang begitu menyakitkan melebihi rasanya berpisah dengan kekasih. Napasnya terasa panas dan juga sesak. Ciko berulang kali menampar kedua pipinya yang merasa sangat bersalah besar atas perbuatannya yang tidak dapat menolong Bosnya sebagaimana pesan dari orang tuanya Gane, yakni Tuan Riko Huttama.


Setelah tidak ada lagi polisi disekitaran kebon karet, Ciko segera turun dari pohon hanya mengenakan celana kolor tanpa adanya baju.


Sambil berjalan menyusuri jalanan panjang menuju rumahnya dimalam hari, Ciko tidak peduli dengan nasib buruk yang akan menimpanya yang kedua kali.


Agar dapat menghilangkan jejak, mau tidak mau Ciko terpaksa melakukan sebuah penyamaran agar dirinya tidak dikenali oleh banyak orang.


Tidak ada cara lain selain menjadi orang gila, Ciko terpaksa melakukannya bak orang gila pada umumnya. Ciko mengacak rambutnya dan mengoles dengan debu pada area wajahnya, tidak lupa juga membuang sepatunya dan memilih berjalan tanpa alas kaki.


"Mimpi apa kemarin, kini aku sudah seperti orang gelandangan bak orang gila sungguhan." Gumam Ciko setelah mengusap debu pada bagian wajahnya yang kini penampilannya tidak jauh beda dengan orang gila sungguhan.


Sedangkan dalam mobil, Gane masih menahan rasa sakit akibat peluru yang masuk di bagian kakinya.

__ADS_1


Sambil bersandar di jendela kaca mobil, Gane mulai memikirkan keadaan istrinya yang kini hanya seorang diri dalam rumah. Menyesal, tiada guna lagi baginya untuk menyesal, semua sudah terlambat, pikirnya. Tanpa Gane sadari, ia meneteskan air matanya.


__ADS_2